Terkini

Penyuntikkan AstraZeneca Disetop Sementara Setelah Kasus Meninggal Kembali Terjadi

Anatasia Wahyudi
×

Penyuntikkan AstraZeneca Disetop Sementara Setelah Kasus Meninggal Kembali Terjadi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: ANTARA FOTO/Stenly Pontolawokang.

BARISAN.COBertambah satu kasus kematian yang diduga akibat vaksin AstraZeneca di Indonesia. Hal itu terungkap dari laporan BPOM.

Seperti di kutip dari Kumparan, juru bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengklarifikasi hal tersebut, “Iya (kemarin diduga terkait AstraZeneca 2 orang). Tapi kedua kasusnya tidak berkaitan. Karena beda waktu dan kejadian,” kata Nadia.

Secara terpisah, Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas KIPI) Prof Hindra Satari menyebut jika kasus yang kedua ialah lansia. Dalam keterangan Hindra, Komnas KIPI akan segera melakukan uji toksisitas terhadap vaksin batch CTMAV547 untuk membuktikan ketidakterkaitan antara kedua kasus tersebut.

Untuk saat ini, Hindra menyampaikan penyuntikan vaksin AstraZeneca akan dihentikan sementara. “Paling lama dua pekan,” kata Hindra.

Sementara itu, mengenai kasus kematian diduga akibat AstraZeneca yang pertama, yang menimpa warga Jakarta bernama Trio Fauqi Firdaus (22), Komnas KIPI berencana melakukan autopsi jenazah Trio dalam waktu dekat. Komnas KIPI telah berembuk dengan pihak keluarga terkait rencana tersebut.

Diketahui, Trio Fauqi Firdaus divaksin di Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu siang 5 Mai lalu. Tak lama setelah vaksinansi, Trio mengalami demam, lemas, dan sakit kepala. Keluarga hendak membawa Trio sore harinya ke rumah sakit namun itu urung dilakukan. Keesokan paginya, Trio meninggal dunia.

Apakah Vaksin AstraZeneca Berbahaya?

Pada bulan April 2021, Denmark memutuskan berhenti menggunakan AstraZeneca sepenuhnya akibat ditemukannya pembekuan darah pada peserta vaksin. Sindrom pembekuan itu diberi label VIPIT. Pembekuan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang trombosit.

Laporan internasional menunjukkan adanya satu kasus pembekuan darah untuk setiap 40.000 dosis yang diberikan di Denmark, 100.000 dosis di Jerman, dan 250.000 dosis di Inggris.

Kepala Penasihat Medis di Health Canada yang mengelola regulasi vaksin Covid-19, Dr. Supriya Sharma menyebut bahwa tingkat risiko penggumpalan darah lebih berisiko saat mengonsumsi obat-obatan tertentu, termasuk pil KB.  “Sekitar satu dari 1.600 pasien yang menggunakan pil akan mengalami pembekuan.”

Sementara itu, European Medicines Agency (EMA) mengatakan vaksin AstraZeneca memang memiliki efek samping yang paling serius, namun sangat jarang terjadi yaitu pembekuan dari dengan trombosit rendah. Diperkirakan itu terjadi pada 1 dari 100.000 orang yang mendapatkan vaksin tersebut.

Vaksin AstraZeneca disetujui oleh Uni Eropa untuk Covid-19 karena dianggap manfatnya lebih besar dibandingkan risiko bagi individu berpotensi terpapar penyebab penyakit perantara.

Sharma menyampaikan keseimbangan antara risiko vaksin yang membebani sangat kecil sedangkan risiko virus Covid-19 jauh lebih besar.

“Dapatkan vaksin mana pun yang tersedia. Semakin lama menunggu untuk mendapatkan vaksinasi, semakin lama Anda tidak terlindungi,” pungkas Sharma. [dmr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *