Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Dari Sebuah Diskusi: Menegakkan Habit of Obedience

Redaksi
×

Dari Sebuah Diskusi: Menegakkan Habit of Obedience

Sebarkan artikel ini

Lagian begini, kalau kita melongok lebih jauh pokok keberhasilan pendidikan ala Charlotte itu memang tak semata wilayah kognitif. Bukan sekadar penguasaan pengetahuan empiris, melainkan pembenahan karakter seperti kalau dipanggil langsung datang, diperintah langsung menunaikan. Benar-benar tumbuh prinsip memperhatikan dan ketaatan yang tegak dalam diri anak.

Untuk ranah kognitif, Charlotte mengingatkan, “Engkau bisa menuntun kudamu ke air, tapi tak bisa memaksanya minum; Engkau bisa menyodorkan banyak buku ke anak, tapi yang mana yang akan ‘klik’ di benak anak, bukan lagi wewenangmu.”

Sebuah peneguhan bahwa kewajiban orangtua, selain menyiangi kebiasan-kebiasaan buruk anak, ialah menghadirkan buku-buku berkualitas sebanyak dan seberagam mungkin. Lantas kita jeli saat mana anak mulai tampak lelah dibacakan buku, saat kapan bersemangat menarasi, dan seterusnya.

Sehingga, kita kudu berpegang teguh pada prinsip short lessons. Bahwa jam belajar anak harus berlangsung singkat. Lagi, tidak bertarget harus menyelesaikan tiap bacaan sampai sekian halaman dalam sekian waktu. Karena tiap anak melaju dengan kecepatannya sendiri. Tiap anak berbeda, termasuk dalam menentukan “momentum” atas ide yang bakal jadi miliknya.

Minat dan Bakat

Pertanyaan menarik lagi dari Ellen, “Apakah dengan minat dan bakat, lantas kebutuhan budi anak terpenuhi?”

Nah, itu! Semula saya, sebagaimana juga melanda umumnya para orangtua, menganut mazhab minat-bakat. Saya sempat tersibukkan meneropong minat dan bakat anak. Saya berangan akan mengawal anak menjadi seorang atlet. Pernah pula berencana untuk mendekatkannya pada seorang animator, karena terbersit buah hati saya itu sedemikian gandrung pada animasi.

Saya sempat beranggapan bahwa makin dini memahami minat dan bakat anak, kian jelas pula nasib masa depannya. Seolah kita bakal menyelamatkan roda nasib anak dengan menggiringnya ke kancah industri “minat dan bakat”. Padahal, menurut Charlotte, pengetahuan teknis itu tidak memberi makan budi. Budi itu spiritual. Dan nutrisi budi adalah ide-ide. Anak terlahir dengan rasa lapar alamiah terhadap pengetahuan yang bermuatan pemikiran.

Namun, bukan berarti yang teknis itu tak perlu. Maka, solusi yang ditawarkan Charlotte adalah short lessons. Menghidangkan ide-ide dalam jam belajar yang pendek, dan dijalani secara teratur. Tidak asal-asalan. Persis sebagaimana kita makan, supaya sehat, mesti teratur dan memenuhi standar kualitas gizi. Sehingga dalam tubuh yang sehat, niscaya terbuka kesempatan untuk bisa melakukan hal-hal baik. Demikian pula, dalam jiwa yang sehat, akan gampang mengakses pengetahuan teknis. Menekuni keterampilan di luar pelajaran, berolahraga, atau hobi-hobi dan kegiatan positif lainnya.