ALAM beruluk salam. Ia mengucapkan salam sambil membuka kunci pintu rumahnya. Sekali lagi bersalam, setelah menutup dan mengunci pintu dari dalam.
Wajahnya mencoba seriang dulu. Seperti berusaha tidak ada yang berubah di dalam rumahnya. Inilah keadaan saat rumah besar atau kecil sama saja. Rumah gubug atau gedongan tetap namanya rumah.
Karena rumah baginya adalah ruang pertemuan sampai pada kemungkinan yang paling tidak mungkin. Bahkan kota bukan kumpulan rumah-rumah, sebagaimana hutan bukan kumpulan pohon-pohon. Hutan, rumah, kota, adalah tempat bertemunya segala yang hidup. Dan ia musti bersalam.
Begitulah setiap ia pulang terlambat. Tak ada penyesalan pada tawa lebarnya. Semua sudah ada dalam kesepakatan. Pekerjaannya lebih berat dari tugas-tugas sebelumnya. Pintu-pintu mafum itu, semua baik-baik saja. Tawa lebar anak-anaknya selalu berlintasan.
Bersama lukisan-lukisan di dinding, dan gebukan dram di studio musik. Dan ajaib, senyum isterinya menempel di setiap dinding, melenting-lenting di seluruh ruang dingin air condition. Di ruang tamu dengan perabot raksasa bertaring antik.
Di ruang keluarga yang diseliweri robot-robot serdadu. Di kamar anak-anaknya yang dipenuhi bendera superpower atau poster-poster adidaya, di kamar gencatan senjata persuami-isterian. Di studio musiknya, yang tak diduga jenis kelaminnya.
Ya, si tuan muda bungsu memang bercita-cita menjadi anak band, dan ia musti memfasilitasi sekaligus mengajari dan mengundang guru prifat. Setiap saat terdengar sayup-sayup bergedebam suara gedombrengan yang ia biarkan hampir tak mengenal waktu.
Hanya si bibir yang sesekali mengatasi bising setiap pintu studio membuka dan menutup, dan si tuan muda wira-wiri ke ruang makan atau dapur atau kamarmandi.
Setiap pintu studio terbuka dan tertutup itu, seperti ada tirai tipis antara dunia di dalam dan dunia diluar diri Si Anak. Meski ia tetap menyimpan jiwa anak dari sekadar senyuman.
Celoteh bibir nyaris rutin merobot: Hidup sudah bising! Harga-harga naik, jalanan macet, teriakan tetangga kurang minyak… Masih juga bikin bising..!
Untuk itu ia punya cara sendiri untuk mengatasi, selalu di meja makan.
Dia bertanya pada anak bungsunya, “selepas SMA kamu mau masuk perguruan tunggi mana?”Jawab anaknya, “mana saja yang penting kuliah.”
“Jurusan apa yang kamu minati?”
“Yang penting tidak sama dengan Ayah.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak mau jadi seperti Ayah.”
“Kenapa tidak mau seperti Ayah.”
“Nggak apa-apa,” sahut anaknya, “harus beda saja…”
“Okelah kalau begitu.”
Betapapun ia bangga dengan sikap anaknya, justru karena anaknya punya keinginan beda dengan dirinya. Kalau sama repot juga, apalagi kesamaan dalam hal-hal yang pribadi dan rahasia karena sifat kelakiannya.
Betapa sebagai laki-laki ia selalu ingin memeluk tubuh selain isteri. Karena isteri baginya sudah menjadi seperti saudara sendiri. Pernah ia memeluk tubuh Sekretaris yang selalu seperti swike rebus, berokmini sekilan di atas dengkul.
Membuat matanya menempel di mejanya, melihat rok mini yang lenyap terbawa duduk. Dan saat Si Sekretaris semlohe duduk dipangkuannya itulah, anaknya masuk seperti sengaja menjebak dengan permintaan perangkat band.
TIDAK ada yang berubah. Juga televisi yang dihidupkan sepanjang hari, mengeluarkan tayangan. Berita, bahkan hiburan, orang-orang dalam televisi yang pun menjadi penghuni rumah.
Koran yang belum sempat dibacanya begitu saja berkibar di hadapannya, bahkan huruf-huruf berucap sendiri. Seperti biasa sepatu yang memekik karena terlempar ke sudut berteriak dengan mangapnya: Aku mengikutimu kemana pun, dan rela kau injak-injak!
Apakah kau akan begitu saja berpaling, lebih mempercayai kertas berhuruf itu? Karena kemampuan bahasa koran lebih canggih, tentu saja sepatu tertindas oleh berita.
Apalagi koran selalu bersekutu dengan televisi, dalam memperkatakan tentang dunia yang tarafnya sudah sulit dimengerti.
Dikabarkan adanya pelarangan terhadap pihak yang memberitakan aib, kejelekan, sampai gosip seseorang hingga terinjak-injak seperti sepatu. Bahkan si pemberita akan terancam hukuman.
Kalau begitu apakah pelaku aib, tindakan kejelekan, dan penyandang gosip akan dibiarkan. Sebagaimana yang memberitakan tindak korupsi akan terancam hukuman, dan para kuroptor dibiarkan seperti tikus menggerogoti lumbung padi milik rakyat.
Bukankah kitab-kitab suci juga mengabarkan tentang aib, kejelekan, bahkan mirip gosip tentang para penentang Nabi. Kalau begitu apakah harus ada pelarangan terhadap kitab-kitab suci.
Pada kenyataannya yang terjadi kemudian adalah pertentangan antara penganut kitab suci dan pengikut Nabi dari kitab suci yang sama.
Lihatlah yang terjadi…..
Perang keyakinan, klaim kebenaran atas nama ajaran, isiu saling memprovokasi, telah melunturkan semangat kebersamaan bagi keluarga yang sangat menghargai keberagaman…
Dikabarkan pula pemerintah telah mengeluarkan dana hibah yang jumlahnya milyaran bahkan triliunan. Konon peringkat pertama yang mendapatkan dana hibah itu adalah pihak yang melarang-larang itu.
Ketiga pihak pelaksana atas pelarangan itu yang biasanya melakukannya dengan praktek-praktek kekerasan. Kedua pihak yang mau mengambil alih uang para koruptor, dan mengembalikannya sebagai uang milik negara.
Keempat ibarat irisan roti bagian pinggir yang biasanya dibuang, akan diserahkan demi pengentasan kemiskinan. Ternyata ada dana hibah yang besarnya melebihi bagi pihak yang melarang-larang.
Yakni pihak yang melakukan pemberantasan terorisme, karena dianggap sebagai musuh negara bahkan dunia internasional paling utama.
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada Sang Anak.
“Ya itulah dunia Ayah.”
“Kok dunia Ayah?”
“Maksud saya dunia generasi Ayah, dunia korupsi sistemik.”
“Kok sistemik?”
“Kan Menteri Keuangan sendiri yang bikin istilah itu.”
“Lalu bagaimana dengan duniamu?”
“Dunia anak muda dong…”
“Bagaimana, bagaimana?” antusiasnya.
“Mau melawan dunia Ayah.”
“Caranya?”
“Dengan kejujuran sistemik.”
Mendengar kata kejujuran ia mau menyergah, bahwa ia tidak percaya bahwa kejujuran masih ada di kehidupan yang tercipta oleh struktur dan sistem.
Sebagaimana pekerjaannya yang lebih berat dari tugas-tugas sebelumnya. Kemafuman pintu-pintu, tawa lebar anak-anaknya yang berlintasan. Lukisan-lukisan di dinding, dan gebukan dram di studio musik.
Senyum isterinya yang menempel di setiap dinding, melenting-lenting di seluruh ruang dingin ac. Ruang tamu dengan perabot raksasa bertaring antik. Ruang keluarga yang diseliweri robot-robot serdadu.
Kamar anak-anaknya yang dipenuhi bendera superpower atau poster-poster adidaya, kamar gencatan senjata persuami-isterian. Studio musiknya, yang tak diduga jenis kelaminnya.
Yang hampir-hampir mau terloncat dari mulutnya ialah: aku tidak percaya orang jujur sebelum teruji minimal sebagai sepatu!
AC tertawa.
Si bibir melenting-lenting.
Robot-robot serdadu meniup terompet.
Bendera berkibaran dan poster-poster meneriakkan kemenangan.
SEPASANG sepatu itu blingsatan, diantara tank-tank baja yang menggempur dinding-dinding. Diantara pesawat tempur yang berkesiur mengirimkan bom-bom yang menghancurkan seisi rumah.
Salahsatunya nyemplung ke dalam akuarium, memuncratkan air bersama ikan-ikan yang terlempar dan berkelojotan diantara para korban: Di sini yang ada ibu dan anak-anak!
Tidak terpikirkah mesiumu salah sasaran? Ia tetap tertawa lebar, sebab di matanya rumahnya tidak pernah berubah, keluarganya baik-baik saja. Tapi: adakah jarak manusia yang satu dengan yang lain, keluarga.
Jika bagi setiap yang bernyawa, bangsa adalah kumpulan orang, keluarga-keluarga. Lalu bagaimanakah dengan rumah ini, arsitektur dan isi: dekonstruksi atau deesensiasi?
Comercial Break: iklan sabun, pasta gigi, parfum, hingga ketik reg spasi para paranormal, sampai kampanye politik.
Bersama dengung almari es dan kesibukan di dapur, campuran aroma kulkas yang dibuka dan aroma bumbu masakan dalam jilatan api membiru kompor gas.
Suara bibir itu juga, menggedor pintu-pintu: Makan bareng, bareng makan! Tidak boleh ada yang absen di meja makan! Karena kita hidup dalam kebersamaan..! Tak ada yang mangkir. Meski stik dram protes, mengikuti tuan mudanya.
Ikutan makan dengan lentingan seperti di atas perangkat dram. Si bibir mencibir, menyambar kelitan stik bandel. Si tuan muda pun ikutan bandel dengan protesnya: Kenapa bukan si penjagal? Kenapa bukan si koruptor? Bukankah mereka sama menimbulkan tandatanya, kenapa..?
Selalu tawanya melebar. Seperti ada kebanggaan, melihat si tuan muda dalam protes memutilasi ayam goreng.
Akan tetapi selalu ia merasa ada yang hilang. Selalu ia pun bertanya kepada pekerjaannya yang lebih berat dari tugas-tugas sebelumnya. Kemafuman pintu-pintu, tawa lebar anak-anaknya yang berlintasan.
Lukisan-lukisan di dinding, dan gebukan dram di studio musik. Senyum isterinya yang menempel di setiap dinding, melenting-lenting di seluruh ruang dingin ac. Ruang tamu dengan perabot raksasa bertaring antik. Ruang keluarga yang diseliweri robot-robot serdadu.
Kamar anak-anaknya yang dipenuhi bendera superpower atau poster-poster adidaya, kamar gencatan senjata persuami-isterian. Studio musiknya, yang tak diduga jenis kelaminnya. Selalu mereka tak bisa menjawab bahkan balik bertanya, kenapa kadang-kadang ia menghilang?
Sesering itu pula ia berusaha mencari dirinya. Di pekerjaannya yang lebih berat dari tugas-tugas sebelumnya. Di kemafuman pintu-pintu, tawa lebar anak-anaknya yang berlintasan. Pada lukisan-lukisan di dinding, dan gebukan dram di studio musik.
Pada senyum isterinya yang menempel di setiap dinding, melenting-lenting di seluruh ruang dingin ac. Di ruang tamu dengan perabot raksasa bertaring antik. Di ruang keluarga yang diseliweri robot-robot serdadu.
Kamar anak-anaknya yang dipenuhi bendera superpower atau poster-poster adidaya, kamar gencatan senjata persuami-isterian. Studio musiknya, yang tak diduga jenis kelaminnya. Selalu ia tak bisa menemukan dirinya dan tak bisa menjawab pertanyaannya sendiri, kenapa kadang-kadang ia menghilang?
Sesekali Si Anak yang menemukan…..
“Bukannya ini Ayah?”
“Mana, mana..?” Ia meraba diri sendiri, seperti mencari dirinya yang hilang.
“Ini…,” Si anak menempelkan tuding ke jidatnya.
Sebaliknya ia menekan dadanya, “bukan ini?”
“Bukan,” sergah anaknya, “ini…”
Ia pun merubah mendekap perut sendiri, “bukan juga ini..?”
“Itu pasti.”
Ia berubah lagi mencekal kemaluan, “bukan ini toh..?”
Si anak menjawab telak, “kadang-kadang…”
Jadi kesimpulannya, dirinya sebenarnya tidak di pekerjaannya yang lebih berat dari tugas-tugas sebelumnya. Di kemafuman pintu-pintu, tawa lebar anak-anaknya yang berlintasan. Pada lukisan-lukisan di dinding, dan gebukan dram di studio musik.
Pada senyum isterinya yang menempel di setiap dinding, melenting-lenting di seluruh ruang dingin ac. Di ruang tamu dengan perabot raksasa bertaring antik. Di ruang keluarga yang diseliweri robot-robot serdadu.
Kamar anak-anaknya yang dipenuhi bendera superpower atau poster-poster adidaya, kamar gencatan senjata persuami-isterian. Studio musiknya, yang tak diduga jenis kelaminnya. Dirinya, seperti petunjuk anaknya, ada di pikiran, pasti di perut, dan kadang-kadang mampir di kelamin. Tapi tidak ada di rasa!
Suara bibir itu juga, menggedor pintu-pintu: Makan bareng, bareng makan! Tidak boleh ada yang absen di meja makan! Karena kita hidup dalam kebersamaan..!
Si tuan muda pun ikutan bandel dengan protesnya: Kenapa bukan si penjagal? Kenapa bukan si koruptor? Bukankah mereka sama menimbulkan tandatanya, kenapa..?
TIDAK ada yang berubah. Juga televisi yang dihidupkan sepanjang hari, mengeluarkan tayangan. Berita, bahkan hiburan, orang-orang dalam televisi yang pun menjadi penghuni rumah.
Koran yang belum sempat dibacanya begitu saja berkibar di hadapannya, bahkan huruf-huruf berucap sendiri. Seperti biasa sepatu yang memekik karena terlempar ke sudut berteriak dengan mangapnya: Aku mengikutimu kemana pun, dan rela kau injak-injak!
Apakah kau akan begitu saja berpaling, lebih mempercayai kertas berhuruf itu? Karena kemampuan bahasa koran lebih canggih, tentu saja sepatu tertindas oleh berita-berita pagi. Apalagi koran selalu bersekutu dengan televisi, dalam memperkatakan tentang dunia yang tarafnya sudah sulit dimengerti.
Terutama kenyataan itu:
Perang keyakinan, klaim kebenaran atasnama ajaran, isiu saling memprovokasi, telah melunturkan semangat kebersamaan bagi keluarga yang sangat menghargai keberagaman…
Sampai kemudian pintu studionya tidak pernah terbuka sejak anaknya masuk di hari kematian isterinya.
Pun dirinya tidak bisa mencari dirinya yang hilang. Sepatunya blingsatan mencari sosoknya, diantara tank-tank baja yang menggempur dinding-dinding. Diantara pesawat tempur yang berkesiur mengirimkan bom-bom yang menghancurkan seisi rumah.
Salahsatunya nyemplung ke dalam akuarium, memuncratkan air bersama ikan-ikan yang terlempar dan berkelojotan diantara para korban. Ia tetap tertawa lebar meski sosoknya hablur, sebab di matanya rumahnya tidak pernah berubah, keluarganya baik-baik saja. Tapi: adakah jarak manusia yang satu dengan yang lain, keluarga. Jika bagi setiap yang bernyawa, bangsa adalah kumpulan orang-orang, keluarga-keluarga. Lalu bagaimanakah dengan rumah ini, arsitektur dan isi: dekonstruksi atau deesensiasi?
Ia tak bisa menjawab.
