Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Berhenti Gak Nangisnya! Penting, Ketahui Kondisi Otak Saat Anak Menangis

Redaksi
×

Berhenti Gak Nangisnya! Penting, Ketahui Kondisi Otak Saat Anak Menangis

Sebarkan artikel ini

Benarkah selamanya orang tua tidak boleh bilang, “Berhenti menangis!” atau “Udah, ya, jangan menangis lagi.”?

BARISAN.CO – Mendapati anak menangis biasanya orangtua menjadi merasa tidak nyaman. Terlebih saat ada tamu atau sedang di luar rumah terkadang tangisan akan semakin menjadi-jadi. Umumnya orangtua akan merasa malu dan segera dengan cara apa pun mendiamkan tangisan anak agar tidak semakin keras.

Namun ketika mengangis sebab karena meminta sesuatu yang tidak seharusnya atau tidak waktunya akan menjadi boomerang ketika harus dituruti saat itu juga. Sedangkan dengan membentak justru malah akan membawa anak pada kondisi toxic stress karena trauma.  

Jika toxic stress yang terjadi tentu ini akan menjadi masalah besar bagi anak. Anak cenderung tumbuh menjadi karakter yang sulit memecahkan masalahnya sendiri. Maka tidak sedikit para pakar yang menyarankan agar tidak melakukan tindakan untuk melarang anak menangis, terlebih dengan bentakan. Namun benarkah tindakan seperti itu?

Namun disisi lain ada saran sebaliknya dari lain ahli mengenai pengasuhan untuk tidak melarang anak menangis. Sebab, hal tersebut bisa membuat mereka kesulitan mengenali, memaknai dan mengekspresikan emosinya sendiri. Mereka pada akhirnya tidak akan mampu mengatasi emosi mereka dengan cara yang sehat.

Hal tersebut di masa depan juga bisa membuat mereka kesulitan menjalin hubungan yang sehat. Di samping itu, mereka juga akan tumbuh menjadi orang yang kurang simpati dan empati. Tak hanya itu, kebiasaan melarang anak menangis juga berbahaya bagi kesehatan mental anak.

Akan tetapi, benarkah selamanya orang tua tidak boleh bilang, “Berhenti menangis!” atau “Udah, ya, jangan menangis lagi.”? Pertanyaan selanjutnya, benarkah kalimat tersebut akan merusak anak-anak kita?

Michael Gurian, peneliti neurobiologi yang fokus pada perbedaan kerja otak laki-laki dan perempuan serta penulis Boys and Girls Learn Differently justru berkata sebaliknya. Ia mengatakan bahwa nasihat untuk jangan pernah melarang anak berhenti menangis sebetulnya terlalu menyederhanakan persoalan ilmiah otak.

Kondisi Otak Anak saat Menangis

Secara ilmiah, pecahnya tangisan anak sering kali terjadi karena stimulasi berlebihan di amigdala otaknya, sehingga mereka sampai mengeluarkan kelenjar air mata.

Gurian menjelaskan bahwa tangisan anak sering kali merupakan respons kebingungan di dalam otaknya mengenai “Bagaimana caranya?” atau “Aku harus apa?”.  

Sebab karena anak adalah manusia kecil yang belum memiliki banyak pengalaman maka dalam konteks tersebut, sering kali tangisan berarti sebuah kebingungan bagi anak sehingga menyiratkan permohonan bantuan pada orang dewasa untuk menjawab pertanyaan di dalam dirinya tanpa mereka sampaikan secara langsung dengan kata-kata.

Maka di sinilah peran orang tua untuk menjawab atau memfasilitasi kebingungan yang ada di pikiran mereka.

Pilih Kata-kata yang Tepat

Gurian juga setuju bahwa melarang anak menangis mentah-mentah memang memiliki dampak yang tidak baik. Menurutnya, menekan ekspresi emosional anak juga berbahaya pertumbuhannya hingga dewasa kelak.

Akan tetapi, perlu diingat lagi bahwa tugas orang tua bukan hanya memberikan empati serta memvalidasi emosi anak, melainkan memfasilitasi sumber kebingungan yang membuat anak menangis tadi. Sehingga, menurut Gurian, tidak masalah bila orang tua mengatakan, “Berhenti menangis!”  bila disertai dengan sesuatu yang konstruktif. Yakni, sesuatu yang berkaitan dengan mendorong anak mencari tahu masalahnya serta memecahkannya.

Membangun Ketahanan Anak

Mungkin anda masih tidak yakin untuk berkata, “Berhenti menangis!”? pada anak. Coba kita bandingkan empat skenario ini saat anak menangis.

Skenario 1: Orang tua berkata pada anak, “Berhentilah menangis. Kalau tidak, Ayah/ Bunda akan melakukan sesuatu!” (Sambil memegang sabuk atau sapu)

Skenario 2: Orang tua berkata pada anak, “Berhentilah menangis. Menangis hanya membuatmu lemah, Ayah/ Bunda malu gara-gara kamu.” (Sambil mendiamkan anak atau berjalan pergi meninggalkan anak) 

Skenario 3: Orang tua berkata pada anak, “Berhentilah menangis. Sudah cukup, ya. Itu tidak bisa membantu menyelesaikan masalah.” (Diikuti dengan memberikan anak strategi ekspresi emosional lainnya seperti senyum untuk sedikit melegakan perasaan anak)

Skenario 4: Orang tua berkata pada anak, “Berhentilah menangis. Kalau kamu melihat atau ada merasa ada masalah, lakukan sesuatu untuk mengatasinya.” Atau dengan mengatakan, “Berhentilah menangis. Ada apa, apa yang bisa Ayah bantu?” (Sambil terus berada di sampingnya untuk mendukung hingga anak tenang)

Dalam dua skenario pertama, ilmu psikologi berbasis otak akan setuju bahwa orang tua kemungkinan besar akan menyebabkan kerusakan sosial-emosional pada anak-anak mereka. Terutama, jika hal tersebut dilakukan berulang.

Namun, dalam skenario  tiga dan empat, orang tua yang menyuruh anak berhenti menangis, sebenarnya untuk membantu anak dalam membangun ketahanan, sehingga membantu anak menjadi orang dewasa yang matang, mengatur diri sendiri, dan memecahkan masalah.

Artinya, meminta anak berhenti menangis tidak selalu menjadi hal yang terlarang untuk dilakukan dalam mengasuh anak. Asal dilakukan dengan cara dan tujuan yang tepat. Jadi kalimat “Berhentilah menangis,” akan menjadi kalimat perintah yang orangtua inginkan dan anak harus ikuti. Tentu metode ini akan menjadi lebih bisa dalam membantu mengatasi masalah anak.