Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Karena Pandemi, Kasus Kanker Malah Menurun?

Redaksi
×

Karena Pandemi, Kasus Kanker Malah Menurun?

Sebarkan artikel ini

BARISAN.COTenaga kesehatan di beberapa negara melaporkan penurunan kasus kanker selama pandemi. Di Belanda misalnya, para dokter mendiagnosis lebih sedikit kasus kanker tahun lalu.

Jika di tahun 2019 jumlah kasus kanker di negara tersebut mencapai 119 ribu diagnosa, tahun 2020 hanya 115 ribu diagnosa.

Tapi ternyata itu bukanlah kabar baik. Menurut pusat kanker terintegrasi Belanda (IKNL) menurunnya kasus kanker lantaran masyarakat enggan datang ke rumah sakit untuk melakukan perawatan dan screening. Mereka khawatir tertular Covid-19.

Padahal keterlambatan diagnosa kanker dan pengobatan dini akan menyebabkan peningkatan jumlah tumor lanjut. Kualitas hidup pasien kanker pun akan terganggu.

Pemerintah di negara-negara Eropa mulai khawatir akan hal ini. Mereka memprediksi 40 persen warga Uni Eropa (UE) akan menghadapi kanker dalam hidupnya pasca pandemi. Kondisi itu akan berdampak pada perekonomian, karena akan menghabiskan 100 miliar euro ($ 120 miliar) per tahun.

Untuk menghindari skenario terburuk, UE pada Rabu (3/2) mengusulkan anggaran empat miliar euro ($ 4, 8 miliar). Mereka juga berencana membuat pusat kanker dan harus selesai pada akhir 2022. Pusat kanker akan menjadi tempat koordinasi riset ilmiah dan penanganan penyakit tidak menular ini.

UE juga memperkuat kebijakan pengendalian alkohol, meninjau tarif pajak dan mengatur iklan untuk menciptakan “Generasi Bebas Tembakau”. Mereka ingin pengguna tembakau di Eropa pada 2040 tidak lebih dari 5 persen.

Menurut UE, tingkat konsumsi alkohol di Eropa tertinggi di dunia. Sementara alkohol dan rokok bertanggung jawab atas 15 – 20 persen kasus kanker yang ada di Eropa.

Selain itu, komisi tersebut juga ingin mengurangi polusi udara dan memvaksinasi 90 anak perempuan yang tinggal di UE agar terhindar dari virus papiloma yang menyebabkan kanker serviks.

Bagaimana dengan Indonesia?

Seperti halnya dengan negara-negara lainnya, kunjungan pasien kanker di Indonesia pun mengalami penurunan.

“Kalau data kita di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta terjadi penurunan angka kunjungan pasien (kanker) sampai dengan 37 persen,” ungkap Ahli Onkologi Ginekologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Dr. Yusuf, seperti yang dikutip dari Kompas.com dengan judul artikel “Selama Pandemi Covid-19 di Asia, Kunjungan Pasien Layanan Kesehatan Menurun”.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr. Cut Putri Arianie, MH. Kes mengatakan banyak masyarakat yang tidak melakukan screening penyakit tidak menular saat pandemi. Khawatirnya akan ada tren kenaikan kasus kanker setelah pandemi selesai.

Apalagi, kasus kanker di Indonesia selama ini 70 persen sudah stadium akhir. “Kasus yang datang sudah sangat terlambat,” ujar Cut di acara Temu Media Hari Kanker Sedunia Tahun 2021 tadi siang (4/2).

Cut mengatakan pandemi telah menyebabkan penundaan pemeriksaan dan menggangu perawatan. Jika sebelum pandemi masyarakat bisa screening di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, saat ini tidak bisa untuk menghindari mobilisasi dan lebih baik di rumah saja.

Meski begitu, masyarakat harus tetap melakukan screening dan tidak boleh takut. Khususnya bagi mereka yang berisiko terkena kanker. Misalnya ada riwayat kanker di keluarga, gaya hidup buruk, berat badan berlebih, dan tinggal di area yang berbahaya atau terpapar zat-zat karsinogenik.

Saat ini memang tenaga kesehatan lebih fokus kepada pasien yang terinfeksi Covid-19, tapi rumah sakit tetap siap melayani pengobatan kanker. Pasien tinggal datang ke rumah sakit dengan protokol kesehatan yang ketat. “Harus screening, jangan takut,” kata Cut. []