Sehingga Indonesia saat ini memutuskan untuk memakai Sinovac. Vaksin yang diimpor dari Tiongkok ini telah melewati uji Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan tingkat kemanjurannya 65,3 persen. Sinovac juga sudah mendapat label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Saat ini jutaan tenaga kesehatan dan ribuan lansia telah disuntikan Sinovac. Hasilnya aman-aman saja. Belum ada laporan efek samping yang berat, melainkan hanya nyeri pada tempat suntikan, bengkak dan kemerahan, nyeri otot dan sendi, demam, lemas, mengigil serta sakit kepala. Namun, reaksi ini sifatnya hanya sementara.
Untuk itu, masyarakat seharusnya tidak perlu khawatir. Justru sebaiknya memanfaatkan kesempatan ini, sebab jumlah vaksin sangat terbatas.
“Jika Anda bisa divaksinasi, manfaatkan privilege ini. Selain jumlahnya terbatas, banyak orang yang tidak bisa divaksin karena masuk daftar dikecualikan,” kata Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI pada bincang kesehatan (Healt Talk) dengan tema “Kupas Tuntas Vaksin Covid-19 dan Nutrisi untuk Lansia” yang diselenggarakan oleh Entrasol, Minggu (7/3/2021).
Prof. Iris mengatakan vaksinasi bisa menekan penyebaran Covid-19 dengan cara herd immunity atau kekebalan kelompok. Orang yang divaksin akan melindungi mereka yang tidak bisa divaksin.
Menurut perhitungan untuk mencapai herd immunity perlu dilakukan vaksinasi Covid-19 pada sekitar 70 persen kelompok sasaran. “Dengan kita melakukan vaksinasi, kita tak hanya melindungi diri kita sendiri tapi juga melindungi orang lain,” ujar ketua tim advokasi vaksinasi COVID-19 PB Ikatan Dokter Indonesia ini.
Namun, Prof. Iris mengingatkan jika vaksin bukanlah satu-satunya jalan keluar dari pandemi, tapi hanya salah satu upaya untuk mencapai herd immunity. Masyarakat tetap harus menerapkan 5M yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, membatasi mobilitas di tempat umum, dan menjauhi kerumunan atau keramaian. []





