Musim Hujan, Waspada Diare pada Anak

  • Whatsapp
Ilustrasi: freepik.com

BARISAN.CO – Banyak hal yang harus kita waspadai saat musim penghujan, salah satunya adalah penyakit diare. Hujan menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Apalagi jika terjadi banjir, genangan air hujan bisa saja bercampur dengan kotoran yang mengandung patogen.

Di antara patogen berbahaya yang menyebabkan diare adalah rotavirus. Jenis virus ini hidup di dalam air kotor. Tak heran jika virus ini banyak dijumpai di negara – negara dengan sanitasi yang buruk.

Rotavirus pernah mewabah di Colorado, sebuah negara di bagian barat Amerika Serikat. Di tahun 1981, air di kota tersebut terkontaminasi rotavirus sehingga menyebabkan diare pada anak-anak dan lansia. Kemudian menjadi epidemi di India pada 1998 dan Nikagarua sepanjang tahun 2005.

Setelah dilakukan penelitian, air minum yang dikonsumsi kedua negara tersebut mengandung rotavirus. Virus ini memang menular melalui konsumsi air dan makanan yang telah terkontaminasi feses.

Ia kemudian masuk ke dalam perut dan menginfeksi usus. Anak – anak  merupakan golongan rentan terhadap virus ini karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk sempurna. Ketika mereka terserang rotavirus akan mengalami demam, muntah-muntah dan diare.

Menurut Dokter Spesialis Anak Mayapada Hospital Tangerang (MHTG) dr. Anastasia Maureen Sp.A, rotavirus menjadi penyebab terbesar penyakit diare pada anak-anak.  “Setidaknya 70 persen penyebab diare pada balita karena rotavirus,” katanya dalam Instagram Live Mayapada Hospital, Jum’at (19/02).

Anastasia kemudian menyarankan para orang tua untuk selalu memerhatikan kebersihan pada saat menyiapkan makanan dan minuman. Khususnya bagi balita yang minum susu formula.

“Kalau bayi yang diberi ASI (Air Susu Ibu) tidak perlu pusing. Karena ASI mengandung imunologis yang bisa melindungi infeksi. ASI adalah asupan terbaik bagi balita. Pada bayi ASI, kasus diare sangat rendah,” papar Anastasia.

Susu formula sendiri, lanjut Anastasia, bisa menyebabkan diare. Ada beberapa anak yang alergi terhadap susu sapi. Belum lagi jika cara menyajikannya tidak baik.

Anastasia menjelaskan cara penyajian susu formula yang benar. Pertama, cuci tangan terlebih dahulu. Selanjutnya botol dan dot yang sudah dicuci sebelumnya, disterilkan dengan air panas. Tidak hanya disiram saja tapi sebaiknya direbus sampai air mendidih.

Kedua, air mineral yang digunakan harus direbus terlebih dahulu. Karena di suhu 100 derajat celcius, kuman akan mati. “Kadang para ibu mencampurkan air panas dan dingin, cara ini tidak dianjurkan,” ujarnya.

Susu yang sudah diminum namun tidak habis, dalam waktu dua jam harus dibuang. Susu yang disimpan lebih dari dua jam berisiko terkontaminasi patogen yang berbahaya bagi si kecil.

Diare bisa sebabkan dehidrasi

Diare bisa menyebabkan dehidrasi yakni suatu kondisi tubuh kekurangan cairan. Pada saat diare, balita akan sering BAB (Buang Air Besar) dan tinjanya lebih cair dari biasanya. Pada saat itu tubuh kehilangan cairan dan elektrolit keluar bersama tinja.

Pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan ASI dalam jumlah banyak. Bagi bayi susu formula, ibu bisa memberikan oralit. Larutan yang mengandung natrium klorida, kalium klorida, glukosa anhidrat, dan natrium bikarbonat ini sangat penting tapi sering dilupakan.

“Jadi yang harus ada di kotak obat adalah oralit,” kata Anastasia.

Dosis oralit yang diberikan adalah 5 mili dikali dengan berat badan anak. Jadi jika si kecil memiliki berat badan 10 kilogram, oralit yang diberikan sebesar 50 mili. Berikan setelah anak BAB.

“Kasih dia oralit setiap sehabis mencret. Begitu seterusnya sampai diare berhenti,” ucapnya.

Selain oralit, ibu juga bisa memberikan zinc. Namun pemberian zinc dilakukan jika setelah diberi oralit tidak sembuh, BAB disertai darah, muntah dan anak menunjukkan dehidrasi.

Tanda-tanda dehidrasi pada anak adalah anak gelisah atau rewel, tampak lemas dan tak sadarkan diri, rasa haus yang berlebihan (terlihat saat minum), frekuensi buang air kecil yang sedikit dan warna urin sangat pekat.

Lalu bibir dan lidah kering, mata cekung dan tidak keluar air mata saat menangis. “Kalau dehidrasinya berat, anak malah tidak mau diberi minum,” tuturnya.

Apabila anak mengalami tanda – tanda seperti ini para ibu perlu waspada. Sebab dehidrasi merupakan kondisi kegawatan. Jika tidak ditangani dengan baik dampaknya sangat berbahaya. Tekanan darah dan pasokan oksigen bisa turun, terjadi ketidakseimbangan elektrolit, natrium rendah bahkan kejang – kejang.

Dehidrasi juga menyebabkan kalium rendah yang memicu henti jantung. Baik dalam kondisi ringan, sedang, maupun berat, dehidrasi bisa berdampak pada semua organ tubuh.

“Sebaiknya langsung di bawa ke dokter, jika anak menunjukkan tanda – tanda dehidrasi,” tutupnya. []

Pos terkait