Scroll untuk baca artikel
Blog

KH. Masagus Ahmad Fauzan Yayan, Lokomotif Perkembangan Islam Masa Kini di Palembang Darussalam

Redaksi
×

KH. Masagus Ahmad Fauzan Yayan, Lokomotif Perkembangan Islam Masa Kini di Palembang Darussalam

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – KH. Masagus Ahmad Fauzan Yayan, seorang yang dikenal luas saat ini di Sumatera Selatan. Gebrakan dan kepeloporannya dalam mengusahakan berkembangnya pondok-pondok dan rumah-rumah tahfidz Al-Qur’an akan dikenang di kemudian hari sebagai sejarah tersendiri dalam dunia dakwah, khususnya di bumi Palembang Darussalam.

Banyak kader-kader dan binaannya telah menetas dan meneruskan misi dan jejak Kyai muda ini dengan mendirikan lembaga pendidikan Al-Qur’an sendiri.

Sebagai informasi, Ustadz Yayan – demikian tokoh ini dikenal luas oleh warga – pada awalnya menimba pengalaman mengelola pendidikan tahfidz Al-Qur’an di lembaga Darul Quran pimpinan KH. Yusuf Mansur – Ciledug Tangerang Banten. Puas menimba pengalaman di lembaga besutan Yusuf Mansur tersebut, dia pun memulai pendirian Rumah Tahfidz-nya sendiri. Namanya Rumah Tahfidz Kiai Marogan yang mengambil lokasi di kompleks Masjid Kiai Marogan Kertapati Palembang. Maklum saja, KH. Masagus Ahmad Fauzan memang cicit dari ulama besar di Palembang tersebut.

Kyai Marogan hidup di abad kesembilan belas. Sepak terjang dakwaan tidak saja di Palembang, namun juga menembus tanah Arab. Di Arab Saudi peninggalan aset-aset wakaf dan keturunannya tetap terjaga. Menurut penuturan Kyai Yayan, buyutnya tersebut berasal dari Champa. Kemudian datang ke Palembang untuk menyebarkan dakwah sekaligus membangun masyarakat.

Di masa lalu, Champa merupakan kerajaan yang ramai dengan penduduk Muslim. Bahkan konon salah seorang wali songo berasal dari wilayah yang kini terdiri dari Vietnam dan Kamboja. Sunan Gunung Jati jika tak salah lahir dari seorang putri dari negeri Champa tersebut.

Kembali ke cerita awal, sejak Kyai Yayan merintis Rumah Tahfidz Kiai Marogan, kemudian diiringi usaha gencarnya membangun dan mengggerakkan rumah-rumah tahfidz di Sumatera Selatan, maka bermunculanlah rumah-rumah tahfidz sekaligus lahirnya dengan ramai para penghapal Al-Qur’an. Kyai muda ini secara rutin menyelenggarakan wisuda-wisuda para penghapal Al-Qur’an, mulai dari tingkat 1 juz, 5 juz, 10 juz, 20 juz hingga tuntas 30 juz.

Penulis pernah mengikuti acara wisuda tahfidz di suatu masjid bergaya Tiongkok di Palembang beberapa tahun lalu. Banyak sekali peserta wisudanya. Dan peran sentral Kyai Yayan pada acara itu tak bisa dinafikan. Dan kegiatan semacam itu rasanya rutin tiap tahun dilaksanakan.

Saat ini, lembaga pendidikan yang diasuh Kyai Yayan sudah berkembang menjadi Pondok Pesantren yang strategis. Dikelilingi sungai, Pondok Pesantren bernama Kiai Marogan tampak sebagai objek wisata sosial spritual. Fasilitasnya pun beragam. Mengasuh pendidikan formal mulai dari jenjang TK hingga SMA. Lokasi yang tadinya di Kertapati di Muara Ogan, pertemuan dua sungai: sungai Ogan dan Sungai Musi, kini telah pindah dengan areal yang jauh lebih luas, di wilayah Talang Betutu, berdekatan dengan Bandara Udara Sultan Badaruddin.

Areal Pondok Pesantren Kiai Marogan ini terus bertambah luas dengan dibelinya lahan di sekitar pesantren. Kini pesantren ini juga akan membebaskan lahan berbatasan dengan perumahan dan jalan sekitar lokasi pesantren.

Pencapaian yang diraih oleh Kyai Yayan ini bukanlah mudah dan mulus begitu saja. Boleh dikata, semua nyaris berangkat dari nol. Kalau mengikuti pandangan jamak manusia, inilah pencapaian dari yang kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin.

Semua itu dicapai oleh tekad membaja, kegihihan, keuletan, kerja keras, kerja cerdas dan doa yang tiada henti-hentinya. Barangkali juga ini berkat doa anak-anak yatim yang dilayani dengan baik oleh Pesantren Kiai Marogan.

Kyai Yayan sendiri, jika diflashback ke tahun 2010, saat pertama kali Rumah Tahfidz Kiai Marogan didirikan olehnya, agaknya dia telah mengalami pahit getirnya perjuangan sampai pada titik sekarang ini. Tak terbilang tantangan dan rintangan yang dihalau dan dilaluinya untuk dapat sampai pada pencapaian sekarang ini.

Dengan semua pengalaman itu, akhirnya Kyai Yayan menemukan formula dan kiat membangun lembaga pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dan istimewanya lagi, semua pendanaan untuk membangun fasilitas pendidikan yang tidak murah itu, sama sekali tidak bergantung pada pemerintah, tetapi mendayagunakan instrumen wakaf dan sumbangan perorangan yang tidak mengikat dan dari berbagai orang dan lokasi. Bahkan ada beberapa penyumbang dari luar negeri. Kyai Yayan memanfaatkan dengan cerdas kekuatan internet dengan beragam saluran media sosial yang tersedia untuk menjangkau para penyumbang yang jumlahnya besar sekali.

Boleh dikatakan, Kyai Yayan telah berhasil mengawinkan instrumen wakaf dengan flatform media sosial, sekaligus mengelolanya secara cerdik dan berkelanjutan. Hal ini memang meniscayakan kecerdasan membaca tren dan situasi.

Kyai Yayan secara berkelakar mengatakan, “Sebenarnya orang yang nyata itu, yang berada di media sosial.” Sungguh suatu pernyataan yang mengejutkan. Tetapi mengindikasikan kecermatan membaca tren.

Dari pantauan yang ada, perkembangan rumah-rumah tahfidz di Sumatera Selatan, telah membawa ekosistem dakwah makin kondusif dewasa ini. Sebab yang harus dilihat, setiap rumah tahfidz itu, mengintegrasikan segmen elit Muslim yang gemar menyumbang dan segmen masyarakat Muslim yang kebetulan kurang berpunya. Dan peran semacam Kyai Yayan, merupakan jembatan yang mengintegrasikan dua segmen umat Islam itu.

Ke depan setelah rumah-rumah tahfidz booming dan keakraban masyarakat terhadap Al-Qur’an makin lumrah, maka waktunya maju memasyarakatkan keilmuan Al-Qur’an dan akhlak Al-Qur’an. Singkatnya, gerakan berikutnya di atas fondasi ramainya lembaga-lembaga tahfidz, para donatur dan para penghapal Al-Qur’an, yaitu gerakan ilmu dan akhlak sekaligus. Kita menginginkan sosok para haffazh yang berakhlak menawan dan berilmu laksana begawan.

Menguasai ulumul qur’an, komunikasi, psikologi, filsafat, kewirausahaan dan tentu saja ilmu organisasi. Semua ilmu itu akan membantu seorang hafiezh yang da’i melancarkan pekerjaan-pekerjaannya yang makin kompleks.

Seorang hafiezh dengan sendirinya memiliki kemampuan berpikir kompleks dan strategis. Tidak cukup menjadi muballigh dan guru. Tapi harus menjadi pemimpin masyarakat dan komunitas. Dan sosok semacam itulah yang dijelmakan dalam kehidupan pribadi Kyai Yayan saat ini. []

* Ditulis oleh: Syahrul Efendi Dasopang,
Sekjen Ikatan Sarjana Al-Qur’an Indonesia (ISQI)