Ekonomi

Keyakinan Konsumen Masih Berada di Zona Pesimis

Avatar
×

Keyakinan Konsumen Masih Berada di Zona Pesimis

Sebarkan artikel ini
Keyakinan konsumen
Photo by Artem Beliaikin on pexels.com

BARISAN.CO – Keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi terindikasi membaik pada Februari 2021 menurut Bank Indonesia. Penilaian tersebut didasari hasil survei konsumennya yang dirilis Senin (8/03/2021). Disampaikan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai 85,8 atau sedikit meningkat dari 84,9 pada bulan sebelumnya.

Meski demikian, IKK sebesar itu sebenarnya masih masuk dalam zona pesimis menurut skala yang dipakai oleh survei. Sebagai informasi, angka indeks di atas 100 menunjukkan optimis, dan di bawah 100 berarti pesimis.

Survei Konsumen Bank Indonesia dilakukan tiap bulan, sejak Oktober 1999. Kini, jumlah responden sekitar 4.600 rumah tangga, yang berdomisili di 18 kota. Pengolahan hasil survei dilakukan dengan metode Balance Score yaitu saldo bersih (net balance) ditambah 100. Saldo bersih merupakan selisih antara jumlah responden yang menjawab meningkat dengan yang menjawab menurun.

IKK yang mulai memasuki zona pesimis sejak April 2020 bisa dipastikan karena dampak pandemi covid-19. Bahkan, IKK menyentuh titik terendah sepanjang sejarah survei, yaitu sebesar 77,8 pada Mei 2020.

IKK sempat sedikit membaik pada Juni sampai dengan Agustus 2020, lalu memburuk kembali pada September dan Oktober 2020. Kemudian membaik pada November dan Desember, dan memburuk pada Januari 2021. IKK masih berfluktuasi nilainya selama era Pandemi. Dengan demikian, belum sepenuhnya dapat dipastikan adanya peningkatan optimisme mereka.

Survei Konsumen Bank Indonesia, Februari 2021

Sebagai tambahan informasi, selama 10 tahun sebelum pandemi, IKK nyaris tak pernah memasuki wilayah pesimis. Hanya pernah terjadi dua kali, yaitu pada September 2015 (97,5) dan Oktober 2015 (99,3).

IKK sebesar 85,8 pada Februari 2021 merupakan rata-rata sederhana dari Indeks Kondisi Saat ini (IKE) sebesar 65,1 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 106,5. IKE mencerminkan penilaian konsumen atas kondisi saat ini dibanding 6 bulan lalu, berada di zona pesimis. Sedangkan IEK merupakan ekspektasi konsumen untuk 6 bulan mendatang, masih di zona optimis.

Nilai IEK sepanjang sejarah survei BI tergolong menarik karena nyaris tidak pernah memasuki zona pesimis selama belasan tahun terakhir. Konsumen, dapat dibaca sebagai masyarakat Indonesia, cenderung memandang masa depan secara optimis. Nilai indeksnya selama beberapa tahun sebelum pandemi mencapai kisaran 130-140, atau sangat optimis.

Ketika dampak pandemi membuat nilai IKK memasuki zona pesimis, IEK masih bernilai optmis meski menurun cukup tajam. Terendah adalah pada Mei 2020 sebesar 104,9. Sikap pesimis konsumen lebih disebabkan oleh pandangan atas kondisi terkini (IEK).

Oleh karenanya, perlu diwaspadai nilai IEK yang meski masih optimis, namun besarannya terbilang rendah. Bisa ditafsirkan sebagai masyarakat Indonesia mulai kurang optimis terhadap kondisi 6 bulan mendatang.

Hal itu antara lain terindikasi dari penurunan Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja yang hanya 100,4. Terendah selama era pandemi berlangsung. Dan tentu saja jauh lebih rendah dari era sebelumnya. Masyarakat Indonesia terindikasi makin khawatir atas peluangnya memperoleh kerja hingga 6 bulan mendatang.

Selain itu, optimisme konsumen atas kondisi dunia usaha pada 6 bulan mendatang juga sedikit memburuk dibanding sebulan sebelumnya. Selama era pandemi indeks ekspektasi kegiatan usaha hanya sempat membaik signifikan pada bulan November dan Desember lalu. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *