Mau Ke Luar Negeri Harus Punya ‘Paspor Vaksin’ Digital?

  • Whatsapp
CommonPass. Ilustrasi: www.aarp.org

BARISAN.CO – Kalau kamu hobi melancong tapi enggan vaksin, jangan harap bisa ke negara – negara ini. Adalah Denmark dan Swedia berencana meluncurkan “paspor vaksin” Covid-19 pada musim panas. 

Paspor vaksin adalah dokumentasi yang membuktikan kita telah divaksinasi Covid-19 dan menunjukkan negatif terhadap virus. Bagaimana bentuknya, saat ini sedang dalam pengembangan. Tapi kemungkinan besar akan berwujud digital.

Seperti pernyataan Menteri Pengembangan Digital Swedia Anders Ygmen yang dilansir dari france24.com ini, “dengan sertifikat vaksin digital, akan cepat dan mudah untuk membuktikan vaksinasi lengkap,” ujarnya.

Kedua negara nordik itu menargetkan paspor akan rilis pada bulan Juni. Kini mereka tengah mempersiapkan solusi teknis jangka panjang dan berupaya membuat sistem yang sesuai dengan standar internasional seperti yang sedang dibahas oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Uni Eropa.

Di Amerika Serikat, Presiden terpilih Biden telah meminta lembaga pemerintah untuk mengkaji pembuatan sertifikat vaksin Covid-19 digital. Tujuannya untuk mengekang pandemi.

Jadi ada kemungkinan, kewajiban pelancong memiliki “paspor vaksin” saat perjalanan akan diikuti oleh negara-negara lain.

Bahkan dalam beberapa minggu ini, maskapai penerbangan Etihad dan Emirates Airways mulai menggunakan tiket perjalanan digital  yang menunjukkan dokumentasi vaksinasi. Tiket tersebut merupakan hasil pengembangan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (I.A.T.A).

Nantinya penumpang bisa menggunakan ponsel untuk menunjukkan tiket. Ada aplikasi atau dompet digital yang bisa diunduh.

“Ini tentang usaha untuk mendigitalkan proses yang terjadi sekarang dan menjadikannya sesuatu yang lebih harmoni dan mudah. Sehingga orang akan lebih mudah dalam melakukan perjalanan tanpa harus mengeluarkan dokumen yang berbeda di setiap pos pemeriksaan,” kata Nick Careen, Senior Vice President untuk bandara, penumpang, kargo dan keamanan I.A.T.A.

Selain I.A.T.A, perusahaan  perangkat lunak komputer Amerika Serikat, IBM, juga telah mengembangkan Digital Health Pass (paspor kesehatan digital). Teknologi ini memungkinkan seseorang menunjukkan bukti vaksinasi atau tes negatif agar bisa mendapatkan akses ke lokasi publik seperti universitas, tempat bekerja, bandara dan stadion olahraga.

Paspor tersebut dibangun dengan teknologi blockhain IBM yang dapat menggunakan berbagai jenis data, termasuk pemeriksaan suhu, notifikasi paparan virus, hasil tes dan status vaksinasi.

Organisasi nirlaba Swiss, The World Economic Forum and the Commons Project Foundation, telah menguji paspor kesehatan digital yang disebut CommonPass. Dengan begitu pelancong bisa mengakses informasi tes atau vaksinasi. Paspor akan menghasilkan kode QR yang dapat ditujukan kepada pihak berwenang.

Sudah Ada Sejak Dulu

“Paspor vaksinasi” hanyalah istilah baru. Sebab menunjukkan dokumentasi vaksinasi saat melakukan perjalanan sudah dilakukan sejak dulu. Ada beberapa negara yang mewajibkan seseorang menunjukkan bukti vaksinasi untuk penyakit rubela, kolera, dan demam kuning. 

Afrika misalnya. Negara tersebut membutuhkan bukti vaksinasi demam kuning dari pelancong. Setelah divaksinasi, para pelancong menerima Yellow Card atau kartu kuning yang ditandatangani dan dicap. Kartu itu dikenal sebagai “Sertifikat Vaksinasi” atau “Profilaksis Internasional”.

“Paspor vaksin sebenarnya telah digunakan sejak tahun 1800-an. Konsep paspor vaksin seperti kartu kuning digital itu,” ujar Kepala Pemasaran dan Komunikasi untuk proyek commons Thomas Crampton yang dikutip dari CNN Indonesia.

Melansir pemberitaan di The New York Times, Direktur Eksekutif Linux Foundation Public Health Brian Behlendorf mengatakan setiap orang yang telah melakukan perjalanan ke negara-negara yang membutuhkan vaksin terhadap malaria, difteri, dan penyakit lainnya telah mendapatkan kartu kuning.

Bahkan di sekolah umum, orang tua juga harus menunjukkan anak-anak mereka telah divaksinasi. “Ini bukanlah sesuatu yang baru,” kata Brian.

Yang membedakan antara “paspor vaksin” dengan “kartu kuning” adalah di komponen digitalnya. Dalam “paspor vaksin” Covid-19 dimungkinkan memiliki satu catatan vaksinasi untuk memesan penerbangan, hotel, dan hal lainnya. “Seharusnya berfungsi seperti email,” ungkap Brian.

Apapun yang dilakukan oleh negara-negara maju tersebut adalah langkah untuk menyelamatkan manusia dari kerugian-kerugian yang disebabkan pandemi Covid-19. Seperti meningkatkan kesehatan dan membangkitkan perekonomian, khususnya industri pariwisata.

Semoga hal itu juga akan berlaku di Indonesia ya! Sebab pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar di negeri ini.[]

Pos terkait