Menghawatirkan! Pengembangan AI pada Aplikasi Medsos

  • Whatsapp
Artificial Intellegence
Artificial Intellegence/Ilustrasi: pngtree.com

Artificial Intellegence (AI) merupakan sebuah kecerdasan buatan yang bersifat proaktif terhadap berbagai data-data digital. Hal tersebut sebagai riset atas kajian-kajian dari rekam jejak digital yang saling terhubung antar belahan dunia.

Sehingga dengan adanya AI tersebut bisa difungsikan untuk berbagai kepentingan. Dari bersifat membangun bahkan juga bersifat mendestruksi atau perusakan tiap diri manusia.

Bacaan Lainnya

Saat ini mulai marak beragam aplikasi media sosial. Begitu juga dengan berbagai fitur yang melingkupinya seperti, chatting, messenger, video call, gambar, pengiriman data, maupun call. Memberikan sebuah gebrakan baru yang bersifat masif dan terintegrasi tiap pengguna bahkan sampai penghujung dunia.

Munculnya platform aplikasi media sosial dengan berbagai nama dan fiturnya tersebut tentunya memberikan berbagai dampak terhadap pengguna. Dampak tersebut tidak hanya dampak psikis tapi juga fisik.

Segala sesuatu baik buruknya memang tergantung kembali terhadap penggunanya. Kini media sosial mulai diuji dan riset dengan Artificial Intellegence. Pengembangan platform media sosial tersebut diujikan atas riset AI, maka needs maupun demand sangat berkemungkinan berada di tangan developer aplikasi tersebut.

Jadi dengan adanya konsepsi kinerja AI, produk tidak lagi diciptakan atas dasar memenuhi kebutuhan saja. Namun, ketika algoritma AI dengan tingkat kaku yang tinggi tersebut diciptakan maka sangat mungkin kebutuhan yang diciptakan. Bukan lagi produk yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan.

Tentu sangat membahayakan ketika teknologi bisa mem-polarisasi semua umat manusia dalam membentuk pola pola peradaban baru yang dikuasai dan dijalankan oleh kapitalis global.

Semacam contohnya kinerja AI yang sering kita jumpai, ketika kita menuliskan sebuah kata di Google apa pun itu. Pasti mesin pencari/ dikenal istilah search engine merekam segala keyword atau kata kunci yang kita masukkan.

Di situlah dalam waktu dekat kita akan sering melihat iklan di website, maupun kita tak segan menerima berbagai email berisikan penawaran yang isinya tak jauh dari apa yang kita cari di Google ataupun berbagai jenis website yang kita telusuri.

Medsos Pengaruhi Perilaku Milenial

Akhir-akhir ini platform media sosial membentuk keseragaman baru bagi mentalitas milenial. Sebut saja aplikasi TikTok, dalam platform tersebut TikTok menyuguhkan milenial untuk berkreasi dalam gerakan maupun visualisasi yang memikat mata untuk selalu mengeksplore tiap video yang terunggah.

Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan. Ketika video tersebut sering kali menyuguhkan hal-hal yang tak jauh tentang seksualitas (tubuh perempuan yang berlenggak-lenggok) ataupun video dengan musik dan lirik lagu yang sangat tidak edukatif bahkan mengancam lunturnya kesantuanan atau adab diri milenial.

Mencekamnya, bukan hanya 1 aplikasi saja tapi saat ini banyak sekali aplikasi media sosial yang mempunyai bentuk dan pola masing-masing. Namun sayangnya tak semua memberikan sebuah nilai kebaikan. Bahkan, prostitusi saat ini pun terselubung di dalamnya.

Apalagi dengan aksesbilitas yang sangat mudah dan simpel digunakan tentu anak usia dini maupun di bawah remaja sangat mungkin untuk bisa mengakses.

Hal inilah yang membuat sebenarnya produk yang tidak dibutuhkan menjadi kebutuhan karena kecanggihan robot super AI dalam mengolah secara rigid dan tepat algoritma rekam jejak digital manusia.

Di era postmodern saat ini memanglah kebutuhan yang diciptakan, bukan lagi sebuah produk yang di ciptakan untuk memenuhi kebutuhan mutlak.

Pos terkait