“Fight and you may die, run and you will live, at least a while, and dying in your bed many years from now. Would be willing to trade all the days from this day to that. For one chance to come back here as young men. And tell our enemies that they may take our lives, but they will never take our freedom!”William Wallace
ITU adalah cuplikan pidato William Wallace saat memimpin perang dan menyemangati rakyat Skotlandia menghadapi tentara Inggris di bawah kekuasaan Longshanks (King Edward I) pada sekitar tahun 1297.
Pidato yang sangat mengagumkan dan mampu mengubah suasana hati dan emosi para kumpulan “pemberontak” yang dipimpin oleh William Wallace untuk menuntut kemerdekaan atas penjajahan Inggris.
Why do people go to war?
Dalam babakan sejarah, peperangan terjadi karena berbagai hal, mulai dari membebaskan diri dari belenggu penjajahan, memperluas wilayah kekuasaan, melindungi diri, dendam pribadi atau kelompok, hingga masalah wanita dan harta.
Selama Perang antara Yunani dan Kekaisaran Persia. Orang-orang Persia menginginkan lebih banyak tanah, makanan, dan sumber daya. Mereka juga percaya bahwa pengiriman perdagangan Yunani di Laut Aegea dan Laut Tengah menciptakan masalah bagi perdagangan pelayaran Persia mereka.
Persia pergi berperang dengan Yunani untuk kedua alasan itu. Orang Yunani melawan balik karena mereka ingin melindungi cara hidup mereka. Orang Yunani tahu bahwa Kekaisaran Persia akan menghancurkan pemerintahan pilihan mereka dan bagian lain dari masyarakat mereka yang mereka sayangi.
Dalam sejarah perang Yunani ada cerita perang Troya, atau perang Troy, diangkat dalam film layar lebar berjudul Troy. Sebuah kisah dendam pribadi Achiles terhadap pangeran Hector.
Penyerbuan terhadap kota Troya yang terletak di Asia Kecil, oleh pasukan Akhaia (Yunani) Peristiwa ini terjadi karena Paris (pangeran Troya) menculik Helene dari suaminya Menelaos, raja Sparta. Perang ini merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam mitologi Yunani dan diceritakan di banyak karya sastra Yunani.
Ada juga peperangan karena sebab sepele seperti yang pernah terjadi di zaman Arab jahiliyyah, Ibnu Atsir dalam ‘al Kaamil fit Taarikh, menceritakan tentang ‘Perang Dahis dan Ghubara’.
Perang ini dipicu karena perselisihan antara dua ekor penunggang kuda saat sedang berlomba pacuan kuda, salah seorang dari mereka memukul kuda lawannya agar tidak lebih dahulu memasuki garis finish. Setelah kejadian di lomba pacuan kuda tersebut, pecahlah prang antara dua kabilah yang menewaskan ribuan orang.
Di era modern, Amerika hanya perlu mengangkat isu “senjata Pemusnah Massal” yang dibuat Saddam Husein, serta isu pelanggaran Hak Asasi Manusia oleh Saddam Husein. Kemudian dibantu beberapa negara sekutu, Irak menjadi kuburan massal warga yang tidak berdosa.
Ambisi kekuasaan, politik dan mungkin “kegilaan” lah yang sesungguhnya ada dibalik peperangan itu. Perang mungkin menjadi bagian yang akan tetap dalam kehidupan manusia.
Dalam kehidupan fauna, menurut para ahli, perang terjadi hanya pada kawanan simpanse dan semut. Motifnya tidak lain hanya untuk makanan. Tapi bagi bangsa manusia, perang terjadi sepanjang sejarah dan meiputi semua kelompok dan golongan.
Tapi mengapa kita melakukan perang? Apakah karena takdir kita diciptakan memiliki “hasrat” sebagaimana yang dipertanyakan para malaikat kepada Allah saat penciptaan Adam; “apakah Engkau Ya Rabb, akan menciptakan di atas bumi ini makhluq yang akan merusak di dalamnya, dan menumpahkan darah?” (QS. Al-Baqarah: 30)
Berikut saya kutip 10 teori penting tentang mengapa kita melakukan peperangan menurut Annalee Newitz and Joseph Bennington-Castro:
1. Hipotesis “Male warrior”
Diformulasikan oleh sekelompok ahli psikologi evolusi, hipotesis ini menunjukkan bahwa laki-laki berevolusi menjadi bagian dari kekerasan dan suka perang untuk mengamankan akses ke perempuan dan sumber daya lainnya.
Pada dasarnya, membentuk koalisi kekerasan dengan sesama laki-laki adalah bagian dari strategi untuk kawin. Semakin sukses “koalisi perang”, semakin sukses orang-orang itu akan meneruskan gen mereka.
Seringkali ide ini direduksi menjadi gagasan bahwa dorongan seksual laki-laki adalah akar permasalahan munculnya perang.
2. Perang karena ada pemangsa
Penulis esai Barbara Ehrenreich berpendapat bahwa perang tumbuh dari ketakutan manusia purba akan binatang buas. Ketika manusia berevolusi, salah satu pengalaman formatif kita sebagai spesies akan bersembunyi dari predator yang lebih terampil daripada Homo sapiens. Perang adalah perilaku yang dipelajari, dan ritualnya adalah pertahanan terhadap rasa takut pemangsaan.
3. Elang Persuasif
Dalam perdebatan tentang konflik, ada elang dan merpati, dengan elang mendukung tindakan yang kuat untuk mengakhiri ketegangan dan merpati melakukan negosiasi. Teori Elang Persuasif adalah hasil dari bias optimisme manusia:
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa sebagian besar orang percaya diri menjadi lebih pintar, lebih menarik, dan lebih berbakat daripada rata-rata, dan mereka biasanya melebih-lebihkan kesuksesan masa depan mereka.
Dengan kata lain, kita berperang karena kita secara keliru percaya bahwa kita selalu akan menang, karena kita adalah yang terbaik. Gagasan yang terkait adalah “Rubicon Theory,” yang menunjukkan bahwa ketika orang percaya bahwa mereka sudah menjadi ancaman, mereka melewati ambang psikologis di mana bias baru mengambil alih.
Alih-alih berjalan secara rasional, mereka menjadi terlalu percaya diri dan terlibat dalam perilaku berisiko – seperti memulai perang bukannya mencari alternatif damai.
4. Overpopulasi Malthusian
Berdasarkan teori populasi Thomas Malthus, ide ini menunjukkan bahwa perang adalah hasil tak terelakkan dari populasi yang meluas dengan sumber daya yang langka.
Menurut Stanford, Ran Ambramitzky, pakar ekonomi, menjelaskan gagasan ini cukup sederhana dalam sebuah makalah. Populasi manusia meningkat pada tingkat geometris, lebih cepat dari pasokan makanan.
Malthus percaya bahwa selama manusia tidak melakukan pemeriksaan pencegahan yang layak, maka berdasarkan pemeriksaan positif, perang akan memastikan bahwa populasi tidak melebihi pasokan makanan.
Ide ini tumpang tindih sedikit dengan teori “keseimbangan ekologis” perang, di mana “titik nyala konflik” adalah hasil dari tekanan ekologi dari manusia yang mengeksploitasi terlalu banyak sumber daya dari daratan. Dan saat sumber daya habis, konflik muncul.




