Scroll untuk baca artikel
Blog

Politik Terlalu Serius, Indonesia Krisis Kolumnis

Redaksi
×

Politik Terlalu Serius, Indonesia Krisis Kolumnis

Sebarkan artikel ini

MENJELANG tahun politik Pemilu 2024, pemberitaan media massa didominasi pertengkaran opini bukan wacana. Tidak hanya saling lempar argumen tetapi yang paling mengkhawatirkan ada kelompok yang miskin argumentasi tetapi lebih menonjolkan emosi. Kelompok ini justru senang menebar fitnah dan hoaks. Dua hal yang terakhir adalah toksin demokrasi.

Lebih parah lagi, pemberitaan media massa arus utama dan juga media level medioker, konten beritanya hampir seragam. Tidak ada diversifikasi konten. Isu yang disiarkan lebih banyak talkingnews alias omongan narasumber dibandingkan indepth news, feature dan tulisan kolom.

Media massa Indonesia belakangan ini banyak mengabaikan tulisan khas dan kolom. Justru banyak tulisan opini yang dibuat akademisi yang cuma memindahkan teori dari buku. Tidak ada isu atau cerita baru yang diserap langsung dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Tulisan opini pun lebih elitis dan tidak membumi. Hanya mengandalkan dari mengutip buku babon atau buku yang ditulis ilmuwan asing paling mutakhir dalam bahasa Inggris. Agar dibilang sebagai penulis opini yang update dan melimpah referensi.

Nietzsche pernah menyebut penulis opini seperti ini menulis karena banyak membaca buku orang lain. Secara sinis dia menyebut tulisannya bau apek perpustakaan.

Di media massa kita sekarang sangat jarang ditemukan kolom. Apakah itu di media cetak atau daring. Tidak ada lagi tulisan kolom sekelas MAW Brouwer, Mahbub Djunaedi, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Christianto Wibisono, Mohamad Sobari, Bondan Winarno dan Parni Hadi.

Mungkin yang masih bertahan ada Goenawan Mohamad dan Dahlan Iskan. Tapi tetap saja kurang. Kolom GM di Majalah Tempo hanya untuk kalangan tertentu saja. Karena sangat sulit dicerna pembaca awam. Begitu juga kolom bagus Dahlan Iskan dalam Disway.id, terasa kurang perenungan dan penghayatan karena lebih banyak terkait isu mutakhir. Walaupun banyak tulisannya yang seperti sepele tetapi sangat informatif dan membedah sisi lain yang tidak diulas media lain.

Kadang kita juga merindukan kolom seperti Mahbub Djunaedi yang kocak dan satiris. Kolom Gus Dur yang kaya dengan jokes atau guyonan, juga Cak Nun yang banyak metafora atau Bondan Winarno yang mengulas isu manajemen yang rumit menjadi renyah dan enak dibaca.

Sepertinya akan sulit menemukan kembali kolumnis seperti di zaman baheula. Revolusi internet membuat semua aktivitas manusia dibuat serba cepat dan realtime.

Konten yang tidak ramah algoritma seperti kolom sudah pasti diabaikan pengelola media. Algoritma yang lebih mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas. Algoritma yang mengaburkan berita dan konten.

Arkian, harus ada kemauan dari pengelola media untuk menghadirkan tulisan yang menjadi antitesa atau penawar tuah atasnama viral. Gerakan ini bukan tanpa makna tetapi justru memberi kesempatan kepada pembaca untuk jeda, mampir, rehat sejenak, merenung, berefleksi dan mengintrospeksi diri di tengah beragam pembelahan di masyarakat sebagai efek tahun politik.

Fasilitas atau medium itu hanya ada dalam tulisan berbentuk kolom. [rif]