Scroll untuk baca artikel
Blog

Pondok Baca Pemulung dan Khasanah Puisi Tegal

Redaksi
×

Pondok Baca Pemulung dan Khasanah Puisi Tegal

Sebarkan artikel ini

MOTOR penggerak pondok baca Hati Nurani di kota Tegal, Riani (45), menggunakan nama diri Riani Pemulung. Seorang ibu rumah tangga single parent, dengan empat anak, yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung.

Berumah sederhana di daerah pelabuhan, dia membuka pondok baca dan kegiatan literasi. Antaralain, membaca untuk kanak-kanak dan remaja, seni baca, juga menggambar atau mewarnai.

Pada 17 Desember Riani merayakan ulang tahun Pondok Baca Hati Nurani yang kedua. Dengan acara baca puisi dan diskusi. Hadir tokoh-tokoh seni budaya dari Tegal, Slawi, Pemalang dan Brebes.

Termasuk baca puisi bahasa prokem Tegal, Ipuck Lintang Ngalih . Juga baca puisi berbahasa Tegal, Atmo Tan Sidik. Sayang tokoh puisi Tegalan, Dwi Erry Santoso telah almarhum.

Ketiga jenis puisi Tegal itulah yang menjadi topik diskusi, disamping pembicaraan mengenai dunia literasi. Bahwa ada beda antara puisi Tegalan, puisi prokem, dan puisi yang menggunakan bahasa Tegal.

Puisi Tegalan sejauh ini memang hanya dimiliki oleh Dwi Erry. Sebabnya, dia menggali wangsalan (parikan) dalam proses penulisan puisinya. Ada riset yang dia lakukan pada jenis syairan sebagai warisan bahasa Ibu.

Ini berbeda dengan, misalnya, Atmo Tan Sidik yang menulis puisi (sekadar) menggunakan bahasa Tegal. Artinya, tidak ada bedanya dia menulis dalam bahasa Tegal atau Indonesia. Tidak ada riset bahasa yang dilakukan, sehingga watak syairan Tegal tidak mengimbas pada karyanya.

puisi tegal
Budayawan Tegal, Atmo Tan Sidik membacakan puisi

Beda lagi dengan Puisi Prokem Tegal yang ditulis Ipuck. Dia melakukan riset bahasa sandi yang digunakan para gerilya di Tegal pada jaman penjajahan Belanda. Ipuck mengistilahkan prokem sebagai pro kemerdekaan.

Bahasa prokem Tegal lebih punya spesifikasi, yang jika dibacakan mirip mantra. Atau lebih tepatnya mirip sajak mantra Sutadji Calzoum Bachri.

Riani sendiri juga menulis puisi dan membacakan puisi, termasuk puisi Tegal. Dia acap diundang baca puisi di Jakarta atau Cirebon. Baca puisinya kerap pula diunggah di media sosial.

Dalam ulang tahun pondok bacanya dia tampak bahagia betul, melihat kanak-kanak binaannya baca puisi atau berdeklamasi. Tak kurang dari itu ia sendiri membacakan puisi prokem karya Ipuck.

Selamat ulangtahun Hati Nurani, terus mengalir dalam proses kelanggengan waktu.***