Scroll untuk baca artikel
Sosok

Prof. Ali Ghufron Mukti Bawa Harapan Baru untuk KAGAMA, Misi Pembangunan dan Kemajuan Bangsa

×

Prof. Ali Ghufron Mukti Bawa Harapan Baru untuk KAGAMA, Misi Pembangunan dan Kemajuan Bangsa

Sebarkan artikel ini
ali ghufron mukti
Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., AAK/Foto: IGI

Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, calon Ketua KAGAMA, membawa visi besar untuk menjadikan organisasi alumni ini sebagai agen perubahan yang inklusif, progresif, dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa.

BARISAN.CO – Sebagai seorang pakar kesehatan yang telah banyak berkontribusi dalam perumusan kebijakan publik di Indonesia, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., AAK, bukanlah nama yang asing di dunia kesehatan dan pendidikan tinggi.

Kini, ia melangkah untuk mengabdikan dirinya di ranah baru sebagai calon Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA).

Ia membawa visi besar yang ingin menjadikan KAGAMA sebagai organisasi alumni yang inklusif, progresif, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Sosoknya yang penuh dedikasi serta rekam jejaknya dalam kebijakan kesehatan membuat Prof. Ghufron menjadi kandidat kuat untuk memimpin organisasi alumni ini menuju arah yang lebih berdampak.

Lahir dan besar di Indonesia, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti telah menempuh pendidikan di beberapa universitas ternama.

Gelar Doktor (Ph.D.) yang diraihnya dari University of New South Wales, Australia, serta pengalaman mendalam di dunia kesehatan membuatnya dihormati sebagai seorang akademisi yang berintegritas.

Ia juga memiliki pengalaman di berbagai bidang, mulai dari akademisi hingga birokrasi, termasuk dalam perannya sebagai mantan Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia dan Direktur Utama BPJS Kesehatan.

Dengan latar belakang yang kuat, Prof. Ghufron dikenal luas sebagai seorang visioner yang berorientasi pada hasil dan berdedikasi untuk kepentingan publik.

Sebagai seorang yang sangat peduli pada isu-isu kesehatan publik, Prof. Ghufron telah berkontribusi dalam menciptakan berbagai kebijakan strategis untuk perbaikan pelayanan kesehatan.

Di BPJS Kesehatan, ia mengelola program kesehatan nasional yang mencakup puluhan juta rakyat Indonesia, dan ini memperkuat pengalamannya dalam memimpin organisasi besar dengan tantangan kompleks.

Kepemimpinannya di BPJS juga memperlihatkan kemampuan manajerialnya dalam menghadapi masalah-masalah krusial dan tangguh dalam mengambil keputusan untuk keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

Sebagai calon Ketua KAGAMA, Prof. Ghufron mengusung visi untuk menjadikan KAGAMA sebagai organisasi alumni yang lebih dari sekadar forum berkumpul.

Ia ingin KAGAMA bertransformasi menjadi sebuah wadah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di tengah dinamika dan tantangan Indonesia saat ini.

Visi yang ia sampaikan adalah, “Mewujudkan KAGAMA sebagai wadah alumni Universitas Gadjah Mada yang inklusif, progresif, dan berdaya guna, serta menjadi agen perubahan yang memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.”

Melalui visinya ini, Prof. Ghufron ingin KAGAMA berperan aktif dalam isu-isu nasional, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga pembangunan ekonomi.

KAGAMA harus menjadi agen perubahan yang inklusif, di mana setiap alumni, dari yang berkarier di daerah hingga di kota besar, dapat ikut serta dalam kontribusi yang berarti.

Ia meyakini bahwa inklusivitas adalah kunci untuk membuat setiap alumni terlibat aktif, sehingga KAGAMA tidak hanya dikenal di lingkup alumni UGM, tetapi juga memberi dampak luas bagi masyarakat Indonesia.

Sementara perihal misi, Prof. Ghufron merumuskan beberapa misi utama yang dirancang untuk menghidupkan visinya.

Misi pertama yang ia canangkan adalah Memperkuat Sinergi dan Kolaborasi Alumni. Prof. Ghufron ingin menciptakan jaringan alumni yang kokoh di berbagai sektor.

Baginya, dengan menjalin kolaborasi kuat antaralumni, KAGAMA akan memiliki kekuatan lebih untuk memberikan kontribusi terhadap isu-isu nasional seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Kolaborasi ini harus bisa diimplementasikan dalam program-program riil yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Pada misi keduanya, Prof. Ghufron menitikberatkan pada Kesejahteraan dan Pengembangan Kapasitas Anggota.

Ia ingin KAGAMA menjadi pusat bagi alumni untuk mengembangkan kapasitas diri dan kesejahteraan ekonomi mereka.

Program pelatihan, seminar, hingga akses peningkatan keterampilan bagi alumni di berbagai daerah menjadi salah satu agenda prioritasnya.

Setiap alumni harus memiliki peluang yang sama untuk berkembang, baik dalam profesi maupun usaha ekonomi.

Prof. Ghufron, bahkan mengusulkan adanya program pemberdayaan ekonomi yang berbasis pada pengembangan usaha kecil dan menengah yang dikelola alumni.

Tak kalah penting, misi ketiga yang ia usung adalah Digitalisasi dan Inovasi KAGAMA. Prof. Ghufron menilai pentingnya digitalisasi organisasi di era teknologi ini untuk mempermudah komunikasi dan partisipasi antaralumni.

Dengan memanfaatkan platform digital, alumni dapat lebih mudah terhubung, berbagi informasi, serta bekerja sama dalam berbagai inisiatif.

Menurutnya, digitalisasi ini tidak hanya akan meningkatkan efektivitas organisasi, tetapi juga memungkinkan alumni KAGAMA di seluruh Indonesia untuk terlibat dalam waktu yang real-time.

Dukungan terhadap Prof. Ghufron tidak hanya datang dari alumni di pusat, tetapi juga di daerah-daerah yang berharap adanya perubahan positif di KAGAMA.

Sejumlah alumni menyatakan kepercayaan bahwa Prof. Ghufron mampu membawa KAGAMA ke arah yang lebih berdaya guna.

Mereka melihat visinya sebagai sesuatu yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan bangsa. Prof. Ghufron punya pengalaman dan visi yang solid untuk menjadikan KAGAMA lebih berdampak.

Banyak alumni juga mendukung program pengembangan ekonomi yang diusung oleh Prof. Ghufron, khususnya bagi alumni yang baru memulai karier atau usaha mereka.

Program ini dinilai akan membawa manfaat yang luas dan memperkuat jaringan ekonomi di kalangan alumni.

Selain itu, rencana digitalisasi KAGAMA juga disambut positif oleh alumni generasi muda yang ingin organisasi ini lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. []