Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Hujan Cinta

Redaksi
×

Hujan Cinta

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Gemercik gerimis basahi bumi. Air hujan mengalir lirih ke sela-sela aliran yang akan membawanya entah kemana atau terserap tanah dan menghilanglah ia. Hujan telah mengguyur desa ini dengan lembutnya memberikan keberkahan. Bukan hujan deras yang sedikit meresahkan para petani.

Tuhan telah menganugerahkan akal kepada manusia untuk berpikir, ada apa dibalik rahasia turunnya hujan di malam ini. Sebuah pertanyaan untuk kaum yang berpikir. Bukanya ini musim hujan, tidak! musim hujan telah selesai tetapi mengapa hujan tetap mengguyur desaku yang indah ini.

Atau jangan-jangan ini adalah sebuah tanda-tanda, ada apa dibalik rahasia ini. Tidak perlulah menjadi beban pikiran, yang terpenting bagaimana kita tetap berpikir atas segala nikmat dan karunianya.

Di balik jendela tua seorang pemuda termenung. Wajahnya begitu muram, paras wajahnya yang bercahaya membuat sisi-sisi kamar begitu terang.

Pemuda itu memandang hujan yang sedang turun. Thik…thikkk…thikkkk…bunyi hujan, begitu deras dan membuat pemuda itu tidak bisa tidur. Malam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Pemuda itu pun bergegas mengambil air wudu.

Langkah-langkah kaki lincah itu mengantarnya ke belakang rumah. Di ambilnya air wudu dan membasahi sekujur tubuh kekarnya. Setelah mengambil wudu pemuda itu pun menuju kamarnya. Di ambilnya sajadah dipakainya sarung kesayangannya. Sarung yang dibelikan terakhir kali oleh almarhum Ibunya. Allahu akbar dan Allah maha besar, salat adalah tiang agama, barang siapa tidak menjalankan kewajiban salat berarti orang Islam tersebut akan menganjurkan agamanya sendiri.

Lantunan ayat-ayat cinta bersenandung indah di kamar itu, kamar yang kecil namun sangat rapi penataannya. Sungguh menakjubkan, seorang pemuda yang begitu memperhatikan kerapian dan kebersihan.

Ayat-ayat al-Qur’an telah membasahi bibir merah itu. Begitu merdu suaranya, lidah-lidah Jawa semakin membawakan ketakjuban. Al-Qur’an adalah pegangan hidup, al-Qur’an menjadi petunjuk bagi orang yang beriman. Barangsiapa tidak berpedoman padanya maka tinggal kita menunggu kehancurannya. Ayat demi ayat telah membawa pemuda itu terhanyut dalam kenyamanan hidup. Sampai pada surat al-Hujurat ayat ke 13, pemuda itu berhenti sejenak ada apa sebenarnya!

 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.QS Al-Hujurat ayat 13

Sekitar hampir tujuh menit, ia belum melanjutkan bacaanya ia tetap memandangi kitab sucinya. Sambil melihat dan membaca artinya, ia kembali melihat ayat-ayat yang membawanya berdetak kencang. Ia kembali ke ayat ke tujuh dari surat al-Hujurat:

 “Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”.

Ternyata pemuda tersebut merasakan perasaan dalam keyakinannya mengenai dua hal, yaitu pertama tentang diciptakannya laki-laki dan perempuan untuk saling kenal-mengenal dan cinta kepada keimanan. Ada apa di balik ini semuanya.

Pemuda itu menangis, tetesan air matanya membasahi pipi manis itu. Semakin deras air matanya sepert air hujan yang membasahi rumahnya. Tangisannya membuat seisi kamar dan hewan malam merasakan perih getir dihati yang di selimuti keresahan. Ada apa sebenarnya? Pertanyaan itu kembali muncul.

* * *

Kabut gelap belum juga terhempas di pelataran kampus hijau. Kabut gelap hanya menutupi langit untuk sementara, mungkin saja satu menit kemudian kabut itu akan menghilang.

Kampus hijau adalah kampus yang akan membawanya meraih cita-cita akademik, mungkinkah kampus hijau memberikan harapan yang pasti. Jika peradaban modern ini terjebak pada simbolisasi semata. Mereka bergaya materialis, simbolisme pragmatisme mereka tunjukan. Dan kemewahan dunia seakan mulai bercengkrama dengannya, yakni mereka yang memikirkan dunia semata.

”Andai saja engkau masih di sini, di kampus hijauku. Akan aku bawa lari menuju langit cintaku. Tetapi kenapa engkau tega meninggalkan aku sendiri.”

”Mengapa kau tinggalkan aku sendiri, sedangkan cintaku padamu begitu dalamnya. Sedalam jiwa untuk samudra kasih sayangmu. Mengapa kau pergi menjauh dari hidupku.” Perkataan demi perkataan keluar lirih. Jika hati berkata, bumi seakan terguncang karena ikut merasakan betapa cinta itu suci.

Penyesalan itu keluar setelah hampir kesekian waktu, cintanya terpendam dan tidak mampu mengucapkannya secara jantan. Penyesalan itu akan membawa hidupnya dalam keterasingan, karena baru pertama kali merasakan cinta.

Penyesalan itu akan di bawanya mengarungi hidupnya, demi satu cita-cita dan satu harapan untuk mendapatkan cinta suci. Penyesalan bagian dinamika kehidupan, pasti semua itu akan berlalu namun sulit sekali dilupakan.

Tidak seorangpun tahu apa yang dirasakan. Apa yang ada di hatinya tersembunyi begitu dalam. Rahasia hatinya tidak akan terpecahkan. Kekuatan cintanya akan selalu mengantar dalam tidurnya. Keajaiban cinta, akan selalu terpendam dan tak akan terbongkar kecuali waktu yang akan menjawabnya.

Jauh di persimpangan jalan. Ia tetap berjalan sendiri. Kemana dia akan melangkah, sedangkan cintanya telah terkubur oleh pemakaman yang hina. Kekasih yang selama ini menemaninya, meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Kekasih yang membuat hidupnya bagai di surga. Kekasih hati yang  membuat semangat hidupnya begitu bergelora.

”Selamat jalan wahai wanita pujaan hatiku, kau akan selalu menjadi bagian hidupku.” Apakah ini kalimat cinta yang ingin ia katakan, sungguh sakit rasaya.

”Tuhan, tetapi kenapa kau begitu kejam pada diriku. Kau ciptakan dia untukku namun hanya sebentar kau lenyapkan dia dariku.”

”Wahai Izroil mengapa kau cabut nyawanya, padahal di masih muda.” Lontaran kekesalannya pada Tuhan dan Malaikat penyabut nyawa, ia tidak menerima atas perlakuan pada dirinya.

”Kenapa kau sekejam itu padaku.”

Masih segar ingatanya. Berjalan dan belajar bersama dalam majelis ilmu. Pendamping setiap dialog dan curhat. Pikirannya begitu tajam dalam mengingat kenangan indah itu. Setelah kejadian tersebut, ia hanya bisa pasrah pada dunianya. Dunia yang akan mengantarnya dalam lika-liku kehidupan yang lebih romantis.

”Maafkan aku, wahai Tuhanku dan malaikat cintaku.” Ucapan itu keluar begitu terengah-engah, namun pasti.

* * *

Setiap manusia akan memahami kalau satu irama cinta yang melantun indah akan selalu terkenang. Namun cinta akan meningalkan dirinya jika cinta itu tidak seimbang dengan cinta yang hakiki. Ini adalah perpaduan antara cinta yang mulia dengan cinta manusia di dunia.

Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang berhasal dari dzat yang abadi. Cinta hakiki adalah tujuan manusia. Cinta yang paling sempurna adalah cinta ketika ia berakhir dalam keadaan beriman dan ketakwaanya berserah diri kepada Allah dan mati meningalkan dunia dalam keadaan beragama Islam.

Itulah lagu-lagu keindahan dan rasa jiwa dari kehidupan. Ada lagu yang begitu merdu dan memanggil cintanya kembali, ada lagu yang sepi memanggil kerinduannya pada Illahi Rabbi.

Pemuda itu bangun dari duduknya setelah, bebarapa menit membaca kalam suci Illahi. Ia lanjutkan dengan aktivitas pagi, suatu hal yang biasa dikerjakan untuk menyambut mentari pagi.

Ia semakin sadar bahwa kehidupan adalah sementara dan dunia adalah panggung sandiwara siapa berperan dengan sempurna maka ia akan mencapai sebuah kemenangan yang berarti. Akulah aktor kehidupan yang akan membawanya sendiri.

Ia kembali melirik jendela kamar. Dilihatnya hujan sudah reda. Namun pagi ini begitu berbeda. Biasanya ia melihat embun-embun pagi menempel pada setiap benda yang membuatnya betah dan bersahaja.

Pagi merupakan simbol rizeki, maka keluarlah engkau dari ranjang mimpimu. Mentari belum juga turun, mungkin karena hujan telah menutupi kemesraannya dengan embun.

Pemuda itupun semakin menyadari, bahwa cinta bukanlah hal yang mudah dipelajari. Cinta bukan untuk dipelajari dan dimengerti. Cinta yang hakiki adalah cinta kepada Illahi Rabbi dan cinta di dunia adalah ketika cinta mempersatukan dua insan yang berbeda untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Cinta yang akan menemaninya dalam satu keluarga cinta di taman surga.

* * *

Begitulah irama kehidupan. Maka nikmatilah cinta yang sesungguhnya. Buatlah tarian cinta menggema ke semesta. Buatlah cinta besenandung indah diantara jiwa dan raga. Jadikan perjalanan hidup benar-benar dalam ridho cinta Illahi Rabbi. Untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki.

”Selamat jalan kekasih, aku akan kembali kepada kekasih yang maha abadi untuk menemukan kekasih yang lebih di ridhoi.”

”Selamat datang cintaku, aku menunggumu dan akan terus menunggu”.

* * *