Edukasi

Pikir Ulang Sebelum Meminjamkan Utang Kepada Teman Dekat

Anatasia Wahyudi
×

Pikir Ulang Sebelum Meminjamkan Utang Kepada Teman Dekat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Unsplash.com/Mufidpwt.

BARISAN.COPerkara uang adalah soal sensitif. Bagaimana tidak, ada berbagai kejadian hubungan rusak—bahkan saling membunuh—karena kesal utang tidak dibayar ataupun tidak terima saat kewajiban ini ditagih.

Alur masalah utang-piutang sebetulnya sama antara satu dengan yang lainnya. Pihak pertama, atas dasar kepercayaan, meminjamkan uang kepada pihak kedua. Pihak kedua ini, sialnya, sering kali adalah orang yang tenggelam dalam hidup penuh gaya, dan ia punya ribuan alasan untuk tidak membayarkan utangnya.

Dikutip dari Detik, perencana keuangan Aidil Akbar mengupkapkan risiko meminjamkan uang kepada teman ada kemungkinan 80% uang tidak akan kembali. Sehingga penting bagi pemberi pinjaman untuk mempersiapkan diri sebelum hal itu terjadi.

Pinjam meminjam itu, kata Aidil Akbar, sering bermula secara sederhana. “Ya karena pinjamnya 30-50 ribu, kita malas juga nagihnya. Dianya berlagak lupa. Nah ini yang sebisa mungkin harus dihindari,” katanya.

Memang ada beberapa orang yang pada akhirnya memilih untuk melupakan uang yang dipinjamkan, namun bukan berarti si peminjam bisa lepas tangan. Seseorang yang berutang wajib untuk mengembalikannya. Seperti yang disampaikan oleh George Prentice: beberapa orang menggunakan setengah dari kecerdikannya untuk berutang, dan setengahnya lagi berusaha menghindarinya.

Meminjam uang kepada teman tentu akan lebih mudah karena mereka tidak mungkin mematok bunga apalagi meminta jaminan untuk pembayaran utang. Berikut ini, alasan teman Anda yang tidak akan pernah membayarkan utangnya kembali.

  1. Sejak awal mereka memang tidak pernah berniat membayarkan utangnya. Mereka biasanya berdalih tak memiliki cukup uang untuk membayarkannya. Saat berutang, orang tentunya memiliki perhitungan untuk melunasi utang tersebut. Entah dicicil atau dalam jangka waktu tertentu akan dilunasi. Namun, harus siap dengan dalih dan mereka akan memasukkan Anda ke blacklist.
  2. Anda terlalu baik bagi teman Anda sehingga mereka akan memanfaatkan kebaikan itu.
  3. Mereka menganggap tidak pernah meminjam kepada Anda karena tidak adanya bukti tertulis.
  4. Sadar bahwa Anda tidak akan memusuhi mereka sehingga tidak ada alasan untuk mengembalikan apapun kepada Anda.

Jika Anda punya seorang teman tidak mengembalikan utangnya, Anda tidak sendirian. Menurut survei aplikasi pembayaran sosial VibePay terhadap 2.000 orang, umumnya pihak terpinjam tidak akan meminta uangnya kembali jika di bawah 15 Euro karena khawatir terkesan murahan.

Tapi, bagi yang menagih, rata-rata mereka harus menagih sebanyak dua kali sebelum mendapatkan uangnya kembali.

Sementara itu antara perempuan dan laki-laki, perempuan kurang memiliki keinginan untuk menagih. Sebanyak 24% laki-laki menyebut tak segan berselisih dengan temannya soal menagih utang. Sedangkan perempuan yang melakukan hal yang sama hanya sekitar 14%.

Di Inggris, sembilan dari 10 orang mengatakan bahwa utang yang ia pinjam akan digunakan untuk mentraktir temannya. Hal ini terjadi untuk bersikap sopan. Namun rupanya, itu menjadi penyebab satu dari lima orang di Inggris akhirnya berselisih karena utang.

Tips Kurangi Risiko Akibat Utang Tak Terbayar

Dalam sebuah artikel moneycrashers.com, ada beberapa cara agar pemberi pinjaman tidak mengalami hal yang tidak diinginkan saat memberikan kepada temannya.

  1. Berikan tenggat waktu. Entah itu sistem cicilan atau pun langsung pelunasan.
  2. Ingatkan sebelum meminjamkan bahwa membayar utang merupakan prioritas.
  3. Ajak bicara bukan mengancam ketika teman Anda belum juga membayarkan.
  4. Pastikan ia melunasi utang sebelumnya sebelum ia menambahkan utang. Sering kali, karena menyepelekan, orang akan datang untuk meminjam kembali sebelum utang yang pertama dibayarkan.
  5. Beri tahu mereka, cara untuk mengatasi masalah keuangan adalah dengan mengelolanya dengan baik. Tak jarang, orang yang terjebak dalam utang diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak disesuaikan.
  6. Saat kondisi keuangan tidak stabil, Anda perlu menjelaskan kepada mereka bahwa tidak dapat memberi pinjaman. Anda akan dicap pelit oleh mereka. Namun memaksakan diri meminjamkan uang sebelum memastikan keadaan adalah ide yang buruk.
  7. Pahami bahwa utang dapat menyebabkan kerenggangan hubungan. Di antara peminjam dan pemberi kemungkinan ada ketegangan yang menyebabkan sesal dan amarah.

Ketika kesulitan, seseorang dengan senang hati membukakan jalan dengan memberikan pinjaman. Tentu dengan harapan utang tersebut akan dikembalikan. Sayangnya, terlalu sering alasan kelupaan tak pelak sering digunakan. Saat meminjam ingat teman, saat sudah menghabiskannya, ia dilupakan begitu saja.

Jika berniat membayarkan utang, mereka akan berupaya untuk melunasinya. Tentu dengan cara yang benar, seperti memangkas pengeluaran yang tidak diperlukan. Seperti membeli pakaian saat lemari dipenuhi tumpukan pakaian yang selama ini dikumpulkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *