Kenapa Tidak Bisa Pluralis

  • Whatsapp
Pluralis kenapa
Unity/Ilustrasi: pixabay.com

KONON, kata “hak” dari “haq”, sehingga tak bisa diremehkan atau dilanggar, bahkan oleh negara sekalipun. Dan, realitas di negeri ini, seakan baru kemarin sore kita berdemokrasi, betapa kebebasan berbicara, menulis dan berserikat, tiba-tiba sebagai sesuatu yang biasa.

Sesuatu yang terjangkau murah, bahkan gratis. Saking mudahnya, silang sengkarut gagasan, pendapat, opini, persebaran meme, saling dukung dan caci, mengemuka. Saking gampangnya, apalagi kini didukung oleh kecanggihan alat pesan android, bukan lagi suasana harmonis yang diperoleh, melainkan disharmoni, hingga dehumanisasi.

Bacaan Lainnya

Lepas dari itu semua, saya patut bersyukur hidup di kurun penuh heroik ini. Saya hidup saat gelombang demokratisasi semarak. Pancasila yang nyaris redup, bahkan dimitoskan, kini digali lagi falsafah nilainya.

Gagasan kebhinnekaan semakin mengemuka tak terbendung, meski dari beberapa kelompok agama juga ada yang getol mengadang laju pluralisme, liberalisme, keterbukaan, kesetaraan gender, isu HAM, dan sebagainya.

Secara singkat, menurut Dr. Abd. Moqsith Ghazali, publik keberagamaan di negeri ini terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok eksklusif, kelompok yang bernaung di balik kepastian makna teks suci, berlindung di balik terjemahan literal, dan enggan menjamah pengayaan makna filosofis.

Kedua, kaum inklusif. Kelompok yang turut mewarnai wajah republik dengan berkeyakinan bahwa kita setara, kita sama. Kelompok ini, di kalangan Islam, terutama berasal dari kalangan cendekia muda dan berbasis pesantren tradisional, tak kalah gigih menunjukkan bahwa Islam agama rahmat, Islam agama toleran, dan seterusnya.

Kelompok yang menganut bahwa semua agama sama. Kelompok yang mencoba mencairkan doktrin normatif ke dalam makna yang lebih ilmiah terbuka, senada dengan doktrin agama lain, dan selaras dengan kebutuhan toleransi. 

Kemudian, berdiri di kutub yang berbeda, kelompok ketiga, yakni kaum pluralis. Kaum yang tak berpretensi hendak menyamakan agama. Kelompok yang tak tertarik untuk meneropong norma apalagi menghakimi konsep teologis agama di luar dirinya.

Kelompok yang mencoba bijak bahwa kenyataan beda itu nyata, sehingga usah memperbesar perbedaan, tidak perlu ribet mencari persamaan-persamaan. Titik beda, tidak harus dicari-cari, pasti adanya, pun titik temu, tidak perlu pusing diupayakan pasti wujud, sekira berpaham bahwa perbedaan itu realitas objektif, realitas yang dimaui Tuhan. Kita tinggal menyelaraskan kehendak Tuhan, hidup damai di tengah perbedaan, dan saling mengulurkan bantuan, dan nilai yang dimiliki, tanpa terintimidasi oleh kenyataan beda.

Berpaham pluralisme adalah berpikir objektif bahwa ada atau tidak adanya sesuatu yang objektif, tidak tergantung persepsi subjektif kita. Bahwa Kristen ada, Hindu ada, Budha ada, Khonghucu serta kepercayaan-kepercayaan juga, semua ada secara objektif, cukuplah bagi kita.

Tidak perlu repot berpikir tentang kedudukan teologis mereka masing-masing dalam Islam. Kehadiran mereka tidak memerlukan pembenaran konsep ketuhanan atau apa pun dari Islam.    

Nah, terus terang saya condong pada pluralisme ini. Bahkan sudah biasa di kompleks perumahan tempat saya tinggal. Kalau ada kumpul-kumpul di pos ronda bermain kartu, saya tetap datang, dan tak seorang pun peduli kenapa saya tidak ikut main, karena saling tahu ini soal selera.

Ada yang keranjingan bir, dan tidak sedikit yang ketagihan, tapi tetap mereka menghargai saya yang hanya doyan segelas teh. Mereka merokok, saya tidak, dan tidak lantas mereka merayu-rayu agar saya mencoba sebatang saja, seraya di rumah tetap saya sediakan asbak rokok, tatkala mereka bertandang. Hingga soal keyakinan ketuhanan, masing-masing di sini berdiri dalam keyakinan sendiri-sendiri, tanpa ada penghakiman. Tanpa vonis sesat.

Dari situlah, saya tak habis pikir dengan fenomena ekslusifisme. Saya gagal paham dengan kelompok muslim yang cenderung eksklusif. Kelompok yang menjamur di daerah-daerah yang justru berlatar sejarah abangan. Dari kelompok ini pula, saya menemu konsep puritan: literalisme, antirasionalisme, dan antiinterpretasi.

Dari pengajian mereka, kerap disinggung bahaya rasionalisme, bahaya filsafat, dan mesti hati-hati dengan tasawuf. Saya menemukan mereka sedemikian tegas membelah manusia hanya dalam dua kutub berseberangan: Islam versus Kafir.

Menurut mereka, sebagai muslim mesti tegas dan jelas membenci bahkan memusuhi nonmuslim. Muslim dilarang untuk terlebih dahulu memberi ucapan salam/selamat kepada nonmuslim. Dan kalau pun membalas ucapan salam dari mereka, semestinya tak sampai mendoakan keselamatan atau kedamaian.

Saya sadar, pilihan eksklusif itu hak mereka. Mereka berhak eksklusif, tertutup dengan pikiran pluralisme dan apalagi inklusif. Namun, saya berpikir tetap mesti ada otokritik. Kritik ke dalam tubuh umat Islam tentang keberadaan kelompok yang coba menguasai otoritas “perintah Tuhan” dengan cara intoleransi dan menebar kebencian pada yang lain. Keberadaan kelompok eksklusif ini nyata. Mereka menabuh genderang kebencian dan antipluralisme.

Mereka punya basecamp dan kita bisa bertandang ke sana untuk cek kebenaran berita. Mereka meruntuhkan keluhuran ajaran dan kemuliaan Islam dengan menebar kebencian kepada Jamaah Ahmadiyah. Benci Syiah. Benci Amerika. Benci Israel. Mereka vulgar melarang ritual tahlilan, yang biasa dilaksanakan kelompok tradisi.

Padahal saya menangkap konsep dari teks suci bahwa Tuhan menghadirkan manusia ke muka bumi, tak sekadar untuk hadir, tapi tertuntut tanggung jawab “lita’arafu”, yakni memberadabkan. Memberadabkan sama artinya dengan tidak menyebar kekerasan, tidak menebar kebencian, tidak mengusung intoleransi.

Tanggung jawab manusia itu tidak merusak keindahan warna-warni ciptaan Tuhan, tidak melukai perasaan sesama, dan tidak menyakiti nalar sehat yang lain. Memberadabkan adalah mewujudkan nilai kebertuhanan di atas muka bumi. Menyebarluaskan sifat-sifat yang merupakan inti kebertuhanan: keadilan, dan kasih sayang.

Sebaliknya, gerakan-gerakan eksklusif, yang kini marak di media sosial, selalu menyikapi segala sesuatu dengan logika konspirasi. Juga logika kekerasan. Logika sebagai kelompok yang lebih unggul dan superior. Beserta sikap arogansi, merasa benar ketika berhadapan dengan kelompok lain.

Tatkala berhadapan dengan teks suci, kelompok eksklusif acap membesar-besarkan peran teks ketimbang nalar logis manusia. Seakan makna teks itu sudah jelas bin gamblang, sehingga subjektivitas manusia dalam menafsirkan teks tidaklah relevan untuk mengimplementasi perintah Tuhan.

Terkesan pula, dari ulah mereka, bahwa satu-satunya Islam yang benar adalah Islam yang bercorak budaya Arab Saudi. Hanya ada satu Islam sejati, yakni yang senantiasa mendasarkan diri pada kata demi kata kitab suci secara literal. Upaya rasionalisasi, upaya pendalaman makna kata, upaya memasuki lorong esoteris, mereka sebut sebagai pengaburan kesejatian Islam.

Sungguh, saya tak mengerti. Kenapa sampai eklusif! Kenapa tidak bisa pluralis! Ungaran, 22/12/2020

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait