Kedua, menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka. Betapa keterbukaan serasa menyusut di ruang gerak Islam dewasa ini. Islam kerap dilantangkan sebagai agama yang hanya pas dengan bahasa Arab, dan harus mengadopsi kebudayaan Timur Tengah. Padahal, konon Rasul saw. menganjurkan umat untuk belajar ilmu ke Cina. Kemudian generasi tabi’in dan setelahnya, umat belajar filsafat dari Yunani, Persia, dan India.
Ketiga, mengukuhkan jati diri. Hal ini penting juga kita upayakan dengan menginventarisasi, mendokumentasi, dan melestarikan simbol-simbol Islam. Sejarah misalnya, sebagai salah satu aspek dari simbol, serasa merana, karena pahlawan-pahlawan muslim tidak dikenal kemuslimannya dalam masa 1945-1950. Baru-baru ini saja, ada greget seusai film Sang Kiai rilis di pasaran, tapi selebihnya, sejarah Islam masih kurang.
Sejarah Islam masih kental dengan gerakan-gerakan anti-NKRI. Seperti DI/TII, Gerakan NII, Gerakan Aceh Merdeka, Peristiwa Tanjung Priok, Malari, dan lain sebagainya. Islam seolah anti negara, seolah pemberontak.
Singkatnya, Islam sedianya tampil dalam wajah kebudayaan. Dan kebudayaan tidak hanya kesenian. Karena kebudayaan merupakan sistem simbol yang meliputi—lagi-lagi mengutip Ernst Cassirer—filsafat, ilmu, mitos, sejarah, bahasa, sastra, dan seni.