Personalitas Sistem

  • Whatsapp
Ulil Abshar Abdalla
Ulil Abshar Abdalla

Barisan.co – Yang saya temui saat itu, 26 Maret 2019, sosok gus yang bak ensiklopedia. Ya, dialah Gus Ulil Abshar Abdalla. Ia berbicara, menemani Dr Abu Hafsin dan Dr Muhammad Arja Imroni, dengan menyusuri keindahan Islam dari buku ke buku.

Ia mengulas Imam Ghazali, mengaitkan kitab-kitab bergenre sama pada masanya. Sungguh mengasyikkan. Dan penuh keberkatan. 

Pada saat itu, saya meniatkan untuk beroleh tabaruk. Sehingga berasa ringan saja, berangkat dari rumah, Ungaran, pukul 18.30. Kemudian pukul 19.33, tiba di masjid Kampus 3 UIN Walisongo. Memang, masih sepi di sana. Dan ternyata, hampir sejam saya mesti menunggu acara mulai.

Syahdan, mulailah pengajian al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk, pukul 20.30. Dr. Abu Hafsin, pemantik pertama, membacakan kitab politik karya Al Ghazali itu tak lebih dari setengah jam.

Selanjutnya, Gus Ulil menyarah paparan Dr Hafsin. Dan terakhir, Dr KH M. Arja Imroni, juga seperti Dr Abu Hafsin, tak berpanjang kata, cukup dengan bilamana ulama berjarak dari politik.

“Saya datang untuk membayar utang,” seloroh Gus Ulil, mengawali pensyarahannya. ”Saya senang sekali Pak Abu Hafsin membaca kitab ini.”

Al-Tibr al-Masbuk merupakan pedoman politik untuk para raja, best practice penguasa adil. Al Ghazali merujuk pada sosok kaisar Sassanid (Persia), Anushirwan. Dan semalam telah masuk pengisahan kemuliaan Umar bin Abd Aziz, sebagai Anushirwan Bani Umayyah, 717-720. 

Karya Al Ghazali ini, ditulis saat situasi kekuasaan monarki absolut. Kekuasaan yang mengandaikan rakyat benar-benar tergantung hanya pada akhlak raja. Raja baik, berarti surga buat rakyat.

Sementara raja lalim akan menjadi petaka seumur-umur. Pendapat rakyat dan ahli-ahli, termasuk ulama, dianggap tidaklah penting bagi raja. Itulah kenapa, kitab ini muncul, tak lain adalah kritik ulama pada raja. Kritik tak langsung, dengan sindiran-sindiran, satire. Dengan bahasa halus. Bertutur tentang kualitas personal yang sungguh mumpuni ketika sedang duduk di singgasana kekuasaan.

Kitab Al-Tibr al-Masbuk ini, menurut Gus Ulil, juga setipe dengan Hikayat Kalilah dan Dimnah, karya Baidaba, Filosof India abad III, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abdullah bin al-Muqaffa.

Hikayat Kalilah dan Dimna juga bertutur tentang nasihat kepada raja dengan kiasan tokoh binatang. (Saat menyinggung hikayat ini, saya langsung teringat pada kisah pembelotan para binatang pada majikan, manusia, yang ditulis George Orwell, Animal Farm, terbit 1945. Saya baca terjemahan H. Mahbub Djunaidi, Binatangisme.

Tersebutlah bangsa binatang dari pelbagai jenis merasa diperas. Mereka hanya digiring-giring, ditendang bokongnya, dibetot lehernya, dijambak bulu kuduknya, dan digebuk supaya bekerja keras buat kepentingan manusia) 

Nah, berbeda dengan sistem monarki absolut, yang menjadi jiwa zaman Al Ghazali ketika menulis kitab al-Tibr al-Masbuk, kualitas personalItas adalah utama. Demokrasi berlaku sebaliknya, yang terpenting bukanlah person, melainkan sistem. Sebagaimana kita mafhum, pemilu tidak melahirkan pemimpin yang terbaik, tetapi untuk mencegah kemungkinan naik pemimpin lalim. 

Demokrasi adalah sistem untuk menyaring pemimpin. Jadi, sekali lagi yang berlaku adalah kualitas sistem. Lantas, apa relevansinya menyuntuki kitab al-Tibr al-Masbuk? Toh kini yang berlaku sistem, bukan kualitas pribadi. Gus Ulil, dengan tegas mengatakan: “Masih relevan”.

Semula, terus terang saya kurang “ngeh” dengan penandasan Gus Ulil. Namun, setelah saya renung-renung, terutama saat perjalanan dari Ngalian menuju Ungaran, pukul sepuluhan malam, saya merasa sreg.

Bukankah kini, orang-orang Barat sendiri pun mulai menggandrungi hal-hal yang berkebalikan dengan semangat modern, termasuk demokrasi. Mereka menyangkal modernisme. Mereka melirik kedalaman manusia, dan kebudayaan Timur seperti Tao, Budhis, atau Zen. Teknologi yang dulu dianggap rahmat, kemudian digugat sebagai perusak alam.

Plastik tempat makanan siap saji dan bungkus segala barang bawaan, kini tertuding sebagai perusak lingkungan. Sekarang ini marak gerakan back to nature, kembali ke alam. Bukan lagi “alam sebagai subjek”, atau “alam sebagai objek”, tetapi sintesa “alam sebagai subjek-objek”.

Lantas, saya tebersit dengan rumusan sintesa itu: kualitas sistem dan personal sekaligus. Bagaimana? Saya tak tahu bagaimana corak itu. Ya, biar Gus Ulil yang merumuskannya. Namun demikian, sungguh saat itu saya merasa teberkati oleh kehadiran Gus Ulil Abshar Abdalla, dan pula Ning Ienas Tsuroiya.

Maka al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk masih relevan. Bahkan sangat relevan.

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait