Berhentilah Berpura-pura Jadi Tuhan

  • Whatsapp
Kera Sakti Jadi Tuhan

DULU Hanung Bramantyo pernah mempertanyakan: haruskah sesama kita berkonflik? Hanung merilis film Tanda Tanya, 7 April 2011, mengetengahkan bahwa perbedaan budaya dan keyakinan itu fakta objektif,. Sehingga, apa perlunya bersitegang atas nama perbedaan keyakinan. Toh kenyataan di negeri ini memang majemuk. Kita tidak bisa menampiknya.

Entahlah, terus terang saya pun tak habis pikir, kenapa perbedaan etnis dan keyakinan masih terus-terusan menjadi isu sensitif. Kenapa masih kerap mengundang konflik dan protes dari, terutama, umat Islam. Padahal di negeri ini, Islam adalah agama mayoritas. Padahal secara doktrin, Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Padahal setiap kali melakukan tindakan, umat harus mengatasnamakan Tuhan yang penuh welas asih dan penyayang. Padahal pula, Nabi Muhammad Saw. jelas-jelas mensuriteladankan pola pikir dan pola tindak yang mengedepankan budi luhur.

Dalam Tanda Tanya, Bramantyo menyuguhkan Tan Kat Sun, seorang Konghucu dan pemilik restoran masakan Cina, yang benar-benar sadar lingkungan. Mayoritas pelanggannya adalah muslim, sehingga cara masak dan peralatan masak dipisah secara tajam antara yang halal dan haram.

Soleh, seorang Islam taat tapi pengangguran, gundah akan keadaan dirinya, lantaran Menuk,  istrinya, bekerja di restoran Tan Kat Sun. Menuk, perempuan berjilbab yang diperankan oleh Revalina S. Temat, itu praktis menjadi tiang keluarga. Namun, Menuk tak secuil pun mempersoalkan keadaan Soleh yang menganggur, karena yang lebih utama menurutnya, si suami ini muslim.

Lalu ada Rika, janda berputra satu, atas kesadarannya belajar agama Katolik dan akhirnya dibaptis. Sementara putra semata wayangnya, Abi, tetap didorong memperdalam Islam di masjid setempat. Rika bersahabat karib dengan Surya, seorang aktor muslim amatir yang saking tak punya uang kerap menginap di masjid. Dan, berkat Rika, Surya mendapatkan peran sebagai Yesus dalam sebuah acara Natal.

Hanung menggambarkan Tan Kat Sun sebagai Konghucu toleran. Sun tak mengizinkan peralatan untuk mempersiapkan daging babi digunakan buat hidangan lainnya. Sun juga memberikan kelonggaran waktu bagi staff muslimnya untuk salat, serta memberikan jatah liburan selama Idul Fitri.

Namun, kondisi tua yang tak bisa ditawar-tawar lagi, Tan Kat Sun pun jatuh sakit, dan restoran diambil alih oleh Hendra, anaknya. Hendra, diperankan oleh Rio Dewanto, memiliki pandangan yang berseberangan dengan sang ayah. Ia  memutuskan hanya akan melayani secara eksklusif masakan daging babi dan mengasingkan pelanggan muslim.

Soleh, yang diperankan oleh Reza Rahadian, gundah dengan ketaatan Menuk pada sang majikan, Hendra, yang menurutnya lebih menonjolkan etnis dan anti Islam. Soleh menganggap keputusan Hendra yang mencoret waktu istirahat untuk salat, dan bahkan tetap buka restoran pada bulan puasa serta menghapus liburan Idul Fitri, adalah wujud pelecehan pada Islam.

Soleh pun marah, sekaligus cemburu akan ketaatan Menuk pada Hendra. Kemudian bersama teman-temannya, Soleh merusak restoran dan mengakibatkan Tan Kat Sun meninggal.

Menuk syok oleh kecupetan dan anarkistis sang suami. Soleh pun merasa bersalah. Akhirnya, ia, yang telah bergabung di Banser NU, turut dalam keamanan gereja. Malahan ikut menjadi korban, tatkala rakitan bom yang ia temu di bawah salah satu kursi jemaat gereja, ia bawa lari dan meledak di luar gereja bersama tubuhnya.

Nah, lain Tanda Tanya lain PK. Film Bollywood garapan Rajkumar Hirani, 2015, berkisah tentang alien, PK sebutannya, yang terdampar di bumi. PK tidak (lagi) mempersoalkan isu konflik agama dan etnis, tetapi mengkritik fungsi agama itu sendiri, yakni masihkah berupaya humanisasi, masihkah berkesadaran Tuhan.

“Kita semua anak-anak Tuhan kan? Lalu, ayah macam apa yang selalu menuntut anaknya untuk memberinya susu dan memujanya?” tanya PK, yang diperankan oleh Aamir Khan.

“Jika demikian, maka apa yang akan Tuhan katakan?” timpal Jaggu, yang diperankan oleh Anushka Sharma.

“Aku yakin Dia akan bilang, ‘setiap hari, jutaan anak kelaparan di Delhi. Kenapa meninggalkan mereka dan memburu-Ku? Jagalah mereka! Biarkan mereka yang meminum susu, bukan Aku.’” jawab PK.

Menurut PK beragama sedianya bersentuhan dengan keseharian yang sepele, lumrah, dan wajar. Beragama ialah berkoeksistensi dengan sesama umat manusia. Menyapa yang tersisih, yang marjinal, dan minim perhatian. Menyatu rasa dengan penuh empati. Singkatnya saling mengulur nilai kebajikan. Merawat nilai fitrah manusiawi yang sebetulnya lahir seiring kelahiran manusia itu sendiri.

Sekira tak demikian, Aamir Khan menyebutnya “salah sambung” kepada umat yang hanya khusyuk beritual dan demen menghitung-hitung pahala. PK hadir membongkar kesalahpahaman tersebut. PK mengkritik Tapasvi Maharaj, lelaki bertubuh tambun, yang sukses memanfaatkan ketakutan banyak orang atas orientasi hidup, dan berhasil mengecoh mereka untuk mengalihkan harta pada penggelembungan kantong pribadinya. PK memprotes bahwa bertuhan yang sesungguhnya adalah berlaku welas kepada yang berkekurangan, bukan malah mengumbar ketakutan mereka.

Dari situlah saya menemu titik terang, baik dari Tanda Tanya maupun PK, sesungguhnya bertuhan sama dengan kebahagiaan buat setiap orang, bahkan segenap makhluk. Tuhan itu penuh kasih. Dan Sang Pemberi rahmat.  

Bahkan Rajkumar menandaskan ada dua Tuhan. Pertama, yang menciptakan kita semua. Dan yang kedua, tuhan yang diciptakan oleh orang macam Tapasvi. Kita tak pernah tahu soal Tuhan yang menciptakan. Tapi tuhan yang dicipta oleh para pembohong adalah tuhan yang suka berpura-pura. Tuhan yang memberi harapan palsu. Dan, tuhan yang menuntut kita menghormati orang kaya, seraya mengabaikan rakyat miskin.

“Dan, kau bilang akan melindungi Tuhan sang pencipta itu! Bisakah? Betapa dunia ini sangat kecil dibandingkan alam semesta. Dan kau dengan duduk di dunia kecil ini, tempat kecil ini, ingin melindungi Tuhan yang mencipta alam semesta? Camkan ini, Dia tak butuh perlindunganmu. Dia bisa melindungi diri-Nya sendiri. Dia tak butuh pembelaanmu, tak butuh penghormatanmu!” ungkap PK.

Aha, kata-kata terakhir PK ini langsung melayangkan pikiran saya, ya, sepertinya Nabi Muhammad Saw. pun tidak butuh pembelaan dari kita, tak butuh penghormatan kita. Bukankah beliau pribadi luhur yang sedemikian terhormat! Beliau kekasih Tuhan. Dan, Tuhan memuji beliau selaku pribadi agung. Maka, berhentilah berpura-pura jadi Tuhan!

Ungaran, 01 November 2020

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait