Scroll untuk baca artikel
Blog

Filsafat dan Kolonialisme Baru

Redaksi
×

Filsafat dan Kolonialisme Baru

Sebarkan artikel ini

KATA filsafat sepertinya identik dengan sesuatu yang abstrak, sulit, dan rumit. Mempelajari filsafat seperti menuntut tingkat kecerdasan tertentu atau mereka yang mempunyai otoritas untuk bisa memahami secara paripurna.

Studi filsafat juga mengarah pada satu alam pikir entitas tertentu dan pada waktu tertentu. Mereka yang belajar filsafat umumnya akan diajak berkelana pada masa silam yang jauh sampai batas waktu sebelum masehi dan diperkenalkan pada sejumlah tokoh pada era peradaban tertentu dalam hal ini Yunani Kuno.

Kemudian diajak balik berkelana ke era “Yunani Baru” dalam hal ini Eropa abad pertengahan. Dari situlah filsafat seperti menjadi standar pengetahuan sekaligus induk ‘mata pelajaran’.

Secara faktual penggalian filsafat Yunani kuno menjadi energi pencerah bangsa Eropa yang melahirkan alam pikir baru dan menumbangkan alam pikir lama yang kemudian disebut sebagai abad kegelapan.

Pada era pencerahan ini, filsafat beranak pinak menjadi ‘jabang bayi’ sains modern dan berbagai penemuan yang salah satunya melahirkan revolusi industri.

Gerak sains dan teknologi makin tak terbendung yang menggelinding tidak hanya di Benua Eropa tapi merambah dunia lain. Ekspansi keluar itu pada mulanya dalam bentuk kolonialisme yang pada abad 20 ekspansi itu berwujud kolonialisme baru dalam bentuk ide, konsep, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan.

Hari ini kita semua di hampir semua belahan bumi dibuat seragam. Mulai dari alam pikir, gaya hidup, aksesoris kehidupan, ukuran-ukuran gagal berhasil hingga mimpi-mimpi masa depan, semua dibuat seragam atas nama modernisasi.

Kita yang konon sebagai bangsa merdeka dan dengan kemerdekaan agar supaya berkehidupan kebangsaan, harus menyerahkan kebebasan itu dan memilih ‘berserah diri’ pada segala derap gegap gempita kehidupan modern.

Kita, melalui ‘mesin pembangunan’ dengan hampir sepenuhnya menggunakan perangkat modern yang akan mengantarkan pada masyarakat baru, pada ‘manusia baru’, yang ukuran ukurannya relatif seragam di seluruh belahan bumi.

Padahal filsafat, tak hanya milik masyarakat Yunani kuno atau ‘Yunani Baru’. Semua entitas masyarakat atau entitas kebudayaan punya padangan filsafatnya sendiri.

Bangsa Indonesia, misalnya, dengan sub sub anak bangsa, tentu punya filsafat dalam memandang kehidupan. Dan perilaku sosial budaya tiap entitas cenderung akan merujuk pandangan atau falsafah hidup yang menyertainya.

Jika Eropa menggali alam pikirnya dan membuat napak tilas hingga masa lalunya yang jauh itu sangat relevan dan kontekstual dengan kehidupannya pada waktu itu. Pada saat yang sama, kita sebagai bangsa merdeka mestinya sadar sejarah dengan menggali alam pikir kita sendiri dan dari masa lalu kita sendiri. Faktanya memang kita punya pandangan filsafat sendiri dan cara berkehidupan sendiri.

Tapi begitulah, kuatnya kehidupan modern yang makin hari makin digdaya dan paripurna. Kekuatan kekuatan lain di luar arus modern menjadi inferior dan subordinat.

Ekspansi modernisasi seperti kolonialisme baru yang mendikte banyak hal dari cara pandang, ukuran ukuran, gaya hidup, dan lain-lain. Termasuk kita yang tak bisa mengelak.

Masalahnya adalah, apakah kita bisa dan rela didikte oleh suatu kehidupan yang filsafat hidup dan kesejaharannya bukan dari kita? Apakah kita cukup kuat untuk bertahan menjadi ‘manusia lain’ yang tak memiliki akar sejarah dan budaya sendiri.

Panggilan sejarah dan kepahlawanan baru hari hari ini adalah kebangkitan kesadaran baru akan kembalinya harkat dan martabat menjadi diri sendiri sebagai bangsa yang merdeka dari intervensi pihak lain.