Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Sebabkan Kematian Terbanyak, Stroke Dapat Dicegah Sejak Muda

Redaksi
×

Sebabkan Kematian Terbanyak, Stroke Dapat Dicegah Sejak Muda

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, stroke menjadi penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian terbanyak di Indonesia.

Prevalensi penyakit ini naik dari 7 persen menjadi 10,9 persen per tahun 2018. Walaupun kasus stroke sering ditemukan pada kelompok usia lanjut, namun saat ini stroke juga menyerang kelompok usia muda.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stroke merupakan suatu kondisi terjadinya penurunan pasokan nutrisi dan oksigen ke otak akibat terputusnya aliran darah. Pada umumnya disebabkan oleh pecahnya atau tersumbatnya pembuluh darah ke otak.

Dokter Spesialis Neurologi (Saraf) Mayapada Hospital Kuningan (MHKN) dr. Vania Listiani Hidajat, Sp.N mengatakan ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan stroke. Dari hipertensi, diabates, tingginya kolesterol dan asam urat, obesitas, buruknya gaya hidup, usia, gender dan faktor genetik.

“Sebagian besar stroke tidak diturunkan. Tapi ada penyakit genetik seperti anemia sel sabit (sickle cell) yang bisa menyebabkan stroke, meski persentasinya kecil sekali,” jelasnya.

Faktor risiko stroke dibagi dua yaitu tidak dapat dimodifikasi dan dapat dimodifikasi. Umur, jenis kelamin, suku (ras), dan keturunan adalah faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan.

“Semakin tua, risikonya semakin tinggi,” kata dr. Vania.

Sementara dari hasil riset yang sudah dilakukan, laki-laki lebih sering terkena stroke dibandingkan perempuan. Sayangnya, tingkat kematian stroke pada perempuan lebih tinggi, walaupun kejadiannya jarang.

“Tapi jika usianya di atas 75 tahun, persentase risikonya sama saja,” ucapnya.

Selanjutnya adalah faktor risiko yang dapat dimodifikasi, antara lain hipertensi, dislipidemia, diabates melitus, kelainan jantung, merokok, aktivitas fisik,  konsumsi alkohol, dan stres. Faktor tersebut masih bisa dihilangkan atau dikendalikan melalui gaya hidup yang baik.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama stroke dan penyakit jantung. Baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda memiliki risiko yang sama terkena hipertensi.

Apalagi jika pekerjaanya memicu stres, tidak memiliki aktivitas teratur, jarang olahraga dan suka konsumsi makanan asin. Orang-orang dengan problem tersebut sangat rentan menderita hipertensi.

Hipertensi seringkali disebut the sillent killer. Sebab, sebagian besar penderitanya tidak mengalami tanda-tanda atau gejala, sehingga mereka kerap tidak menyadarinya. Fenomena ini bisa kita lihat pada program vaksinasi Covid-19. Banyak orang yang tidak bisa divaksin lantaran tekanan darahnya tinggi.

Bagi pengidap hipertensi berat, biasanya mereka merasakan pusing dan tegang di bagian leher. Tapi jangan menunggu ada gejala, lakukan general check up rutin untuk mengetahui apakah memiliki darah tinggi atau tidak. Terlebih bagi mereka yang memiliki keluarga dengan penyakit ini.

Jika kita sudah mengetahui sejak awal, hipertensi akan mudah diobati. Dengan cara mengubah pola hidup, dari konsumsi makanan seimbang hingga berolahraga.

Dokter Vania menganjurkan untuk berolahraga minimal 150 menit dalam satu minggu atau 30 menit dalam lima hari. “Minimal 150 menit  aktivitas sedang dan 75 menit aktivitas berat,” tuturnya.

Ada beberapa gejala stroke yang perlu kita waspadai, di antaranya mendadak lemas, sebagian wajah atau badan kesemutan, sulit menggerakan badan, pandangan kabur, mulut mencong, mata tidak bisa terbuka, dan kehilangan kesadaran.

Maka pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah segera pergi ke rumah sakit agar dokter dapat melakukan tindakan. Jika kita melihat orang terkena stroke tiba-tiba dan kejang-kejang, maka kita bisa memiringkan badannya dan amankan kepalanya dari benda-benda berbahaya.

Dokter Vania menambahkan penderita stroke masih bisa disembuhkan dengan penanganan yang tepat. Pasien harus patuh pada anjuran dokter seperti minum obat secara teratur dan memperbaiki gaya hidup.

Untuk mencegah penyakit ini terjadi pada kita, hal yang bisa dilakukan adalah menjaga gaya hidup, makan dengan porsi cukup dan seimbang, melakukan aktivitas fisik minimal 150 menit dalam seminggu, menghentikan kebiasan tidak baik seperti merokok dan minum alkohol, serta jika ada keluhan segera konsulitasikan kepada dokter. []