Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Membiasakan Anak Bertanya

Redaksi
×

Membiasakan Anak Bertanya

Sebarkan artikel ini

Namun, pernahkah kita merenung bahwa di mata Sang Ilahi, kedudukan anak itu lebih tinggi dibanding orang dewasa; bahwa kitalah yang harus ‘menjadi seperti kanak-kanak’, bukannya mereka yang menjadi seperti orang dewasa.” (Charlotte Mason, Vol. 6 hal. 81)

BAIK dalam kitab Injil maupun Taurat, Tuhan memerintahkan umat untuk selalu memuliakan yang lemah. Nah, Charlotte Mason, ungkap Ellen Kristi, ingin mengembalikan posisi orangtua di atas jalur rel yang benar, sebagai pelayan. “Menjadi seperti anak-anak, niscaya menempatkan diri kita sebagai orang yang tidak sok kuasa, tidak sebagai tuan!”

Menyimak paparan Ellen, surah al-Maun, yang sering dikupas para khatib, tiba-tiba berkelebat di benak saya.Tersebutlah, orang yang salat tapi disumpahi Tuhan sebagai pendusta agama. Padahal salat adalah perintah-Nya. Kenapa demikian?

Tidak lain tidak bukan, lantaran ia lupa pada salatnya. Lupa di sini bukan lupa melaksanakan salat, melainkan melupakan makna salat. Ia mengerjakan ibadah vertikal itu, tetapi enggan menolong dan tak mau berkorban walau sedikit saja kepada yang lemah. Dalam ayat lain, surah an-Nisa ayat 75, “mengapa kamu tidak membela orang-orang yang dilemahkan….

Maka, sungguh tepat, sekira orangtua ‘menjadi seperti kanak-kanak’. Anak-anak itu jauh lebih lemah ketimbang kita yang dewasa. Dari segi apa pun, mereka lemah. Kita mesti bisa menempatkan diri sebagai pelayan, bahkan harus, mengutip Charlotte, “dengan rasa takzim”.

Kita (mesti) memahami anak-anak itu apa adanya berikut segala potensi dalam diri mereka, secara mendalam, dengan rasa takzim.” (Vol. 6 hal. 81).

Mengingat, betapa kita acap kali tidak berimbang dalam memberi respek. Ketika ada orang penting lewat, sontak kita menjura padanya. Ketika berhadapan dengan orang dewasa, kita langsung menaruh rasa respek. Lain ketika berhadapan dengan anak-anak, kita anggap angin lalu. Kita biasa saja. Seolah anak tidak perlu didengar. Tidak pentng diperhatikan. Seakan anak itu sejenis makhluk yang remeh.

Berarti children-centered dong? Orangtua menyerah pada anak? Tidak! Orangtua tidak membungkuk semata anak, tetapi demi nilai di balik sosok anak, Tuhan. Bahwa Tuhan telah mengamarkan kita untuk menaruh respek kepada yang lemah. Itulah, “ada hukum yang lebih tinggi, yang harus kita tegakkan, yakni memuliakan yang lemah,” sambung Liang-Thay Siek, suami Ellen.

Sehingga gugurlah anggapan: Charlotte menganut paham children-centered. (Dalam Cinta Yang Berpikir, Ellen telah meringkaskan secara gamblang bahwa Charlotte Mason bukan penganut baik children-centered maupun parent-centered, melainkan beraliran principle-centered).

Diskusi di aula Bhakti Ibu pun kian seru. Ya, saya merasakan diskusi saat itu, 14 Maret 2019, berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Nyaris semua yang hadir mengajukan pertanyaan, dan refleksi-refleksi kecil. Mereka mengungkapkan kegalauan. (Dalam hati saya bersyukur, ternyata tidak hanya saya yang tesergap galau. Lumayan banyak yang senasib. Hahahaha.)

Ellen meneruskan keseruan obrolan, pagi itu, dengan mengajukan pertanyaan, “bolehkah orangtua menetapkan ekspektasi yang tinggi pada anak?”

Teman-teman pun ragu untuk menjawab. Hingga kemudian, “ada riset,” kata Ellen, “anak homeschooling bisa meraih karir lebih cemerlang karena perhatian dan ekspektasi yang tinggi dari orangtua.”

Nah, jelas sudah, kita bisa menetapkan ekspektasi. Namun, tetap kudu hati-hati! Sebab ekspektasi bisa abused. Sebaliknya, tanpa ekspektasi akan chaos. Lantas? Itulah seninya. Kita mafhum, seperti halnya hukum alam, untuk berkembang kita harus melawan entropi. Nah, ekspektasi merupakan upaya menarik anak tidak menyerah jatuh dalam entropi.