Scroll untuk baca artikel
Kolom

Perubahan Iklim, Perang dan Saatnya Indonesia Mengembangkan Sorgum

Redaksi
×

Perubahan Iklim, Perang dan Saatnya Indonesia Mengembangkan Sorgum

Sebarkan artikel ini

SAYA secara acak dan iseng di sebuah stasiun kereta api melakukan survei kecil-kecilan mengenai Sorgum. Pertanyaannya sangat sederhana: Anda mengenal Sorgum? Dari sekira 10 orang umumnya mengaku tidak tahu dan hanya pernah dengar atau baca. Hanya dua orang yang tahu sebagai makanan itu pun tidak tahu bentuknya dan manfaat utamanya.

Sorgum kalah populer dibandingkan padi, gandum, jagung dan sumber pangan utama lainnya. Tentu ini bukan salah masyarakat melain juga karena andil pemerintah yang terlambat berpihak terutama untuk membuat kebijakan dan mengembangkan ekosistem Sorgum sebagai pangan alternatif.

Selama ini Sorgum baru muncul ke publik sebatas sebagai bahan kampanye politik di tingkat lokal atau pusat. Nama Sorgum kembali mendapat tempat di tataran wacana publik ketika pasokan gandum dunia tersendat akibat perang Rusia-Ukraina.

Apalagi dampaknya sangat dirasakan bagi kalangan buruh, ibu rumah tangga dan juga mahasiswa. Karena itu ketika isu Indomie (maaf menyebut merek) dikabarkan harganya akan naik tiga kali lipat, warganet bereaksi. Mereka baru sadar ternyata bahan mie yang mereka santap selama ini jauh-jauh diimpor dari sebuah pelabuhan di Laut Hitam.

Sorgum sebenarnya sudah banyak dibahas oleh Presiden Jokowi dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebagai pangan alternatif dan juga upayanya untuk terus mengembangkan tanaman multimanfaat ini.

Jokowi bahkan sudah meminta Menko Perekonomian Airlangga Hartarto membuat peta jalan (road map) produksi dan hilirisasi Sorgum hingga 2024.

Pengembangan Sorgum di Indonesia masih sangat minim. Padahal Sorgum bisa tumbuh di tempat marjinal sekalipun termasuk di lahan yang ditumbuhi alang-alang. Dan, dari data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia memiliki sekira 10 juta hektare lahan alang-alang.

Data dari Menko Perekonomian menyebutkan hingga 2022 ini realisasi pengembangan Sorgum masih sekira 4.355 hektare dan tersebar di enam provinsi dengan hasil produksi mencapai 15.243 ton atau setara 3,36 ton per hektare.

Saat bertemu Presiden Jokowi pekan lalu, Airlangga menyatakan musim 2022 ini target sasaran tanam Sorgum sebesar 15.000 hektare, pada 2023 targetnya 115.000 hektare dan pada 2024 diupayakan mencapai 154 ribu hektare.

Moeldoko pun dalam sebuah kesempatan sempat mengumpulkan sejumlah ahli pangan dari sejumlah kampus dan lembaga penelitian. Mereka diminta bersinergi dengan pemerintah untuk mengembangkan Sorgum sebagai pangan alternatif atau substitusi gandum. Krisis pangan sudah lama terasa lantaran perubahan iklim sehingga panen terganggu dan yang paling terasa dari dampak Perang Rusia-Ukraina.

Kabar baiknya ternyata, BRIN sudah mengembangkan 3 varietas benih sorgum unggulan yakni Pahat (Pangan Sehat), Samurai 1 dan Samurai 2. Tapi lucunya, varietas karya anak bangsa ini yang menggunakannya justru petani Afrika. Nah, lho.

Peneliti Bioteknoligi dari Universitas Indonesia Dr. Ir. Kaseno menyatakan banyak keunggulan Sorgum dibandingkan tanaman pangan lainnya (zero waste). Dan yang paling utama, Sorgum tumbuh bagus di lahan marjinal dan kritis.

Dari setiap bagian tanaman Sorgum memiliki nilai manfaat yang sangat tinggi. Tentu biji Sorgum bisa dijadikan beras dan tepung menyerupai terigu. Bahkan lebih sehat dibandingkan tepung terigu. Kemudian batang Sorgum bisa diolah menjadi gula cair, gula kristal atau bioetanol. Selanjutnya sisa atau sampah dari semu proses itu masih punya nilai manfaat dan dapat digunakan menjadi pupuk organik, pakan ternak dan biomassa.

Sorgum sejatinya sudah dibudidayakan di Indonesia sejak 1970. Wilayah yang saat ini memiliki luas lahan dan berkontribusi untuk pangan nasional masing-masing di Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).