Di Momen Hari Ayah, Chozin Ajak Para Orang Tua Ciptakan Momen Spesial Bersama Anak

  • Whatsapp

Barisan.co – Di bulan November ini, tepatnya tanggal 10 kemarin dikenal sebagai Hari Pahlawan. Makna kata “pahlawan” tak lagi hanya diasosiasikan dengan perjuangan dalam peperangan di jaman kolonialisme. Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai perjuangan kepahlawanan dapat tercermin dari seseorang dalam kehidupan sehari-harinya.

Menurut Ketua Gerakan Turun Tangan Muhammad Chozin Amirullah, orang-orang yang memperjuangkan idealismenya adalah pahlawan. Saat ditanya siapa sosok pahlawan terhebat dalam hidupnya, ia menjawab kedua orang tuanya.

Bacaan Lainnya

“Jadi, orang tua saya bukan orang mampu. Namun mereka berjuang untuk keluarga dan juga masyarakat di kampung. Jaman orde baru, bapak saya mendirikan pesantren. Kala itu rezim cukup represif, tetapi bapak saya itu menolak untuk kooperatif. Ia tetap menempuh jalur independent guna memajukan pendidikan,” tutur Chozin, Kamis (12/11).

Bertepatan juga dengan Hari Ayah Nasional yang jatuh pada tanggal 12 November ini, ia menyampaikan bahwa sebagai kepala keluarga, ayah juga berperan sebagai orang tua. Keliru jika ada yang berpikir bahwa tugas ayah hanya perlu mencari nafkah.

“Saat anak-anak masih kecil, kita sebaiknya meluangkan waktu untuk mereka. Karena ketika masih kecil itulah, memori mereka masih segar untuk diisi oleh kenangan bersama orangtua. Sehingga setelah sudah besar, mereka akan mengenang momen-momen itu,”

Pria kelahiran Pekalongan ini menyadari bahwa pendidikan anak itu dimulai dari keluarga.

“Keluarga itu kan isinya ayah, ibu, dan anak. Orang tua itu ayah dan ibu. Jadi yang perlu mendidik itu kedua orang tua, bukan satu pihak saja. Salah satu hak anak itu mendapatkan pendidikan, dan pendidikan itu dimulainya dari rumah,” katanya.

Di sela-sela aktivitasnya sebagai Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chozin tak lupa selalu menyempatkan berkomunikasi dengan anak-anaknya.

“Komunikasi itu penting. Dari dulu, saya selalu menyempatkan waktu menghubungi anak-anak. Apapun kami bicarakan. Apalagi sekarang teknologi sudah canggih. Sudah bisa tatap muka jarak jauh dengan video call. Jadi, kita harus memanfaatkan itu untuk tetap menjalin hubungan antara Ayah dan anak,” ujarnya.

Pria yang pernah merasakan pendidikan di pesantren ini bercerita bahwa tak banyak waktu yang dihabiskan dengan bapaknya karena beliau meninggal saat Chozin masih amat kecil.

“Beliau meninggal sebelum saya mulai sekolah. Jadi wajahnya tak jelas saya ingat. Teknologi ngga seperti sekarang. Jadi ngga ada satupun foto yang tersimpan,” tambahnya.

Chozin lebih mengenal sosok bapaknya dari cerita-cerita mantan murid (santri) dan orang-orang di kampungnya. Karena keluhuran budi, keteguhan prinsip, perangai yang baik, dan konsisten memberantas kebodohan disana, nama bapaknya.

Sang bapak, kenang Chozin, sangat menyukai anak kecil dan bangga jika dapat mendidiknya. Hal inilah yang menginspirasinya saat menjadi orangtua, ia ingin mengikuti jejak bapaknya tersebut.

“Jadi, justru saya mengetahui sifat-sifat bapak saya dari cerita orang lain. Makanya sekarang saya ingin anak-anak merasakan kehadiran saya. Walaupun di tengah kesibukan, saya ingin memastikan bahwa saya selalu hadir di hati mereka. Karena itu saya sedini mungkin menciptakan momen bersama dengan mereka,” tutup Chozin. [rif]

Pos terkait