Scroll untuk baca artikel
Kolom

Pangan dan Energi Jadi Senjata Perang, Indonesia Bisa Apa?

Redaksi
×

Pangan dan Energi Jadi Senjata Perang, Indonesia Bisa Apa?

Sebarkan artikel ini

SEORANG jamaah yutubiah alias YouTuber asal Jerman, Viola, yang kini tinggal di Kota Cirebon, Jawa Barat, curhat dalam sebuah unggahannya. Kisahnya sangat menyentuh terutama soal kondisi mutakhir di negaranya.

Viola yang juga seorang mualaf ini mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiannya menikah dengan orang Indonesia dan tinggal di Indonesia. “Saya ingin sekali kembali dan tinggal di Jerman tetapi situasi di sana sangat sulit. Saya bersyukur tinggal di Indonesia karena di sini saya masih bisa bekerja dan juga harga-harga masih murah. Di sini juga saya punya rumah dan punya kontrakan,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Viola yang kini ‘terpaksa’ memperpanjang masa tinggal di Indonesia mengaku terus memantau kondisi terkini di negaranya. Ibu dua anak itu mengaku mendapat keluhan dari teman-temannya di Jerman yang kini hidup sulit dan banyak yang terpaksa pindah ke apartemen lain yang lebih murah.

Kehidupan di Jerman kini serba sulit karena harga-harga melambung tinggi di tengah ketidakpastian perang Rusia vs Ukraina yang tidak dapat diprediksi kapan berakhir.

Bahkan, Viola pun menceritakan kondisi keluarganya. Kedua orangtuanya yang juga seorang dokter terpaksa tinggal di kliniknya karena tidak bisa menyewa lagi apartemen. Bahkan Viola pun mengirimkan sejumlah uang untuk meringankan beban orangtuanya.

Jerman termasuk yang paling parah terdampak perang karena selama ini hampir separuh kebutuhan energi dan gas dipasok dari Rusia. Dan, Rusia selama ini mengurangi pasokan gasnya yang cukup signifikan ke negara-negara Uni Eropa seperti Jerman, Inggris dan Perancis lewat jaringan pipa bersama yang sangat rumit sebagai senjata perang.

Dampak pengurangan pasokan gas dikhawatirkan akan mencapai puncaknya pada musim dingin di Eropa. Dampaknya sangat mengerikan. Bahkan Dubes Ukraina di Indonesia, Vasyl Hamianin, menyebut Presiden Vladimir Putin akan membiarkan Eropa membeku pada musim dingin apabila tidak ada perubahan kebijakan.

“(Moskow) mengancam dunia dengan menutup celah minyak dan gas, (akibatnya) akan membekukan Eropa sampai mati di musim dingin,” kata Hamianin dalam jumpa pers virtual seperti dikutip dari Tempo.co, Kamis (28/7/2022).

Kondisi darurat energi tersebut memaksa negara-negara di Benua Biru memutar otak. Mereka telah sepakat untuk menghemat gas secara proporsional di negara masing-masing.

Sejumlah negara seperti Prancis pun seperti disitat dari The New York Times, Sabtu (29/7/2022), terpaksa menunda penghentian pembangkit listrik reaktor nuklir yang rencananya akan diakhiri pada 2025. Di negara lainnya pembangkit listrik yang menggunakan batubara pun segera diaktifkan kembali. Mereka untuk sementara mengesampingkan kampanye perubahan iklim dan energi hijau.

Para analis menyebut Rusia telah menggunakan energi dan pangan sebagai senjata perang melawan embargo Amerika Serikat dan sekutunya di Uni Eropa. Ya, kebutuhan gas Uni Eropa disuplai dari Rusia. Begitu juga kebutuhan gandum dan pupuk dunia dipasok dari Ukraina, Rusia, dan sejumlah negara pecahan Soviet lainnya. Negara-negara penghasil pangan dunia mengimpor pupuk dari Rusia.

Badan Pangan PBB (FAO) menyatakan dalam laman resminya bahwa Federasi Rusia adalah eksportir utama pupuk. Sekitar 15 importir pupuk bersih di Amerika Latin, Eropa dan Asia memiliki ketergantungan impor lebih dari 30 persen pada pupuk Rusia. Di antaranya adalah Brasil, India, dan Uni Eropa.

Kondisi dunia yang tidak sedang baik-baik saja dan juga perang Rusia vs Ukraina yang belum ada tanda-tanda berakhir harusnya menjadi bahan pembelajaran dan juga perenungan bagi penguasa dan politikus serta elite di negeri ini.

Energi dan pangan bisa menjadi senjata yang paling mangkus dan sangkil. Tidak hanya untuk menundukkan sebuah negara tetapi dalam tataran regional dan juga internasional dampaknya sangat luas.

Awalnya sedikit yang menyangka bahwa perang Rusia vs Ukraina akan berdampak pada kelangkaan pangan di Timur Tengah, Eropa, Afrika dan Amerika Latin bahkan di Asia Tenggara sampai ke Indonesia. Hanya, karena Pelabuhan Odesa di Laut Hitam diblokade Rusia.

Juga seperti ditulis The New York Times, Ukraina kendati sebuah negara kecil ternyata di dalamnya sangat kaya dengan beragam pasokan pangan yang dibutuhkan dunia.

Ukraina adalah pengekspor gandum, barley, jagung, dan bunga matahari terkemuka. Tetapi karena pelabuhan diblok Rusia, pengirimannya anjlok setelah perang dimulai. Kondisi ini merusak jaringan distribusi makanan global yang sudah terganggu sejak awal lantaran panen yang buruk, kekeringan, gangguan terkait pandemi, dan perubahan iklim. 

Kiranya, para pengambil kebijakan di negeri ini bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi di dunia sekarang. Sayangnya, politik pangan sampai saat ini hanya nyaring sebagai jargon. Food Estate pun hanya enak diucapkan tetapi pahit dalam kenyataan. Penguasa dan politikus pun lebih sibuk mempersiapkan Pemilu 2024 daripada memikirkan dampak krisis ekonomi dunia.

Ohya, apakabar minyak goreng yang masih mahal, pupuk yang mencekik petani serta Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyebar hampir ke separuh provinsi saja belum bisa ditangani.

Saya menunggu pernyataan dari Presiden Jokowi seperti yang diungkapkannya saat bertemu investor di Jepang dan Korea Selatan, “Telepon saya kalau menteri-menteri tak becus menyelesaikannya.” [rif]