Scroll untuk baca artikel
Blog

Otista, Bukan Sekadar Jalan

Redaksi
×

Otista, Bukan Sekadar Jalan

Sebarkan artikel ini

Oto Iskandar keluar dari Boedi Oetomo dan lebih memilih pindah ke Pagoejoeban Pasoendan Cabang Batavia (Juli 1928). Saat itu Oto Iskandar yang menjadi Guru di Hollandsch Inland School (HIS) Pekalongan dipaksa pindah oleh pemerinah kolonial ke Batavia.

Oto Iskandar yang saat itu sudah menikah dengan seorang ningrat Jawa, R.A Soekirah, dinilai berbahaya karena keberaniannya menentang pemerintahan feodal di Pekalongan.

Sikap keras Oto Iskandar tercermin ketika mewanti-wanti istrinya jangan sampai gengsor, jalan sambil duduk, saat menghadap Bupati Pekalongan.

Selama masa kepemimpinan Oto Iskandar, Pagoejoeban Pasoendan juga menerbitkan surat kabar Sipatahoenan. Surat kabar ini kelak menjadi alat perjuangan Oto Iskandar.

Surat kabar ini mulanya milik cabang Tasikmalaya (1923) dan terbit mingguan. Baru pada 1931 surat kabar ini diambil alih Pagoejoeban Pasoendan pusat dan terbit harian.

Karena sering mengkritik pemerintah kolonial, surat kabar ini beberapa kali terjerat Persbreidel Ordonanntie.

Sipatahoenan dilarang terbit dan pengasuhnya beberapa kali harus berhadapan dengan polisi rahasia kolonial bahkan beberapa kali kasusnya sampai ke pengadilan.

Saat Jepang menguasai Indonesia Sipatahoenan dipaksa tutup (1942). Gantinya Jepang meminta Oto Iskandar menerbitkan koran Tjahaja yang propemerintah.

Kesan yang timbul kemudian Oto Iskandar bersifat kooperatif terhadap Jepang. Namun yang terjadi sebenarnya di balik itu, ada agenda besar yang diperjuangkan Oto Iskandar, yaitu mencuri ilmu dari pemerintahan Jepang sebagai bekal untuk memerdekakan Indonesia.

Kelak sifat kooperatif ini sering menyebabkan kesalahpahaman di kalangan para pejuang Indonesia. Kecurigaan ini berlanjut hingga masa perjuangan revolusi–saat Belanda kembali menjajah Indonesia dengan mendompleng Sekutu–yang berbuntut pada penculikan dan pembunuhan Oto Iskandar di Pantai Mauk, Tangerang, 20 Desember 1945.

Dugaan yang berkembang, pembunuhan itu dilatarbelakangi kecurigaan, persaingan jabatan, hingga kepada hal-hal yang berbau primordial, seperti tarik menarik pengaruh antara kekuataan Sunda dan Jawa.

Namun hingga kini alasan pembunuhan yang sebenarnya masih gelap bersamaan dengan jasad Oto Iskandar yang tak ditemukan.

Oto Iskandar meninggal sebelum banyak mengecap kemerdekaan yang diperjuangkannya. Dia tewas sebagai martir revolusi.

Benar kata Bung Karno, seperti ditulis kembali Prof. Dr. Taufik Abdullah dalam pengantar buku ini bahwa revolusi itu mempunyai logikanya sendiri, bahkan juga mempunyai sopan santun sendiri. Revolusi tidak mengenal terimakasih. Ia tidak saja “memakan anak-anaknya” tetapi juga mendurhakai ibunya sendiri.