Scroll untuk baca artikel
Ekonopedia

Mengerti Utang Pemerintah [Bagian Sembilan]

Redaksi
×

Mengerti Utang Pemerintah [Bagian Sembilan]

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CODari berbagai jenis risiko, Nota Keuangan dan APBN 2021 memilih tiga jenis risiko utang pemerintah yang dibahas secara panjang.  Masing-masing indikator dijelaskan pengertiannya, disajikan data tahun-tahun terdahulu, dan kemudian proyeksinya. Meliputi: risiko tingkat bunga, risiko nilai tukar, dan risiko pembiayaan kembali.

Dikatakan bahwa perkembangan risiko tingkat bunga dalam kurun waktu tahun 2016 sampai dengan bulan Juni 2020 menunjukkan tren yang menurun.

Yang dimaksud adalah rasio utang berbunga mengambang (variable rate) terhadap total posisi (outstanding), dari 12,1% menjadi 9,1%. Dalam periode tersebut, pemerintah menerapkan strategi pengadaan utang baru dengan mengutamakan yang memakai tingkat bunga tetap (fixed rate). Terutama melalui penerbitan SBN di pasar domestik.

Pemerintah tampaknya berencana mengubah strategi berutang terkait jenis suku bunga. Atau sekurangnya melonggarkan kecenderungan untuk mengutamakan yang berbunga tetap.

Antara lain disampaikan bahwa berdasarkan kondisi saat ini, dimana pemulihan ekonomi global dalam jangka menengah membutuhkan tingkat bunga yang cenderung rendah dengan potensi kenaikan secara bertahap, maka strategi pengelolaan utang memberikan keleluasaan atau fleksibilitas pengadaan utang baru sepanjang periode 2020-2024 dalam tingkat bunga.

Suku bunga utang mengambang dimungkinkan untuk paling banyak 20,0 persen dari total kebutuhan utang bruto. Padahal seperti telah disebut di atas, posisinya hingga pertengahan 2020 hanya sebesar 9,1%.

Pada jenis risiko nilai tukar diakui terdapat persoalan struktural perekonomian berupa defisit neraca transaksi berjalan, yang berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar sewaktu-waktu.

Oleh karenanya, pemerintah mengatakan bahwa pengadaan utang dalam mata uang asing akan tetap dilakukan secara selektif dan berhati-hati dengan mengutamakan mata uang asing kuat (hard currencies) seperti USD, JPY, dan EUR dengan tetap membuka peluang penerbitan pada mata uang non-hard currency.

Penerbitan SBN valas dikatakan oleh Pemerintah juga akan dilakukan dengan memerhatikan keserasian komposisi aset dan utang valas dan parameter risiko keuangan negara lainnya serta untuk membantu memenuhi kebutuhan cadangan devisa negara.

Dalam hal risiko pembiayaan kembali, pemerintah mengatakan selama kurun waktu tahun 2016 sampai dengan bulan Juni 2020 relatif stabil dengan average time to maturity (ATM) di kisaran 9 tahun. ATM yang lebih panjang dapat menurunkan risiko gagal bayar dengan mempertimbangkan kemampuan membayar kembali dan biaya.

Grafik trajektori hingga 2024
Uraians.d 2024*)
Indikator terkait pengelolaan utang
Interest Rate Risk (%) 
– Rasio Variable RateMaksimal 20,0%
Exchange Rate Risk (%) 
– Rasio Utang FX-Total UtangMaksimal 41,0%
Refinancing Risk 
– Utang Jatuh Tempo < 1 tahun (%)Maksimal 10,5%
Average Time to Maturity (tahun)Minimal 8 tahun
Indikator Terkait Fiskal (%) 
– Rasio utang terhadap PDBRange 38-43%

*) trajectory s.d 2024 ditetapkan pada batas maksimal/minimal yang telah mengakomodasi terjadinya shock akibat nilai tukar.

Dalam hal ini, pemerintah memiliki waktu lebih panjang untuk mempersiapkan kewajiban pembayaran dan memiliki kesempatan untuk melakukan reprofiling instrumen-instrumen utangnya melalui operasi liability management. Pemerintah menyatakan komitmen mengupayakan pengadaan utang dalam tenor jangka menengah-panjang.

Dalam jangka menengah, pengadaan utang baru dikatakan oleh Pemerintah akan mempertimbangkan ketiga risiko di atas. Akan tetapi dari tabel yang disajikan Nota Keuangan dan APBN 2021, pemerintah sebenarnya dimungkinkan melakukan perubahan, atau memberi keleluasaan yang lebih luas.

Sebagai contoh, risiko nilai tukar memang diupayakan menurun, namun batas maksimalnya dipatok 41,0% pada akhir tahun 2024. Begitu pula dengan rasio utang yang bersuku bunga mengambang, dilonggarkan hingga bisa mencapai 20% pada akhir tahun 2024.