Diana Ivanova dari Norwegian University of Science and Technology bersama rekan-rekannya menemukan, konsumen secara langsung bertanggung jawab atas 20% dari semua dampak karbon.
BARISAN.CO – Sejarah fesyen melibatkan lebih dari sekadar perancang busana. Charles Frederick Worth secara luas dianggap sebagai perancang busana pertama dunia.
Dia mendirikan rumah desain mode di Paris, yang dikenal sebagai House of Worth, saat mode masih dibuat oleh penjahit anonim.
Keistimewaannya adalah mendesain gaun, karena sebelumnya dia pernah bekerja di toko aksesoris pakaian. Dia dikreditkan dengan merancang rangka rok wanita, yang merupakan tambahan modis untuk gaun dan rok di akhir tahun 1800-an.
Sejak tahun 2000-an, produksi fesyen meningkat dua kali lipat dan kemungkinan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050, menuurt American Chemical Society.
Produksi poliester, yang digunakan untuk fast fashion murah, serta pakaian olahraga tela meningkat sembilan kali lipat dalam 50 tahun terakhir.
Dengan harga murah tersebut, amat mudah pakaian dibuang setelah beberapa kali pakai. Sebuah survei menemukan, 20% pakaian di AS tidak pernah dipakai, sementara di Inggris, jumlahnya hingga 50%.
McKinsey memperkirakan, 100 miliar lebih keping tekstil diproduksi per tahun. Produksinya diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030, didorong oleh “fast fashion”. Industri ini menghasilkan 1,2 miliar ton CO2 setiap tahunnya, sekitar 5% dari total emisi global.
Menurut WRI, diperkirakan 5 triliun liter air digunakan dalam proses pencelupan, dan sekitar 48-144 miliar meter persegi kain dari limbah pabrik berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahunnya.
Sementara, diperlukan hingga 10.000 liter air untuk membuat satu celana jeans dan sekitar 2.500 liter untuk membuat kemeja katun.
Secara keseluruhan, industri ini bertanggung jawab atas 20% pencemaran air dunia, air yang cukup untuk memuaskan dahaga 110 juta orang selama setahun penuh.
Ditambah, limbah dan ekonomi sirkular telah menjadi isu utama karena jumlah total limbah tekstil meningkat 8 kali lipat sejak tahun 1960, dengan hanya 15% yang didaur ulang tetapi 85% dibakar atau ditimbun.
Kurang dari satu dekade, tepatnya, pada tahun 2030, emisi gas rumah kaca (GRK) ini akan meningkat lebih dari 50%.
Sedangkan, target suhu 1,5 derajat Perjanjian Paris mensyaratkan dampak iklim mendekati nol pada tahun 2050, menyisakan sedikit atau tidak ada ruang untuk emisi bersih GRK dari produksi tekstil, transportasi, pencucian, atau pengelolaan limbah.
Dibandingkan dengan sektor-sektor seperti plastik, kaca, dan logam, industri tekstil sangat lambat bergerak ke arah ekonomi sirkular. Kurang dari 1% dari semua tekstil di seluruh dunia didaur ulang menjadi tekstil baru. Ini menggambarkan, industri perlu lebih fokus pada keberlanjutan.
Mode berkelanjutan dan sirkularitas dalam rantai nilai tekstil mungkin terjadi, namun abad ini konsumen dunia membeli lebih banyak pakaian dan memakainya dalam waktu yang lebih singkat daripada sebelumnya, membuang pakaian secepat perubahan tren.
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memelopori inisiatif menuju dunia tanpa limbah. Ellen Macarthur Foundation, mitra UNEP, memperkirakan satu truk penuh tekstil yang ditinggalkan dibuang ke TPA atau dibakar setiap detik.
Serat plastik mencemari lautan, air limbah, pewarna beracun, dan eksploitasi pekerja bergaji rendah. Fast fashion adalah bisnis besar, dan sementara biaya lingkungan meningkat, sehingga para ahli mengatakan ada cara lain mengatasi hal tersebut, yakni melalui ekonomi sirkular.
Konsumen Jadi Kunci Industri Fesyen Lebih Berkelanjutan
Pada Konferensi Iklim PBB (COP27) tahun lalu di Mesir, UNEP dan Global Fashion Agenda (GFA) mengadakan acara tentang ‘Sistem Sirkular untuk Industri Mode Net Positif’, yang menarik para pemimpin industri untuk membahas rute menuju ekonomi sirkular untuk industri, dengan lebih sedikit limbah, lebih sedikit polusi, lebih banyak digunakan kembali, dan lebih banyak daur ulang.
Sekarang, UNEP dan GFA mempelopori konsultasi di seluruh industri fesyen untuk menentukan jalur menuju net-positif—artinya industri yang memberi lebih banyak kepada dunia daripada yang diambil. UNEP juga membuat peta jalan menuju keberlanjutan dan sirkularitas dalam rantai nilai tekstil dan berupaya mengubah narasi sektor, melihat peran konsumsi dengan pedoman komunikasi mode berkelanjutan.
Namun, kunci untuk membuat industri ini lebih berkelanjutan adalah konsumen. Jika ingin industri fesyen mengadopsinya, maka sebagai konsumen, kita perlu memerhatikan bagaimana pakaian dibuat dan dari mana asalnya, serta menunjukkan kepedulian ini melalui apa yang kita beli. Sehingga, pasar akan merespons.
Berikut ini cara menjadi konsumen yang bertanggung jawab:
- Beli yang paling etis
- Mengurangi konsumsi dapat menghemat uang dan mengurangi kerusakan lingkungan. Itu adalah sesuatu yang sebagian besar dari kita dapat lakukan dan tidak memerlukan biaya sepeser pun.
- Daur ulang pakaian menjadi sesuatu yang diinginkan
- Beli pakaian second-hand
- Cari label terpercaya. Ada banyak label etis, namun beberapa lebih dapat dipercaya dan ketat dari yang lain, maka cek label tersebut, misalnya di Cruelty Free International, Fairtrade Foundation, dan lainnya.
- Sewa pakaian
- Kenakan pakaian lebih lama
- Periksa Indeks Transparansi Mode untuk melihat peringkat perusahaan dalam hal transparansi
Selain itu, pastikan untuk membeli yang kita butuhkan. Mungkin, kita tergoda dengan berbagai pilihan trend fashion yang saat ini sedang menjamur.
Mengutip EurekAlert!, Diana Ivanova dari Norwegian University of Science and Technology bersama rekan-rekannya menemukan, konsumen secara langsung bertanggung jawab atas 20% dari semua dampak karbon.
“Kita semua suka menyalahkan orang lain, pemerintah atau bisnis. Tapi, antara 60-80% dampak di planet ini berasal dari konsumsi rumah tangga. Jika kita mengubah kebiasaan konsumsi kita, ini juga akan berdampak drastis pada jejak lingkungan kita,” jelasnya.
