Scroll untuk baca artikel
Opini

Politik Indonesia dan Fenomena McDonaldisasi

Redaksi
×

Politik Indonesia dan Fenomena McDonaldisasi

Sebarkan artikel ini

TEORI McDonaldisasi diperkenalkan oleh sosiolog Amerika Serikat George Ritzer. Istilah ini merujuk pada logika restoran McDonald’s yang telah merambah bahkan mengakar ke semua unsur kehidupan masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Bahkan secara ekstrem boleh dikatakan, dari mulai institusi negara hingga institusi keluarga pun sudah ter-McDonaldisasi.

Lihat saja misalnya fenomena dalam dunia politik begitu mudahnya seseorang menjadi anggota DPR tanpa menjadi kader dari awal. Hanya bermodalkan duit seseorang bisa melejit menjadi anggota DPR di Senayan.

Begitu juga seseorang dengan mudahnya jadi presiden tanpa melalui proses yang matang dan kaderisasi di tingkat partai atau organisasi dari tingkat paling bawah.

Dari walikota, kemudian gubernur sebentar kemudian melejit jadi presiden. Padahal prestasi sebagai gubernur belum memperlihatkan hasil. Sangat instan.

Kecepatan dalam proses itu bagi pendukung fanatik disebutnya sebagai akselerasi. Namun bagi yang tidak setuju itu sebagai pemaksaan alias buah masak dikarbit bukan di pohon. Mungkin buah masak di pohon terlalu lama menunggu! Apalagi sampai menjadi durian jatohan. Dianggapnya hanya buang waktu dan kesempatan. Alias tidak efisien.

Setelah membaca buku karya Ritzer “The McDonaldization of Society” saya baru tahu model pemimpin atau elite politik karbitan itu sebagai wujud dari McDonaldisasi.

Belum lagi sikap Pemerintah yang mereduksi atau menihilkan oposisi dengan alasan ingin adanya kestabilan politik dan satu arah kebijakan pembangunan juga sebagai manifestasi McDonaldisasi. Tujuannya agar efektivitas dan efisiensi dan satu kendali.

Hal yang sama juga terjadi dalam dunia pendidikan. Karena ingin mengeruk duit, perguruan tinggi berlomba-lomba mendirikan program baru setingkat atau sejenis kuliah ekstensi. Lama-lama pengelola perguruan tinggi tak berkuasa lagi buat memperhatikan kualitas, lantaran lebih terfokus pada kuantitas.

Keadaan serupa juga terjadi dalam pendidikan setingkat kursus. Penyelenggara kursus lebih tergiur untuk segera menjual lisensi. Maka dari sinilah istilah kursus-kursus setingkat rumah toko. Soal kualitas, belakangan.

Gelombang McDonaldisasi juga merambah ke keluarga. Definisi rumah kini sudah berubah bukan tempat bercengkrama atau berkumpul keluarga, melainkan hanya sekadar tempat transit.

Masyarakat lebih banyak beraktivitas di luar rumah termasuk dalam urusan mengisi perut. Daripada susah-susah masak, masyarakat perkotaan lebih mudah membeli makanan jadi atau instan atau memasan lewat aplikasi. Selain lebih praktis juga banyak pilihan, kendati porsinya dibatasi.

Acara ulang tahun anak pun tak lagi di rumah tetapi di restoran-restoran cepat saji atau fast food.

George Ritzer mendefinisikan istilah McDonaldisasi sebagai sebuah proses di mana bebagai prinsip restoran cepat saji hadir untuk mendominasi lebih banyak sektor kehidupan dunia termasuk di Amerika Serikat.

Bahkan sosiolog dari Universitas Maryland ini memberikan contoh, selain dunia politik dan pendidikan McDonaldisasi juga merasuk hingga ke urusan pekerjaan, perawatan kesehatan, waktu luang dan diet.

Ritzer menjelaskan, empat alasan model McDonald’s atau McDonaldisasi tak bisa ditangkal. Pertama, McDonal’s menawarkan efisiensi atau metode optimal bagi perolehan dari satu ke lain poin.

Bagi konsumen, McDonald’s menawarkan pilihan terbaik dalam waktu cepat untuk pemenuhan rasa lapar.

Kedua, McDonald’s menawarkan daya itung atau perekanan pada aspek kuantitatif atas produk yang dijual (ukuran porsi, ongkos) serta layanan yang ditawarkan. Lebih-lebih ada anggapan di masyarakat bahwa yang besar itu kualitasnya lebih baik. Ini bisa dilihat dari kasus di Indonesia ketika seseorang menilai perguruan tinggi yang dibangun mentereng atau megah serta mahasiswanya bejibun identik dengan kualitas yang bagus.