Evita Perón, Ibu Negara yang Glamor & Dicintai Rakyat Argentina

  • Whatsapp
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

BARISAN.COPada tanggal 15 Januari 1944, sebuah gempa bumi menghancurkan kota Andrean San Juan, Argentina. Nyaris 90% bagian kota itu hancur, dengan korban 7 ribu jiwa dan 12 ribu lainnya luka-luka. Di sana, Jenderal Juan Domingo Perón menghimpun bantuan nasional dan mengundang banyak aktris untuk berpartisipasi, dan Maria Eva Duarte ada di antaranya.

Saat itu, Jenderal Juan Domingo Perón adalah kekuatan yang sedang tumbuh di dalam politik Argentina. Sedang Maria Eva Duarte adalah aktris yang moncer di acara-acara sandiwara radio.

Bacaan Lainnya

Sejarah kemudian mencatat bahwa mereka bukan saja ditakdirkan menjadi pasangan suami istri (keduanya menikah tahun 1946), tetapi juga ikut membentuk masa depan politik Argentina dengan pengaruhnya yang besar terhadap kesadaran publik negara tersebut.

Di tahun 1946, sesaat setelah pernikahan mereka, Eva Duarte—kemudian dipanggil ‘Evita’—memainkan peran penting dalam karier politik suaminya. Ia mula-mula mendampingi Juan Perón mengikuti kontestasi Pilpres. Dengan mengambil peran sebagai juru kampanye, Evita yang begitu mudah dicintai sering disebut sebagai faktor terbesar sehingga Juan Perón memenangkan pemilihan Presiden.

Menjadi Ibu Negara

Begitu menjadi First Lady, Evita langsung mengambil langkah berbeda dari Ibu Negara sebelum-sebelumnya. Mungkin ia tetap tampil mengikuti protokol, muncul menerima tamu negara, dan hal formal pada umumnya. Namun lebih banyak Evita tampil informal.

Evita langsung mengambil peran menjalankan program pemerintahan suaminya di bidang justicialismo, keadilan sosial, dengan menyibukkan diri di Sekretariat Perburuhan dan Kesejahteraan Sosial.

Apa yang dilakukan Evita di sana merupakan proyek-proyek populis. Ia terjun langsung melakukan impromptu visits (kunjungan dadakan, blusukan) ke kantong kemiskinan, dan berinteraksi langsung dengan kalangan descamisados (kaum miskin, secara literer berarti ‘kaum bertelanjang dada’), dan berupaya menyediakan solusi atas keluhan-keluhan mereka.

Kegiatan Evita bukanlah tanpa akibat. Di kemudian hari, itu membentuk basis kekuatan politik akar rumput yang kokoh bagi suaminya. Di sana, nama Juan Perón dan Evita harum di kalangan descamisados begitupun kelas pekerja.

Di setiap kunjungannya, Evita benar-benar seperti Ratu Rakyat. Hal itu ditambah rumus penampilannya yang selalu menarik. Evita akan mengikat rambutnya ke belakang dan menggunakan pakaian anggun dan balutan perhiasan.

Pernah suatu ketika ditanya pers alasan dirinya tampil demikian glamor, Evita menjawab, “Orang miskin suka melihatku tampil cantik. Mereka tidak ingin dilindungi oleh wanita yang berpakaian buruk dan kuno.”

Dan Evita membuktikan ucapannya. Ia menjadi pelindung orang miskin. Dalam catatan Hans Anders, Evita juga turun tangan memecahkan perselisihan buruh, membantu mendapatkan upah layak, mempersingkat jam kerja, memberikan hari-hari libur dengan biaya perusahaan, menguatkan kedudukan buruh, membangun proyek perumahan, dan sepenuhnya bekerja untuk kesejahteraan mereka.

Pro-Nazi

Perhatian pemerintahan Perón kepada kesejahteraan kalangan miskin, sayangnya tidak diimbangi dengan upaya merangkul kelompok lainnya seperti militer dan aristokrat (estancieros). Justru Perón membebankan pajak yang sangat tinggi kepada para aristokrat.

Atas itu, posisi khusus Evita dalam struktur kekuasaan Juan Perón pun banyak mendapat kecaman. Sama seperti Juan Perón, Evita dibenci kalangan atas.

Bagi mereka Evita hanya wanita kelas rendahan yang tidak memiliki cara lain kecuali tidur dengan orang-orang yang bisa membawanya ke puncak. Pidato-pidato Evita yang sering keliru ucap juga tak luput untuk diejek.

Kebencian terhadap Juan-Evita bertambah besar di sebagian kalangan, mengingat kenyataan bahwa pemerintahan Perón secara terang-terangan menyatakan kekagumannya terhadap Nazi.

Bahkan dalam beberapa dokumen perjalanan dinas, diduga Evita—atas restu Juan Perón—pernah membuat kontak bisnis dengan Jerman untuk menciptakan sejenis pelayanan imigrasi bagi para penjahat Nazi, agar dapat melakukan pelarian ke Argentina.

Dugaan itu mendapat kebenarannya tanggal 19 Juni 1947. Sebuah kapal barang bernama Santa Fe tiba di Buenos Aires dan menurunkan ratusan orang Nazi di ‘negara baru’ mereka. Banyak di antaranya disebut-sebut merupakan saintis, para pembuat teknologi perang Nazi. Beberapa di antaranya merupakan petinggi Nazi, termasuk otak di balik holocaust Adolf Eichmann.

Dua Reaksi Kematian Evita

Evita Perón bagaikan hidup di antara kasih sayang dan kebencian yang sama kuatnya. Hal itu tergambar jelas pada hari kematiannya, 26 Juli 1952, jam 08:25 malam.

Argentina terbelah antara suara isak tangis para pengagumnya, dengan suara tutup gabus yang dilepas dari botol-botol sampanye oleh elite yang membencinya.

Hari ini, seluruh rakyat Argentina tahu siapa Evita. Dalam kultur pop, telah banyak karya buku, film, lagu-lagu, dan medium lain dipublikasikan berdasarkan riwayat hidupnya. Ini membuktikan Evita Perón telah menjelma sebagai legenda yang menyala di hati rakyat Argentina.

Pos terkait