Fokus

Eksodus Jutaan Rakyat Myanmar & Kekacauan Negeri Pagoda Emas yang Belum Selesai

Avatar
×

Eksodus Jutaan Rakyat Myanmar & Kekacauan Negeri Pagoda Emas yang Belum Selesai

Sebarkan artikel ini
Rohingya
Ilustrasi: flickr.

Kudeta militer Myanmar telah memicu krisis politik dan kemanusiaan yang serius.

BARISAN.CO Setelah dua tahun Junta militer berkuasa, telah lebih dari 1,5 juta orang di Myanmar eksodus meninggalkan negaranya untuk mengungsi.

Komisariat Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) mencatat, sepanjang tahun 2022, ada sebanyak 3.500 orang Rohingya Myanmar mencoba menyeberang laut. Angka tersebut naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yakni 700-an orang.

Baik dewasa maupun anak rela bertaruh nyawa naik perahu berharap ada kehidupan lebih baik menanti di seberang. Sedikitnya, ada 348 orang tewas atau hilang dalam proses melarikan diri ini.

Juru Bicara UNHCR Shabia Mantoo mengatakan, meningkatnya jumlah orang yang nekat mempertaruhkan hidup mereka ini merupakan penanda betapa putus asanya warga Rohingya.

“Kami menerima laporan dari Rohingya tentang meningkatnya rasa putus asa dan kecemasan tentang masa depan. Dan benar-benar tidak ada harapan untuk mendapatkan keamanan, perlindungan,” kata Mantoo.

“Beberapa di antara mereka berniat berkumpul kembali dengan keluarga mereka, sementara yang lainnya, kerentanan mereka dieksploitasi para pelaku perdagangan dan penyelundupan manusia yang memikat mereka dengan janji-janji sekaligus harapan palsu.”

Hari ini, hampir 1 juta orang Myanmar berada di Bangladesh. Hampir 200 ribu orang mengungsi di Malaysia. Sisanya menyebar ke Thailand, India, Sri Lanka, dan Indonesia.

Di Indonesia, dalam tiga bulan terakhir, sudah ada setidaknya 5 kapal terdampar di beberapa titik di Aceh. Terakhir, Minggu 8 Januari 2023 lalu, sebuah kapal terdampar di Pantai Gampang Baro, Aceh Besar, yang mengangkut 184 orang: 69 laki-laki; 75 perempuan; dan 40 anak-anak.

Para pengungsi ini kini ditempatkan di penampungan sementara milik dinas sosial di Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar.

Dalam pada itu, UNHCR dan Organisasi Migrasi Internasional (IOM) membantu para pengungsi memenuhi kebutuhan dasar yaitu makan, minum, dan obat-obatan.

Gelombang eksodus dari Myanmar ini dipastikan belum akan berakhir selama stabilitas nasional di negeri pagoda emas itu belum beres. Sementara itu, banyak yang berharap bahwa Indonesia bisa memainkan diplomasinya dan membantu Myanmar keluar dari krisis. [dmr]