Scroll untuk baca artikel
Kisah Umi Ety

Membudayakan Membaca Pada Anak (Bagian Dua)

Redaksi
×

Membudayakan Membaca Pada Anak (Bagian Dua)

Sebarkan artikel ini

Cerita ini rupanya sangat berkesan bagi Aya. Dikemudian hari, dia mengatakan menjadi senang mencoba-coba makanan. Diantara saudara-saudaranya, Aya paling mampu menilai makanan. Padahal, saya sendiri selalu mengajarkan hanya ada dua rasa makanan, yaitu enak dan enak sekali.

Sementara itu, Akram si bungsu sangat menyukai buku cerita “Semut Putih dan Pohon Beringin”. Kisahnya tentang keluarga besar semut putih yang meminta bantuan pada pohon-pohon untuk menyelamatkan mereka dari ancaman bahaya banjir. Kakek dan cucu semut putih sudah lama terombang ambing di kapal daun. Hujan yang terus menerus menambah tinggi air di sekitar mereka membuat panik.

Mereka sudah minta tolong kepada pohon mangga, pohon rambutan juga pohon kelapa. Tetapi tetap tidak ada yang mau menolong. Ada yang karena takut badannya gatal dan ada yang takut buahnya dimakan semut. Pertanyaan cucu semut putih yang memelas “Mengapa mereka tidak mau menolong? Mengapa mereka begitu kejam?” selalu membuat Akram ikut sedih. Bahkan sering membuat matanya berkaca-kaca.     

Terpaksa mereka melanjutkan perjalanan mencari pohon yang bersedia mereka naiki. Mereka mendayung dan mendayung sampai mendekati  pohon beringin. Rombongan mereka menarik perhatian pohon beringin dan bertanya “Saudara-saudara semut mau pergi ke mana? Sebentar lagi akan ada banjir.” Kakek semut menjawab “Kami mencari tempat berlindung. Kami telah minta tolong ke pohon-pohon lain tapi ditolak.” Tanpa berpikir panjang lagi, Pohon Beringin mengundang mereka untuk menaikinya. Akhirnya selamatlah keluarga besar Semut Putih. Semua berterimakasih kepada pohon yang baik itu.

Kisah ini rupanya sangat membekas di hati Akram. Dia menjadi anak yang sangat mudah dimintai tolong. Kadang kakak-kakaknya memanfaatkan hal ini. Namun, Akram pun menjadi sangat disayang oleh mereka. [rif]