Khazanah

Fenomena Nyamuk dan Konsep Mukjizat Nabi Muhammad

Ardi Kafha
×

Fenomena Nyamuk dan Konsep Mukjizat Nabi Muhammad

Sebarkan artikel ini

Sehigga tak aneh, Allah pun menjelaskan bahwa iman itu sesungguhnya cukup dengan menyaksikan alam. Menyaksikan segala yang ada di langit dan di bumi. Bahwa semua yang terhampar ini di luar kemampuan manusia. Bahwa siapa pun kita, dan apa pun gelar kita, mustahil sanggup bikin seekor nyamuk.

“Itulah kenapa Quran disebut afdal al-mukjizat, mukjizat paling keren, paling hebat,” terang Gus Baha, “ya, karena al-Quran menjadikan manusia punya nalar yang lebih objektif.”

Maka, sekali lagi iman pada era Rasul saw itu tidak butuh sesuatu yang khariqun li al-‘adah. Lagian, mukjizat yang berbasis khariqun li al-‘adah itu berisiko tidak abadi, akan termuseumkan. Seperti tongkat Nabi Musa as hanya berlaku untuk masa dan masyarakat tersebut, tidak untuk sesudah mereka. Itu pun yang kebetulan terlibat. Bisa jadi, ada umat Musa as yang tak menyaksikkan pertunjukan tongkat beralih jadi ular besar yang menelan ular-ular kecil dari para tukang sihir Firaun. Sehingga paling banter kita saat ini, hanya bisa melihat tongkat Musa as itu di museum, itu pun kalau memang ada di museum.

Kemudian, logika mukjizat yang khariqun li al-‘adah juga berisiko pada umat yang akan menuntut hal yang aneh-aneh, dan justru melupakan yang inti. Bayangkan, sekira itu terjadi pada Nabi saw, dan ulama adalah pewaris nabi, maka umat akan menuntut para kiai atau para alim supaya sanggup melakukan hal-hal yang luar biasa pula. Bisa terbang, misalnya, seperti Harry Potter. Maka, sekira itu dituruti, niscaya umat Islam menjadi penyanjung klenik. Dan, berbahaya bagi kelangsungan kenormalan hidup. Ingat, kasus Dimas Kanjeng.

Singkatnya, Nabi Muhammad saw, sebagaimana tuntunan al-Quran, menuntut umat untuk bisa memaksimalkan kedewasaan berpikir. Sehingga tidak zaman lagi, tanda kebenaran Allah harus ditunjukkan oleh sesuatu yang super, seperti tongkat Musa as, atau unta Nabi Saleh as. Cara berpikir qurani: keseharian hidup ini adalah pertunjukan qudrah Allah. Bahwa alam semesta adalah jalan mengenal dan beriman kepada Allah, yang kesemuanya itu merupakan kekuasaan Allah semata.

Alhasil umat Muhammad saw tak perlu ditunggui oleh mukjizat bim salabim, tapi cukup dengan penalaran akal. “Maka, semenjak kini kita harus kompromi pada nyamuk, jika perlu kita mengelus-elusnya.”seloroh Gus Baha.

Demikian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *