Scroll untuk baca artikel
Blog

Parfum Langit Ketujuh – Cerpen Eko Tunas

Redaksi
×

Parfum Langit Ketujuh – Cerpen Eko Tunas

Sebarkan artikel ini

MASIHKAH kau bertanya, mengapa Adam dan Hawa terusir hanya karena melanggar satu larangan, sayangku? Kenapa selalu kau bayangkan itu saat kau menggigit apel, bukankah kau tak terusir dari apa pun dan siapa pun.

Kenapa mesti kau kunyah pelan-pelan apel kesukaanmu, sambil membayangkan kita akan terusir ke dunia yang tidak kita inginkan. Bukankah kita masih di sini, di taman yang setia kita kunjungi untuk memadu kasih. Berbicara tentang diri kita berdua, tentang janji kita untuk menurunkan anak-anak kita. Kenapa selalu kau bayangkan hari esok tak seperti taman ini, tak seindah cinta kita.

Mungkinkah kisah lama akan berulang?

Baiklah, aku tak akan lagi menyebut taman ini sebagai Firdaus, Eden, atau nama lain yang mengingatkanmu pada kisah itu. Aku akan menyebut taman ini sebagai surga, seperti yang kau inginkan setiap kau berbicara tentang cinta.

Sebagaimana dijanjikan Adam kepada Hawa, bahwa surga hanya akan menjadi milik mereka berdua. Meski kau membudut, setiap aku bergurau bahwa kalau begitu kau pun tercipta dari tulang rusukku. Meski surga berarti taman, Firdaus, Eden, atau nama-nama sesudahnya yang memang harus pelan-pelan kau sadari seperti pelan-pelan kau mengunyah apel itu.

Gigit, kunyah, dan telanlah apelmu, meski selalu kau sisakan dan kau lempar, lalu seorang gelandangan setia memungutnya dengan seringai terima kasih.

Masih mending dia, katamu, ketimbang ular-ular – begitu kau menyebut para preman taman – yang selalu mengincar apel-apelmu. Tak kau sadari taman ini memang taman apel, dengan buah-buahnya yang rimbun bergantungan hingga merendah.

Tetapi kau selalu menyebut bahwa ini adalah taman kita, dan lebih dari itu buah-buah apelmu. Bukankah ini juga taman mereka, bahkan rumah mereka, tempat mereka terusir dari rumah-rumah tinggal.

Mereka memang entah datang dari mana saja, dari rumah-rumah yang ditinggalkan atau bukan lagi milik mereka, karena mereka kehilangan kepemilikan, karena mereka tersisih dan tersingkir. Di sini mereka beranak-pinak, tidur pating kruntel di bawah-bawah pohon atau di bangku taman.

Yang kau herankan ialah, kenapa begitu banyak apel tapi mereka mengharapkan apel yang kau lempar setelah kau kunyah.

“Bukankah tak ada larangan,” cetusmu, “dan mereka tinggal memetik…”

“Betapapun mereka tetap percaya pada cerita tentang taman, bahwa taman bukan ladang, tapi sesuatu yang harus dijaga.”

“Bagaimana kalau apel-apel itu bermerahan…”

“Kami hanya mengambil yang jatuh.”

“Untuk dijual?”

“Untuk makan anak-anak agar tumbuh sesegar apel.”

“Lalu siapa yang memetik?”

“Yang jelas bukan kami.”

“Bukankah seperti katamu, mereka yang menanam…”

“Begitulah riwayat kakekmoyang kami.”

Tanyamu lagi, “lalu siapa memetik apel-apel itu pada saatnya…”

Ah, sambil terus memetik dan mengunyah kau masih juga bertanya. Dan wajahmu..wajahmu…..

Aku simpan dirimu lewat senyummu

Di batas mana aku tak percaya surga

Bahkan kisah tentang kebahagiaan…

KAU tahu, aku pun berasal dari mereka, dan gali yang paling disegani di taman ini karena aku memang lelaki pilihan. Aku bisa mengatasi setiap persoalan mereka, dari ihwal kecemburuan hingga kekerasan, sampai ancaman penggusuran atau penangkapan.

Dan kau, mereka menyebut kau berasal dari gedung-gedung tinggi itu, gedung-gedung pencakar langit bagai raksasa yang punya banyak mata: kotak-kotak nyala neon yang di mata mabokku seperti ribuan bulan persegi.

Kau datang dari sana, dari dunia yang tidak aku pahami, turun bagaikan bidadari persembahanku. Melenggang kau di hari Minggu itu, memetik apel-apel seenak udel, dan teman-temanku menangkapmu bahkan nyaris memerkosamu sebagai hukuman bagi si pencuri.