Scroll untuk baca artikel
Ekonopedia

Mengenal Transaksi Berjalan [Bagian Sepuluh]

Redaksi
×

Mengenal Transaksi Berjalan [Bagian Sepuluh]

Sebarkan artikel ini

BARISAN.COData PII Indonesia antara lain disajikan menurut jenis atau komponennya, seperti investasi langsung, investasi portofolio dan investasi lainnya. Pada masing-masing jenis disajikan posisi dari milik penduduk Indonesia (aset) dan milik pihak asing (kewajiban).

Tiap komponen secara teoritis dapat mengalami aset neto atau kewajiban neto. Disebut kewajiban neto jika posisi kewajiban lebih banyak dalam jenis itu.

Semua komponen PII Indonesia pada akhir tahun 2020 mengalami kewajiban neto, kecuali cadangan devisa yang mencatat aset neto. Komponen investasi portofolio mengalami kewajiban neto tertinggi, diikuti oleh komponen investasi langsung, investasi lainnya, dan derivatif finansial.

Posisi investasi langsung pada akhir tahun 2020 mencatat kewajiban neto sebesar US$152 miliar. Posisi kewajiban investasi langsung sebesar US$97,68 miliar. Sedangkan posisi aset investasi langsung sebesar US$249,95 miliar.

Posisi akhir tahun 2020 mengalami penurunan sebesar US$2,35 miliar dibanding posisi akhir tahun 2019. Sebenarnya terjadi peningkatan kewajiban neto investasi langsung sebesar US$8,27 miliar. Secara neto, modal asing yang masuk lebih besar dari yang keluar. Namun, saat bersamaan terjadi peningkatan yang lebih besar dalam hal posisi aset, yaitu sebesar US$8,27 miliar.

Kecenderungan meningkatnya aset investasi langsung telah terjadi sejak tahun 2015. Dan pada saat pandemi, kecenderungan ini tetap berlanjut, bahkan meningkat dalam nilai yang cukup signifikan. Bisa dikatakan, modal finansial milik penduduk yang diinvestasikan pada jenis ini terus bertambah.

Pada saat bersamaan, posisi kewajiban investasi langsung cenderung stagnan. Bahkan, posisi pada akhir tahun 2020 sedikit lebih rendah dibanding akhir tahun 2013.

Grafik 1: Investasi Langsung (2010-2020)

Sumber data: Bank Indonesia.

Posisi investasi portofolio pada akhir tahun 2020 mencatat kewajiban neto sebesar US$235,89 miliar. Posisi kewajiban investasi langsung sebesar US$23,06 miliar. Sedangkan posisi aset investasi langsung sebesar US$258,95 miliar.

Posisi investasi portofolio akhir tahun 2020 turun 14,9% (yoy) dari tahun sebelumnya yang mencatat kewajiban neto sebesar US$277,1 miliar. Terutama disumbang oleh penurunan kewajiban investasi portoflio sebesar US$39,9 miliar (13,3% yoy). Pada saat bersamaan, terjadi peningkatan aset investasi portofolio sebesar US$1,33 miliar.

Bank Indonesia menilai hal itu dipengaruhi oleh faktor revaluasi negatif sejalan dengan kinerja saham domestik yang menurun dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar AS, terutama pada awal tahun karena dampak pandemi Covid-19.

Sementara itu, penurunan posisi kewajiban investasi portfolio lebih dalam tertahan oleh faktor transaksi surat utang yang mencatat surplus baik di sektor publik maupun sektor swasta.

Sebelum pandemi, kewajiban investasi portofolio cenderung meningkat, meski satu atau dua tahun mengalami sedikit penurunan. Dalam hal aset investasi portofolio juga cenderung meningkat, namun dengan laju yang lebih lambat. Dengan demikian, posisi netonya bersifat kewajiban yang meningkat. Pandemi tahun 2020 tampak sangat berpengaruh.

Grafik 2: Investasi Portofolio (2010-2020)

Sumber data: Bank Indonesia.

Posisi investasi lainnya pada akhir tahun 2020 mencatat kewajiban neto sebesar US$28,86 miliar. Posisi kewajiban investasi lainnya sebesar US$176,25 miliar. Sedangkan posisi aset investasi lainnya sebesar US$147,39 miliar.

Posisi investasi lainnya itu turun 18,4% dari kewajiban neto tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$35,4 miliar. Penurunan disumbang oleh kenaikan posisi aset sebesar US$12,6 miliar yang lebih besar dibandingkan kenaikan posisi kewajiban sebesar US$6,1 miliar.

Bank Indonesia mengatakan kondisi itu terutama ditopang oleh meningkatnya transaksi penempatan simpanan penduduk pada perbankan di luar negeri dan bertambahnya pinjaman serta piutang dagang kepada nonresiden.

Sementara itu, kenaikan posisi kewajiban investasi lainnya dipengaruhi oleh faktor transaksi berupa neto penarikan pinjaman luar negeri, serta faktor revaluasi positif sejalan dengan pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap hampir seluruh denominasi mata uang dunia.

Posisi investasi lainnya selama ini memang masih selalu mencatatkan kewajiban neto, namun dengan nilai yang cenderung turun sejak tahun 2015. Posisi modal finansial asing (kewajiban) dalam jenis ini sebenarnya masih meningkat. Akan tetapi, posisi aset meningkat lebih cepat.

Bisa dikatakan bahwa modal finansial penduduk yang berinvestasi ke luar negeri dalam bentuk yang tergolong investasi lainnya, meningkat pesat. Pandemi pada tahun 2020 tidak mengubah kecenderungan tersebut.

Grafik 3: Investasi Lainnya (2010-2020)

Sumber data: Bank Indonesia.


Kontributor: Awalil Rizky