INFORMASI yang tersampaikan secara tepat memiliki peran penting dalam komunikasi orang tua dengan anak. Bahkan dibutuhkan sejak anak masih bayi atau belum bisa mengucapkan kata dan kalimat secara jelas. Komunikasi bukan saja menyangkut penyampaian informasi atau pesan. Melainkan sebagai bagian dari proses belajar agar mereka makin pintar.
Keluarga kami membiasakan berkomunikasi menggunakan bahasa yang cukup baku. Kami memakai bahasa Indonesia berupa kalimat yang relatif utuh dan berupaya mengikuti tata bahasa yang benar. Tentu masih dalam konteks bahasa lisan atau percakapan.
Sepintas tampak cukup sulit dan merepotkan. Sekurangnya terasa agak berlebihan. Terutama jika orang tua yang bersangkutan memang kurang terbiasa melakukan hal demikian dalam cara berkomunikasi sehari-harinya. Padahal, kaidah dasarnya hanya berupa pembiasaan memakai kalimat yang cukup lengkap.
Saya dan suami bukan lah ahli bahasa, dan hanya sekadar tahu kaidah SPOK dalam menyusun kalimat. Kalimat SPOK merupakan rangkaian kata yang mengandung subjek (S), predikat (P), Objek (O), dan keterangan (K). Dan yang lebih penting berupaya mempraktikannya ketika berkomunikasi dengan anak.
Tentu saja tidak semua ucapan orang tua harus memakai kalimat SPOK. Lebih tepat jika disebut berupaya bertutur dengan kalimat efektif dalam berkomunikasi dengan anak sejak mereka masih kecil. Sekurangnya menggunakan kalimat yang mengandung subjek dan predikat.
Kalimat efektif antara lain dicirikan oleh penggunaan kata atau diksi yang tepat, serta cukup sesuai dengan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia. Ciri lain yang sangat relevan dalam konteks komunikasi dengan anak adalah mengandung pesan atau ide pokok yang jelas.
Sebagai contoh sederhana, keluarga kami nyaris tidak pernah memakai kalimat, “Lagi ngapain?“ Ataupun kalimat yang hanya terdiri dari satu kata. Kami memilih kalimat seperti: “Sedang apa, Nak?” Terkadang menyebut namanya atau panggilan sayang.
Kami tidak memakai, “Bangun! Bangun! Sudah siang!” Kami biasa mengatakan, “Akram, ayo bangun. Sudah jam 5 lewat, lho!” Penggunaan kalimat efektif yang sedikit lebih lengkap umumnya juga terasa lebih persuasif. Tidak tampak bersifat perintah ataupun terkesan orang tua yang galak.
Kalimat dalam bahasa lisan yang terdiri dari satu kata berupa predikat atau keterangan saja pada umumnya memang terkesan lebih tegas. Jika kata itu merupakan predikat, maka nada perintah sangat terasa. Anak akan cenderung menerimanya sebagai pesan yang kurang ramah.
Pemakaian kalimat yang lebih utuh dan baku juga bermanfaat melunakan pesan teguran. Orang tua tentu saja tetap boleh memberi teguran yang tegas, bahkan pesan sedang marah jika dibutuhkan. Namun akan tertangkap lebih lunak atau ramah. Sekurangnya tidak terdengar kasar, yang akan menjadi contoh buruk bagi mereka.
*******
Kalimat efektif dalam bahasa lisan maupun tulisan pada umumnya butuh pengunaan banyak kosa kata atau diksi. Pengayaan kosa kata dalam komunikasi dengan anak memiliki tambahan kegunaan. Akan membantu pengembangan pemikiran atau penalarannya.
Anak sebaiknya dikenalkan kosa kata yang beragam sejak dini. Tentu tetap menimbang aspek proses yang bersesuaian dengan usia dan kemampuan masing-masing anak. Pada prinsipnya, makin banyak kosa kata yang mereka ketahui, akan makin baik.
Menambah perbendaharaan kata anak bisa dilakukan dengan cara yang mudah dan sederhana. Antara lain orang tua rajin mengenalkan nama-nama benda yang tampak di sekitar. Baik ketika berada di rumah, perjalanan, maupun di lokasi lainnya. Kami sering menggunakan kesempatan menjawab pertanyaan mereka untuk mengenalkan kosa kata baru.
Sarana pengembangan kosa kata yang sangat baik tentu saja berupa bahan atau buku bacaan anak. Hal itu perlu dilakukan jauh sebelum mereka bisa membaca, yaitu dengan cara dibacakan.
Teknik lain menambah perbendaharaan kata anak yang mudah dan menarik adalah mengenalkan sinonim atau kata-kata yang berarti sama. Tidak perlu ragu memakai kata yang kurang lazim dipakai dalam percakapan sehari-hari. Tentu saja sedapat mungkin orang tua memeriksanya sebagai kata yang dibenarkan oleh pedoman bahasa Indonesia.
Saya masih ingat beberapa contoh sinonim yang dikenalkan kepada anak-anak ketika mereka belum bisa membaca. Diantaranya: bercanda, bersenda gurau, bercengkrama; bertamu, berkunjung, bertandang; tempat tidur, ranjang, peraduan; kental, pekat; encer, cair; capek, lelah, letih.
Kebetulan, suami saya rajin dan senang mempraktikan pengenalan kosa kata yang beragam dalam perbincangan sehari-hari. Kadang, ada kosa kata yang bahkan saya sendiri baru mendengarnya.
*******
Banyak pengalaman menarik kami alami tentang dampak dari proses pengenalan kosa kata beragam ini. Aya saat masih kelas 2 SMP belajar membatik di sekolah, salah seorang kawan yang sudah lebih menguasai menjelaskan, “Untuk memanaskan malam, pakai api (kompor) sampai merah banget.” Aya berkomentar, “Ooo, sampai membara, ya?” Temannya tampak terperangah dengan pemakaian kosa kata itu yang jarang didengarnya.
Aya beberapa kali bercerita tentang seringnya pemilihan kata dia cukup mengejutkan kawannya. Dia memakai kata seperti signifikan, interpretasi, dan kata lain yang masih jarang dipakai di usia mereka.
Tentu saja dampak demikian bukan lah tujuan. Tidak baik juga jika orientasi mengenalkan kosa kata kepada anak agar tampak “keren”. Bahkan ada peristiwa yang terkesan lucu ketika teman Aya mengomentari dia kok berbincang formal sekali.
Beberapa kawan anak kami yang ke rumah pun sempat mengungkapkan kesan demikian. Menilai keluarga kami berbincang solah sedang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia.
Bagaimanapun, jurus berkomunikasi dengan teknik seperti disampaikan di atas membuat orang tua juga harus terus belajar. Abahnya membeli banyak kamus dan ensiklopedia. Termasuk kamus besar bahasa Indonesia. Saat ini tentu menjadi lebih mudah bagi orang tua dengan mudahnya mengakses internet. [rif]

