Scroll untuk baca artikel
Blog

Berkomunikasi Secara Baik Dengan Anak (Bagian Tiga)

Redaksi
×

Berkomunikasi Secara Baik Dengan Anak (Bagian Tiga)

Sebarkan artikel ini

KOMUNIKASI yang baik antara lain bercirikan proses dialogis. Komunikasi bersifat interaksi dari dua arah, seperti antara orang tua dengan anak. Bahkan, sejak anak berusia sangat muda atau baru bisa bicara beberapa kata. Urgensinya bertambah ketika usia mereka beranjak remaja.

Banyak keluarga di Indonesia terbiasa komunikasi searah. Orang tua sering lebih banyak bicara dibanding anak. Kontennya memang sepintas tampak baik, seperti: menasehati, melarang, dan mengarahkan. Namun tidak cukup dialogis. Anak hanya sedikit diberi kesempatan berbicara untuk memberi informasi atau menyampaikan pendapatnya.

Komunikasi demikian dapat berlangsung bertahun-tahun. Orang tua sering terlambat menyadari bahwa anak beranjak remaja, bahkan mulai dewasa. Anak tumbuh dalam suasana psikologis merasa tidak didengar dan kurang dihargai. Dampaknya akan cukup besar bagi kepribadian mereka, dan bisa dipastikan bersifat buruk.

Komunikasi yang dialogis sebenarnya bukan hal sulit dilakukan, namun membutuhkan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua lah yang harus memulai dan terus menciptakan suasana kondusif. Langkah utama justeru bukan dengan banyak berbicara, melainkan rajin mendengarkan.

Orang tua perlu mendengarkan anak sejak mereka baru bisa mengucapkan beberapa kata. Bahkan, ketika bicaranya belum terlampau jelas. Bukan asal mendengarkan, melainkan secara sungguh-sungguh berusaha memahami maksud anak.

Bagian tulisan terdahulu menyarankan orang tua berlatih menterjemahkan secara bebas bicara anak yang masih belum berupa kata atau kalimat utuh. Pada saat mereka sudah mulai banyak bertanya, orang tua mesti rajin menjawabnya. Bahkan, tak segan untuk menanggapi pernyataannya.

Pada saat bersamaan, orang tua perlu sering bertanya kepada anak. Pertanyaan yang disampaikan secara jelas dan kadang diulang-ulang. Pertanyaan yang memancing anak untuk bercerita. Pada usia tertentu akan tampak memberi kesempatan anak menyampaikan pendapatnya.

Kami terbiasa melibatkan anak sejak kecil dalam banyak pembicaraan tentang aktivitas keluarga. Misalnya ketika mau pergi jalan-jalan bersama. Perbincangan ringan tentang tujuan, sarana transportasi dan prakiraan waktu perjalanan.

Komunikasi dialogis yang dibiasakan sejak dini, akan mendorong anak mengembangkan dirinya. Semua anak yang memang sudah terlahir pintar, akan terdorong menjadi makin pintar.

*******

Komunikasi dialogis tidak berarti orang tua dilarang memberi nasihat ataupun perintah. Namun hal itu berlangsung dalam kondisi percakapan yang memberi kesempatan kepada anak tanpa rasa takut menyampaikan pikirannya. Nasihat dan perintah orang tua perlu dimengerti alasannya oleh mereka.

Komunikasi dialogis juga bercirikan isi pembicaraan yang logis. Tentu saja makna logis di sini bersifat umum, yakni bisa diterima akal sehat atau dapat dinalar. Selalu diupayakan ada alasan yang cukup jelas tentang suatu masalah. Termasuk dalam nasihat, perintah dan larangan orang tua.

Ira kecil pernah heran dan tampak iri pada anak tetangga yang jauh lebih besar dari dirinya. “Kok masnya boleh main air hujan? Ira kok nggak boleh?” tanyanya. Saya jawab, “Ira masih kecil. Badannya belum kuat kena air hujan yang lama. Masih mudah pilek.” Oleh karena dia ingat pernah pilek yang rasanya sangat tidak nyaman, dia pun tampak menerima dilarang main hujan.

Meski demikian, perbincangan belum berakhir. Ira masih bertanya, “Masnya nggak mudah pilek ya, Mi?” Saya sahuti, “Ya, badannya sudah lebih kuat.” Setelah diam sebentar, Ira masih berkata, “Kalau sudah besar seperti masnya boleh ya, Mi?” Tidak ada pilihan bagi saya, selain mengiyakan, “Ya, asal badanmu sedang sehat.” 

Kebetulan pada lain kesempatan, saya sempat mendengar percakapan anak kecil yang lebih tua sedikit dari Ira, yang dilarang juga main hujan. Ibunya mengatakan, “Nggak boleh! “Ketika anak itu merengek masih meminta, dijawab “Pokoknya nggak boleh!” Komunikasi yang terasa tidak memberi kesempatan anak berbincang dan bernalar lebih lanjut.  

Pengalaman keluarga kami, anak-anak yang terbiasa dilatih berpikir logis justeru lebih mudah menerima larangan. Tentu saja, tidak selalu terjadi kesamaan pendapat atau keinginan. Namun, jika ada perbedaan, perbincangan akan berlanjut dan bermuara pada pembelajaran bagi kedua belah pihak.

*******

Perbedaan pandangan antara orang tua dan anak biasanya bertambah cukup banyak saat usia mereka beranjak remaja. Kebiasaan berkomunikasi dialogis sejak mereka masih kecil biasanya sangat membantu proses menyamakan atau sekurangnya berkompromi.  

Ada satu kisah dialog cukup panjang dan sempat berlanjut dalam berbagai kesempatan selama kurun waktu yang panjang antara kami dengan Ira. Sepulang mengikuti olimpiade bidang kimia (International Chemistry Olympiad) tingkat SMA di Jepang, Ira menyampaikan keinginan berkuliah di Universitas Tokyo. Sewaktu mengikuti lomba, ada kakak kelasnya yang telah berkuliah mengajak untuk kuliah di universitas tersebut.

Ira menyampaikan keinginannya kepada abahnya dalam perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogja seusai lomba yang memberinya medali perak tersebut. Abahnya secara persuasif mengatakan nanti dibicarakan bersama di rumah. Saya diceritakan tentang kejadian itu.

Setelah beberapa hari di rumah dan menilai capeknya sudah hilang, baru lah saya ajak berbincang. Tentu saja setelah saya dan abahnya diskusi dan bersepakat terlebih dahulu. Perbincangan mulai tentang pengalaman dia selama di Jepang. Saya lebih banyak menyimak sambil sesekali bertanya tentang hal tertentu.

Sampai pada akhirnya, saya tanya, “Kata abah, Ira ingin kuliah di Jepang? Jurusan apa yang diinginkan?” Ira menjelaskan, “Aku mau ambil Teknik Kimia, Mi. Menurut informasi, Jepang dan Jerman yang terbaik dengan spesialisasi masing-masing.”

“Sejak bisa memilih sekolah, SMP dan SMA, aku selalu memilih yang menurutku terbaik. Universitas Tokyo selain terbaik di Jepang, ada kakak-kakak kelas yang akan membantu beradaptasi di sana.” Ira menambahkan alasannya.

Perbincangan berlanjut dengan kesempatan saya menyampaikan pendapat kami sebagai orangtua. “Ummi dan abah berharap Ira kuliah di Indonesia saja lebih dahulu. Nanti boleh melanjutkan S2 nya di Luar Negeri.” Kata saya.

Saya lanjutkan dengan penjelasan tentang alasannya adalah karena sejak SMP dan SMA, sebagian besar waktu Ira untuk kegiatan Olimpiade. Hal itu sebagai konsekwensi dari Ira yang tiap tahun ikut olimpiade sain hingga tingkat nasional, dan tiga kali pada tingkat internasional. Sekolah melarangnya mengikuti kegiatan lain yang dianggap menyita banyak waktu. Ditambah dengan masa pembinaan pada tingkat kota, provinsi dan nasional yang berhari-hari hingga beberapa bulan.

Saya dan abahnya menilai Ira sangat kurang kesempatan dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang, selain komunitas olimpiade. Di lingkungan rumah pun tidak sempat meikuti kegiatan remaja. Penjelasan kemudian bermuara pada cita-cita Ira sendiri yang beberapa kali diungkapkan.

“Bukankah Ira ingin jadi orang yang berkontribusi besar dalam pendidikan dan kurikulum sekolah di Indonesia. Untuk mewujudkan itu secara baik, Ira harus mengenal Indonesia. Bagaimana kehidupan masyarakatnya serta apa yang mereka butuhkan. Ira yang sekarang masih kurang mengenalnya,” kata saya.

Secara persuasif saya menyampaikan agar Ira memikirkannya lebih dahulu. Selama beberapa hari tidak ada perbincangan tentang kuliah lagi. Sampai kemudian dia menyampaikan persetujuannya untuk kuliah di dalam negeri saja. Dia memilih nantinya akan kuliah di Teknik Kimia ITB.

Sebenarnya saya berharap dia mau kuliah di Teknik Kimia UGM saja. Bagaimanapun, sebagai ibu saya lebih senang jika anak gadisnya berkuliah di kota domisili kami saja, yaitu Yogjakarta. Apalagi sewaktu try out yang diselenggarakan Teknik Kimia UGM, Ira menjadi juara satu.

Bagaimanapun, saya merasa Ira sudah menunjukkan pengertiannya akan keinginan kami. Sebagai orangtua, kami juga harus memperlihatkan penghargaan atas pilihannya. Dan setahun kemudian, Ira berkuliah di Teknik Kimia ITB. Empat tahun setelahnya melanjutkan S2 di UNSW Australia. [rif]