Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Setiap Gigitan Junk Food Meningkatkan Risiko Kanker

Redaksi
×

Setiap Gigitan Junk Food Meningkatkan Risiko Kanker

Sebarkan artikel ini

Para ilmuwan baru-baru ini memperingatkan, junk food dapat meningkatkan risiko kanker di setiap gigitannya.

BARISAN.COJunk food sering disebut sebagai makanan ultra-olahan, termasuk minuman manis, roti iris, dan makanan siap saji. Para ilmuwan baru-baru ini memperingatkan, junk food dapat meningkatkan risiko kanker di setiap gigitannya.

Studi tersebut mengungkapkan, makanan ini umumnya tinggi garam, lemak, gula, dan mengandung aditif buatan, yang dapat menyebabkan obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

Para peneliti menyebut, junk food dapat meningkatkan risiko kematian seseorang akibat kanker, terutama perempuan.

“Rata-rata orang di Inggris mengonsumsi lebih dari separuh asupan energi harian mereka dari makanan ultra-olahan. Ini sangat tinggi dan memprihatinkan karena makanan ultra-olahan diproduksi dengan bahan-bahan yang berasal dari industri dan sering menggunakan bahan tambahan makanan untuk menyesuaikan warna, rasa, konsistensi, tekstur, atau memperpanjang umur simpan,” kata penulis pertama studi Dr. Kiara Chang dari Imperial College London’s School of Public Health dalam rilis media.

Dia menambahkan, tubuh kita mungkin tidak bereaksi dengan cara yang sama terhadap bahan dan aditif ultra-olahan ini seperti yang mereka lakukan terhadap makanan olahan minimal yang segar dan bergizi.

“Namun, makanan ultra-olahan ada di mana-mana dan sangat dipasarkan dengan harga murah dan kemasan yang menarik untuk mendorong konsumsi. Ini menunjukkan lingkungan makanan kita membutuhkan reformasi mendesak untuk melindungi populasi dari makanan ultra-olahan,”tambahnya.

Para peneliti menggunakan catatan UK Biobank untuk mengumpulkan data mereka. Kemudian, mereka mempelajari pola makan 200.000 orang dewasa paruh baya, memantau kesehatan mereka selama 10 tahun dan melihat risiko setiap orang terkena kanker secara keseluruhan, serta risiko spesifik terkena 34 jenis kanker yang berbeda.

Tim juga melihat risiko orang meninggal akibat kanker. Studi tersebut mengungkapkan, konsumsi makanan ultra-olahan yang lebih tinggi menunjukkan, hubungan dengan risiko lebih besar terkena kanker secara keseluruhan, sementara menempatkan orang lebih berisiko khususnya kanker ovarium dan otak.

Mengonsumsi terlalu banyak junk food juga menunjukkan dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker, terutama kanker ovarium dan payudara.

Untuk setiap peningkatan 10 persen makanan ultra-olahan dalam makanan seseorang, terjadi peningkatan insiden kanker secara keseluruhan sebesar 2 persen dan peningkatan 19 persen untuk kanker ovarium, khususnya. Untuk orang dewasa, semakin banyak makanan ultra-olahan yang mereka makan, semakin tinggi risiko mereka terkena obesitas dan diabetes tipe 2.

Keterkaitan ini tetap ada bahkan setelah disesuaikan dengan berbagai faktor sosial ekonomi, perilaku, dan pola makan, seperti status merokok, aktivitas fisik, dan indeks massa tubuh (BMI).

Tim Imperial College London sebelumnya juga telah melaporkan, adanya tingkat konsumsi makanan ultra-olahan di Inggris Raya adalah yang tertinggi di Eropa baik untuk orang dewasa maupun anak-anak.

Sementara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) sebelumnya telah merekomendasikan untuk membatasi makanan ultra-olahan sebagai bagian dari diet sehat berkelanjutan. Sekarang ada upaya berkelanjutan untuk mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan di seluruh dunia.

Negara-negara seperti Brasil, Prancis, dan Kanada telah memperbarui pedoman diet nasional mereka dengan rekomendasi untuk membatasi makanan tersebut. Brasil juga telah melarang pemasaran makanan ultra-olahan di sekolah-sekolah.