Scroll untuk baca artikel
Kisah Umi Ety

Membudayakan Membaca Pada Anak (Bagian Tiga)

Redaksi
×

Membudayakan Membaca Pada Anak (Bagian Tiga)

Sebarkan artikel ini

Sejak awal melihat gambar, anak-anak bertanya tentang gambar kura-kura dan siput itu. Mana kaki siputnya?  Jalannya siput bagaimana? Apa itu yang di kepala siput? Apa kura-kura larinya cepat? Dan lain sebagainya. Setelah dirasa cukup berbincang, barulah saya bacakan ceritanya.

Karena bacaannya sedikit, memang terasa kurang menjelaskan buat mereka. Setiap halaman selalu ada pertanyaan. “Kenapa siput mau lomba lari?” “Di mana lombanya?” “Kenapa kura-kura menoleh terus? Larinya tidak melihat ke depan?” Akan tetapi dampak positifnya, membuka ruang bagi anak untuk merangkai kalimat-kalimat sendiri agar menjadi cerita yang lebih lengkap.   

Bertambah usia anak, kertas buku tidak perlu selalu tebal. Jumlah gambar dalam bacaan makin berkurang, sedangkan tulisannya bertambah. Pada usia dini, semua anak-anak kami sudah terbiasa dibacakan cerita dengan halaman yang hanya berisi 1 gambar, dengan tulisan yang relatif berisi cukup banyak kalimat.

Pada jenis bacaan demikian, masih ada pertanyaan spontan dari mereka, namun tidak sebanyak jenis yang terdahulu di atas. Mereka mulai bisa berkonsentrasi mendengar ceritanya. Mereka bertanya jika ada yang dirasa aneh atau kurang bisa diterima pikirannya. Pengalaman saya, yang menimbulkan banyak pertanyaan adalah dongeng-dongeng daerah. Antara lain: “Riwayat Danau Toba”, “Asal Mula Nama Gunung Bromo”, “Batu Belah”, “Malin Kundang”, dan lain sebagainya.

Bertambahnya usia dan telah mampu membaca sendiri, maka tidak penting lagi soal gambar yang sedikit dan tulisan yang banyak. Orang tua hanya perlu memperhatikan apakah mereka tampak menikmati ceritanya. Beberapa buku cerita yang tebal atau berhalaman banyak pun akan dibaca dengan antusias. Contoh di keluarga kami terutama berupa buku-buku petualangan, seperti: Serial Lima Sekawan, Serial Harry Potter, Laskar Pelangi, dan yang semacamnya.    

Memilih bacaan yang relatif sesuai dengan usia anak kami berlakukan hingga usia remaja. Tentu ada sedikit kelonggaran untuk beberapa buku, setelah saya dan abah membaca dan menyepakatinya. Perlu ditekankan bahwa orang tua sebaiknya telah membaca buku yang sebenarnya untuk usia lebih tua, dan yakin hal ini tidak berdampak buruk.

Ketika Aya masih duduk di bangku SMP telah tertarik sekali dengan buku tetraloginya Pramudya Ananta Toer. Dia sempat membaca buku yang keempat “Rumah Kaca”, meski belum dituntaskan. Aya sangat ingin membaca semuanya dari seri yang pertama. Saya beritahu buku pertamanya “Bumi Manusia” sedang dibawa Ira ke Bandung. Ummi sudah pernah membacanya waktu SMA, jadi tahu isinya. Tapi untuk buku ini, baru boleh Aya baca setelah umur 17 tahun.