Scroll untuk baca artikel
Blog

Menuju Indonesia Sejahtera Bersama Anies Baswedan

Redaksi
×

Menuju Indonesia Sejahtera Bersama Anies Baswedan

Sebarkan artikel ini

TUJUAN kemerdekaan Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 sering disebut oleh Anies Baswedan sebagai janji kemerdekaan. Ditegaskan bahwa itu merupakan janji negara kepada seluruh rakyat Indonesia. Menjadi acuan penyelanggaraan kehidupan bernegara di semua tingkatan dan menjadi tanggung jawab semua komponennya, termasuk warga negara. 

Sebagaimana diketahui, tujuan kemerdekaan dalam Pembukaan UUD 1945 dijabarkan dalam empat kalimat. Yaitu: Melindungi segenap bangsa Indonesia den seluruh tumpah darah Indonesia; Memajukan kesejahteraan umum; Mencerdaskan kehidupan bangsa; serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Tidak sekadar ucapan, rekam jejak kehidupan Anies Baswedan menunjukkan dirinya selalu berjuang menjadi bagian dari negara untuk memenuhi janji tersebut. Sebagai warga negara biasa, beliau telah berkiprah dalam dunia pendidikan, antara lain sebagai rektor Universitas Paramadina. Beliau juga menginisiasi beberapa gerakan sosial bidang pendidikan yang kemudian dikenal luas, seperti Indonesia Mengajar, Turun Tangan, Kelas Inspirasi, dan lain-lain.

Kesertaannya dalam upaya mencerdaskan bangsa sebagai salah satu janji kemerdekaan dilakukan secara serius dan terbukti memberi kontribusi besar. Peran demikian makin tampak ketika Anies Baswedan diberi amanah sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Konsep yang melandasi berbagai kebijakan dicerminkan oleh istilah yang dipopulerkan beliau, yaitu ekosistem pendidikan. Konsep yang menyertakan peran aktif seluruh pemangku kepentingan, termasuk orang tua murid, masyarakat dan dunia usaha.   

Tujuan kemerdekaan sebagai acuan tindakan dan kebijakan Anies baswedan makin terlihat ketika beliau menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Aspek melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa diturunkan ke dalam berbagai kebijakan dan sebagian besarnya telah memperlihatkan hasil yang nyata.

Bisa dikatakan hanya aspek ikut melaksanakan ketertiban dunia yang belum cukup mengedepan. Hal itu karena keterbatasan wewenangnya hanya sebagai Gubernur. Bagaimanapun, Anies Baswedan masih sempat mengangkat peran Indonesia dalam interaksi antar pemimpin kota-kota besar dunia.   

Das Sollen dan Das Sein Tujuan Kemerdekaan

Das sollen atau kondisi yang diharapkan dari tujuan kemerdekaan dapat ditafsirkan dalam berbagai indikator sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain. Secara teknis, indikator bersifat dinamis atau bisa beru sesuai perkembangan zaman. Secara substantif tetap harus sesuai atau mengacu pada tujuan kemerdekaan.

Sebagai contoh, aspek melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia antara lain pada berbagai indikator penegakan hukum. Aspek mencerdaskan kehidupan bangsa pada berbagai indikator pendidikan. Aspek kesejahteraan umum pada berbagai indikator ekonomi, seperti kemiskinan, ketimpangan, pendapatan rakyat, ketersediaan pekerjaan, dan lain sebagainya.  

Das sein merupakan keadaan atau kondisi yang nyata pada suatu waktu, misalnya selama beberapa tahun terakhir dalam dinamika negara Indonesia. Tampak bahwa Das sein masih sangat jauh dari das sollen, bahkan cenderung makin menjauh dalam hal mewujudkan tujuan kemerdekaan.

Tujuan kemerdekaan yang kasat mata belum tercapai adalah dalam hal memajukan kesejahteraan umum. Kondisi kemiskinan dan ketimpangan nyaris tidak membaik selama satu dekade tarakhir. Kondisinya sangat rentan terhadap gejolak ekonomi eksternal ataupun resesi karena hal lain, seperti pandemi. Hal serupa dalam hal kesempatan rakyat untuk bekerja secara produktif dan memperoleh pendapatan yang layak.   

Das sein yang jauh dari das sollen tujuan kemerdekaan terlihat dalam banyak bidang lainnya. Antara lain soal stunting, kemunduran atau stagnasi dunia pendidikan, kelemahan penegakan hukum, makin meningkatnya korupsi, kohesivitas sosial yang menurun, kehidupan politik yang kurang sehat, dan lain sebagainya. Indonesia pun tidak memainkan peran penting dalam dinamika politik dan ekonomi dunia.

Ekonomi Untuk Semua menurut Anies Baswedan

Untuk memperbaiki kondisi tersebut diperlukan kepemimpinan nasional yang kuat, bersih, memiliki ide besar dan mampu mewujudkannya. Pemimpin tersebut juga mesti mengetahui kondisi terkini negara Indonesia, sehingga tahu harus memulai dari mana upaya perbaikannya. Pemahamannya pun harus mencakup kebijakan strategis dan langkah prioritas dalam era kepemimpinannya nanti.

Karakteristik pemimpin semacam itu saat ini ada pada diri Anies Baswedan. Beruntungnya, Anies Baswedan makin menguat posisinya sebagai bakal calon Presiden Republik Indonesia tahun 2024. Berturut-turut telah tiga partai mengatakan akan mengusungnya. Dimulai oleh Partai Nasdem, disusul kemudian oleh Partai Demokrat, dan akhirnya oleh Partai Kesejahteraan Sosial (PKS).

Konsep Anies Baswedan jika terpilih menjadi Presiden cukup tergambar pada tulisannya pada harian Kompas tanggal 17 Februari tahun 2023 lalu. Salah satu yang digarisbawahi oleh tulisan ini adalah terkait dengan aspek memajukan kesejahteraan umum dalam tujuan kemerdekaan.

Anies Baswedan memberi subjudul “Ekonomi untuk semua” pada salah satu bagian tulisan tersebut. Dikatakan bahwa prinsip yang ingin didorong adalah pertumbuhan ekonomi harus berkualitas. Bukan sekadar melihat dari aspek makro, lebih dari itu dampaknya bisa menjangkau semuanya. Kualitas pertumbuhan itu adalah pada jangkauannya. Semakin merata, maka semakin tingi kualitas pertumbuhannya.

Dikatakannya, perekonomian perlu dirancang untuk memperhitungkan mereka yang miskin dengan mengakomodasinya melalui kesempatan-kesempatan yang setara dalam sistem perekonomian. Berupaya membesarkan yang kecil tanpa mengecilkan yang besar.

Urusan ketimpangan dinilai tidak boleh lagi sekadar diselesaikan lewat jaring pengaman sosial. Masalahnya perlu diintegrasikan melalui instrumen ekonomi, seperti moneter, kredit, perdagangan, perpajakan, investasi, dan kebijakan sosial, untuk menciptakan perekonomian yang memberikan kesejahteraan semua warga, bukan hanya sebagian warga.

Pernyataan dalam tulisan beliau yang sangat mendasar adalah, “Ekosistem ekonomi yang setara perlu didukung dengan ekosistem sosial yang lestari. Keduanya harus saling menguatkan, bukan meniadakan.” [rif]