Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Hanya Penumpang, Bukan Penggenggam

Redaksi
×

Hanya Penumpang, Bukan Penggenggam

Sebarkan artikel ini

“Gejolak jiwamu yang meluap-luap (untuk menggapai cita-citamu) tak akan mampu menerjang benteng kokoh keputusan Tuhan.”

BARISAN.CO – Sebuah ungkapan hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah yang begitu mendamaikan hati. Betapa tidak. Keputusan/takdir Tuhan di sini diibaratkan bak dinding atau benteng kokoh, yang tak tertembus oleh kekuatan apa dan dari mana. Maka, seolah seruan untuk siapa pun agar tidak memaksa diri. Karena daya dan kekuatan toh sesungguhnya milik Allah. Bahwa berhasil tidaknya sebuah usaha-usaha lahiriah, bukan dari kerja keras manusia, melainkan sepenuhnya keputusan Tuhan.

Kewajiban kita, terutama yang berposisi di maqom asbab, adalah semata berikhtiar itu sendiri, bukan sampainya kita pada yang diupayakan. Sampai tidaknya kepada hasil adalah urusan Tuhan, adalah takdir Tuhan. 

Hal ini kemudian ditegaskan di hikmah setelahnya, “Istirahatkan jiwamu dari lelahnya urusan sehari-hari duniawi. Bila Yang lain (Tuhan) telah bertindak untukmu, tidak sepatutnya engkau ikut serta mengerjakannya.”

Tapi, jangan salah kaprah. Sebab, bukan berarti kita berlepas tanggung jawab, sekira kita berada pada posisi asbab, karena maksud “mengistirahatkan jiwa dari lelahnya urusan sehari-hari” tidak berkaitan dengan kewajiban berusaha/bekerja.

Mengistirahatkan jiwa adalah aktivitas pikiran dan keputusan akal. Sehingga jelas, kenapa kata yang dipilih “istirahatkan jiwa” bukan “istirahatkan tubuh”. Sebab, sekali lagi, mengupayakan sebab, berupa usaha fisik lahiriah, itu diperintahkan. Sementara, mengatur-atur hasil usaha lahiriah, yang sumbernya adalah hati dan pikiran, itu yang dilarang.

Oleh karenanya, misal saya saat ini, bekerja sebagai penulis, jika ada yang bertanya, “Apa yang Anda harapkan pada saat dan setelah melakukan kerja kepenulisan ini?” Maka jawab saya, “Ini adalah bagian dari kewajiban yang diperintahkan Allah. Saya menjalaninya sebagai perintah. Lantas apa yang akan diperbuat Allah pada saat dan setelah saya melakukan ini, ya, terserah Tuhan. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada ketentuan-Nya, dan rida dengan kebijaksanan-Nya.”  

Itulah kiranya, Syekh Zarruq tatkala menjelaskan “Istirahatkan dirimu dari ikut mengatur!” tidak lain tidak bukan supaya kita tidak lelah dan penat. Bayangkan, betapa akan penat, lelah, dan penuh gelisah, sekira ikut mengurusi sesuatu yang bukan tugas kita.

Ikut mengatur berarti kita turut merancang urusan di masa mendatang yang berkaitan dengan apa yang ditakuti atau yang dharapkan. Turut mengatur berarti masuk dalam perencanaan yang disertai sikap keyakinan atau menetapkan, bukan sikap kepasrahan.

Syahdan, hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah ini meneguhkan hati dan pikiran kita, bahwa tugas seorang hamba cukuplah memenuhi perintah Tuhan. Yang tidak mau mengikuti berarti tengah berlaku bid’ah. Yang tidak bertawakal, berarti turut mengatur. Yang tidak bersabar, berarti menentang. Yang tidak melaksanakan semua pada tempatnya, pada posisinya, berarti buta mata hatinya.

Dan, apalah arti hidup sebagai manusia, sekira hati tak bersinar. Hati gelap gulita. Pikiran kisruh lantaran berburu kepastian atas rencana. Menetapkan hasil, seolah penentu keputusan. Padahal, nyatalah, kita hanya penumpang, bukan penggenggam waktu.