Scroll untuk baca artikel
Blog

Kelenteng – Kelenteng Tua di Tiongkok Kecil

Redaksi
×

Kelenteng – Kelenteng Tua di Tiongkok Kecil

Sebarkan artikel ini

Indonesia memiliki Lasem atau Tiongkok Kecil dengan keberadaan tiga kelenteng tua dan bersejarah sebagai penanda masuknya etnis Tionghoa di tanah Jawa.

BARISAN.CO – “Tiongkok Kecil”. Begitulah nama yang melekat pada Lasem, salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Menurut sejarah, Lasem merupakan kota pendaratan pertama orang – orang Tionghoa di tanah Jawa. Tak heran jika daerah ini memiliki banyak perkampungan Tionghoa dengan sederetan bangunan kuno khas Tiongkok. Mulai dari rumah hingga kelenteng.

Ada Kelenteng Cu An Kiong, Gie Yong Bio dan Karangturi Po An Bio.

Uniknya, bangunan – bangunan tersebut masih terawat baik meski berada di antara pondok – pondok pesantren. Bukti bila warga Lasem hidup berdampingan dan menjaga budaya serta tradisi Cina secara turun temurun.

Pada Imlek 2017, saya sempat mengunjungi kelenteng – kelenteng tersebut. Berikut ulasan singkat ketiganya.

1. Kelenteng Cu An Kiong

Cu An Kiong dalam bahasa Indonesia berarti Istana Ketenteraman Welas Asih. Konon Cu An Kiong menjadi kelenteng tertua di Pulau Jawa. Ada banyak pendapat terkait kapan dibangunnya kelenteng ini. Ada yang mengatakan abad ke – 15, ada juga yang mengatakan dibangun pada abad ke -16 atau sekitar tahun 1335. Meski begitu, kelenteng ini telah menjadi saksi hidup dari perjalanan Lasem di tanah Jawa.

Berada di Desa Dasun atau sekitar 100 meter dari Jalan Raya Lasem, bangunan Cu An Kiong masih terlihat utuh. Di pintu masuk terdapat dua patung singa yang melambangkan kerajaan Belanda pada tahun 1800-an. Tujuannya agar kelenteng ini tidak diganggu oleh VOC (kongsi dagang Belanda), yang saat itu tengah berkuasa di beberapa wilayah Nusantara.

Di bagian atasnya terdapat dua patung orang yang masing – masing membawa senjata dan seolah menjadi penjaga kelenteng. Berdasarkan informasi dari penjaga, Cik Lan, kedua orang tersebut merupakan Bi Nang Un dan istrinya, Na Li Ni. Mereka adalah dua tokoh Tiongkok yang berbaur dan mengajarkan batik kepada warga.

Memasuki gerbang, saya melihat keindahan ubin, ornamen atap, ukiran kayu, pahatan dan mural pada dinding yang tak tergerus waktu. Berbagai peninggalan pun masih tersimpang rapi. Seperti Kio atau tandu kendaraan Makco Thian Siang Bo atau Dewa laut, berukir emas dan usianya sudah sekitar 605. Kemudian patung Fude Zhengsen (Dewa Bumi dan Kekayaan) dan Jialen Ye, serta batu – batu prasasti.

2. Kelenteng Gie Yong Bio

Selain Cu An Kiong, terdapat kelenteng Gie Yong Bie yang menjadi penanda mendaratnya masyarakat Tionghoa di Jawa. Kelenteng ini berlokasi di Jalan Babagan Nomor 7, Desa Bagan, Lasem dan menjadi salah satu tempat peribadatan umat Tridharma.

Kabarnya, kelenteng ini memiliki sejarah panjang tentang Perang Kuning pada tahun 1741 hingga 1750.

Pada bagian altar terdapat patung salah seorang tokoh Lasem tempo dulu, Raden Panji Margono. Ia adalah keturunan trah Panji Lasem, salah satu nama pahlawan yang terlibat dalam pertempuran melawan VOC pada Perang Kuning.

Raden Panji Margono juga putra dari seorang Adipati Lasem bernama Tejakusuma V (Raden Panji Sasongko). Pada saat Perang Kuning, ia menyamar sebagai Tan Pang Ciang atau Encik Macan.

Oleh karenanya, kelenteng ini dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem yaitu Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat, dan Raden Panji Margono.

3. Kelenteng Karangturi Po An Bio

Kelenteng Karangturi Po An Bio tak setenar Cua An Kiong dan Gie Yong Bo. Meski begitu, kelenteng ini memiliki keindahan dan kekayaan sejarah sama dengan kedua kelenteng tersebut.

Terletak di Jalan Karangturi VII/13, Desa Karangturi, Lasem, kelenteng ini pun disebut – sebut tertua di Lasem. Sayangnya, tidak ada bukti tertulis terkait pembangunannya.

Banyak yang mengatakan jika kelenteng ini merupakan persembahan kepada Kwee Sing On (Guo Shen Wang) yakni dewa yang tinggal di sebuah kelenteng di Desa Baijiao, Kabupaten Zhangzhou, Provinsi Fujian, Cina Selatan.