Manfaat Mengajak Anak Memasak Sambil Ngobrol Soal Krisis Pangan

  • Whatsapp
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

Barisan.co – Dapur mungkin adalah penggaris yang bisa digunakan mengukur realitas hidup. Kita sering mendengar istilah ‘dapur ngebul’ dan lekas memahaminya sebagai standar kehidupan minimal.

Pada kenyataannya, komoditas pangan yang ada di dapur kita merupakan cerminan dari statistik dan tatanan yang lebih besar. Ada hubungan, misalnya, antara beras bansos yang tertumpuk di dapur kita, dengan realitas pandemi yang pelik di baliknya. Ada pula hubungan jumlah cabai yang mampu kita beli, dengan kebijakan sektor pertanian.

Bacaan Lainnya

Suatu hari di tahun 2008, saya ingat betul gerutuan Ibu saya sepulang ia dari pasar, karena cabai mahal. Sehari setelahnya saya membaca koran Suara Merdeka dan merasa Ibu saya memang berhak menggerutu. Tertulis di koran, harga cabai rawit merah melesat dari Rp5.000/kg menjadi Rp25.000/kg.

Hari itu saya masih bocah, tapi saya memahami betapa harga menentukan rasa. Masakan bercita rasa ‘asin-pedas-pesisir’ khas bikinan Ibu saya tiba-tiba menjadi lain, walaupun tetap enak. Saya tanyakan kenapa rasanya berbeda, ternyata Ibu menyiasati kekurangan cabai dengan kombinasi jahe dan lada bubuk.

Sejak itu saya tertarik belajar memasak. Lebih seringnya hanya mengamati cara Ibu menciptakan kondisi inovatif ketika ada masalah yang harus ia selesaikan di dapur.

Mula-mula saya belajar membedakan antara jahe, lengkuas, kunci, dan kunyit. Lalu belajar menabur garam. Lalu—dan seterusnya—sampai belajar agar berani memasang gas elpiji tanpa tedeng aling-aling. Walaupun pada akhirnya memasak merupakan seni yang mesti terus dipelajari, saya menemukan dapur adalah dunia yang rumit dan ajaib.

Saya kira, selama anak sudah cukup bijak memegang pisau, dapur cukup menyenangkan sebagai ruang eksplorasi. Dan di zaman tegang ini, ketika banyak orang tua menghabiskan waktu di rumah bersama anak, dapur agaknya tepat dijadikan ruang mengajari anak wawasan-wawasan penting. Katakanlah misalnya, sambil menyiapkan makan malam, orang tua bisa mengajak anak ngobrol tentang krisis pangan.

Hari ini krisis pangan bukanlah ancaman kosong. Tapi apa relevansinya itu diberitahukan kepada anak? Setidaknya, ancaman ini punya kemiripan dengan yang akan mereka hadapi di masa depan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi penurunan luas baku lahan pertanian di Indonesia menjadi 7,1 juta hektare pada 2018 dibanding data sensus 2013 seluas 7,75 juta hektare. Lahan pertanian diperkirakan akan terus menyusut melihat tren alih fungsi lahan yang gencar dilakukan.

Generasi ini menghadapi tantangan pangan yang serius kelak. Sehingga, pelajaran tentang krisis pangan menjadi penting, agar mereka punya kesadaran yang bersemayam sejak sekarang: Lahan pertanian akan semakin sempit.

Dengan kata lain, orang tua memberi anak satu masalah hari ini, yang mungkin akan mereka pecahkan di masa depan.

Syukur-syukur orang tua juga mencontohkan satu-dua hal yang bisa dilakukan sekarang dalam upaya membuat masa itu tidak datang lebih cepat. Itu semua mungkin? Itu semua mungkin. Lagi pula keluarga adalah sejenis budaya yang dapat dibentuk. Dan orang tua dapat membentuk anak-anaknya.

Banyak dikatakan good thing starts at home. Hal baik berawal dari rumah. Tentu saja memasak sambil ngobrol krisis pangan adalah hal baik. Dan kenapa tidak. Anak memang perlu dilibatkan dalam hal-hal yang baik.

Pos terkait