Fokus

Ekonomi Terpuruk, Rakyat Myanmar Berbondong Tanam Opium

Avatar
×

Ekonomi Terpuruk, Rakyat Myanmar Berbondong Tanam Opium

Sebarkan artikel ini
Opium Myanmar
Ilustrasi: AFP/Ye Aung Thu.

Opium secara ironis berkontribusi menyumbang 3 persen terhadap PDB Myanmar.

BARISAN.CO Dalam dua tahun terakhir, kemiskinan dan tingkat pengangguran yang tinggi membuat masyarakat Myanmar ramai-ramai menanam opium di wilayah Segitiga Emas.

Segitiga Emas adalah sebutan dari Distrik Shan. Distrik ini persis berada di perbatasan tiga negara, Laos, Thailand, dan Myanmar.

Perekonomian Myanmar memang terus mengalami penurunan sejak kudeta militer. Nilai mata uang kyat anjlok di hadapan dolar dan harga makanan serta bahan bakar naik. Ini menyebabkan hampir 40 persen rakyat Myanmar berada di bawah garis kemiskinan.

Dalam temuan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), tercatat produksi opium mengalami lonjakan. Tahun 2021, produksi opium di wilayah Segitiga Emas berada di angka 423 metrik ton. Tahun 2022, produksi menyentuh hampir 795 metrik ton.

Secara menarik, UNODC juga menemukan adanya perubahan karakter ladang opium di wilayah Segitiga Emas.

Sebelum Junta berkuasa, ladang opium cenderung kecil, tak terorganisir, dan relatif jarang-jarang jika dibanding ladang lain seperti kopi.

Kini, ladang opium sudah lebih tertata dan lebih luas dan tampak sangat subur. UNODC memperkirakan, ladang-ladang di wilayah Segitiga Emas mampu memproduksi sekira 19,8 kilogram opium per hektare. Ini meningkat 41% dari tahun sebelumnya.

Laporan itu juga menyebut bahwa, secara ironis, opium telah menyelamatkan ekonomi Myanmar. Di tingkat petani, opium bisa dihargai sebesar US$281 atau sekitar Rp4,2 juta per kilogram.

Secara menyeluruh, nilai produksi opium 2022 telah mencapai sekitar US$2 miliar atau setara 3 persen atas produk domestik bruto (PDB) Myanmar. Sementara itu nilai ekspor opium berpotensi meraup untung sebesar US$1,7 miliar atau setara 2,6 persen PDB.

Dampak Regional

UNODC memprediksi akan ada lonjakan suplai obat-obatan terlarang di negara-negara sekitar Myanmar. Kondisi politik dalam negeri Myanmar yang tidak stabil membuat hukum tidak berjalan dengan baik, dan hal itu akan memperlancar proses distribusi.

“Ekspansi obat terlarang akan mengitari wilayah di sekitar sungai Mekong, menuju seluruh negara ASEAN, Australia, Selandia Baru, Jepang, Korsel, demikian pula India dan Bangladesh,” tulis laporan.

Laporan itu juga mengatakan, sampai tahun depan Myanmar diprediksi masih akan diwarnai dengan instabilitas, kemiskinan, dan inflasi. Dan opium masih akan dihargai selangit.

Secara ringkas, hal-hal tersebut bisa menjadi sinyal bahwa petani akan terus diberi kelonggaran menanam dan memperluas ladang opium milik mereka.

“Tanpa alternatif dan stabilitas ekonomi, penanaman dan produksi opium kemungkinan besar akan terus berkembang,” tulis laporan UNODC. [dmr]