SUDAH puluhan purnama perempuan itu terpisah dengan anaknya. Selama itu pula, rindunya menjadi semak, menjadi tempat persembunyian perasaan yang bernama kesepian. Dan ia tidak pernah menyangka, akan tiba pada hari di mana ia bisa memangkas semak itu. Padahal ia sudah seperti tidak punya harapan terhadap anaknya.
Perempuan itu patut berterima kasih kepada suaminya sendiri, yang telah mempertemukan dirinya dengan darah dagingnya. Beberapa bulan sejak perempuan itu melahirkan anaknya, ia harus terpisah, tubuhnya ditelan jurang akibat pukulan mematikan seorang pendekar kepercayaan Prabu Jayakatwang—ketika itu pendekar itu bersama dengan beberapa prajurit. Sementara itu anaknya, Ayu Wandira dibawa pergi Panji Ketawang, yang tidak lain adalah keponakan suaminya. Memang sebelum pendekar dari Kediri itu datang dengannya adu kesaktian, perempuan itu telah menyuruh Panji Ketawang untuk pergi dengan membawa Ayu Wandira—ia sudah mengetahui kalau ada segerombol orang dari kerajaan yang datang menuju kediamannya.
Ia hampir tidak bisa diselamatkan, untungnya ada seorang tabib yang menemukan dirinya, kemudian perempuan itu diobati. Sang Hyang Widi menunjukkan kekuasaannya, perempuan itu sembuh meski di lengan kirinya menyisakan bekas lingkaran berwarna hitam akibat pukulan pendekar itu.
Kala ia jatuh ke jurang, Nini Ragarunting dan Kaki Tamparoang menolong Ayu Wandira dan Panji Ketawang. Mereka mengamankan Ayu Wandira dan Panji Ketawang. Semula perempuan itu tidak yakin kedua anak kecil itu akan selamat dari kejaran prajurit-prajurit yang mencoba menangkap mereka. Hal paling buruk yang terjadi adalah keduanya mati.
Adapun, suami perempuan itu sempat mempunyai dugaan kalau ia telah tiada. Tetapi di tengah dugaan itu terselip keraguan. Ia tetap mencari, ditemani seorang pendekar yang jatuh cinta padanya; Sakawuni. Gadis itu menemani pujaan hatinya mencari perempuan itu dengan penuh kecemburuan. Pada akhirnya, lelaki itu putus asa karena tidak kunjung menemukan dan menerima Sakawuni. Ia menikahi Sakawuni.
“Aku memang sedikit menyesalkan kepergianmu waktu itu, Kakang,” kata perempuan itu dalam hatinya, sembari memeluk anaknya yang telah kembali padanya. “Tapi rasanya tidak adil, bila aku mencegah keinginanmu untuk mengabdikan diri kepada Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana.”
Sebelum perempuan itu melahirkan anak yang kini ada dipelukannya, ia sempat bersusah payah membelah hutan-hutan untuk menghindari kejaran antek Prabu Jayakatwang—perempuan itu menjadi buronan kerajaan Kediri—dengan dibantu Nini Ragarunting dan Kaki Tamparoang. Kedua orang itu pulalah yang kemudian mempertemukan dengan suaminya. Suaminya membawa keponakannya—ia yang merawat Panji Ketawang, mereka hidup bersama di lereng Gunung Arjuna—tempat itu pada awalnya dianggap aman—hingga suatu hari suaminya meminta izin untuk pergi ke istana Majapahit. Walau berat, perempuan itu melepaskan kepergian suaminya.
“Andai saja waktu itu kau tidak pergi, tentu hatimu tidak harus dibagi. Kuakui aku membohongi diriku sendiri, berpura-pura menerima keadaan di hadapanmu, dan seolah aku tidak membutuhkan kehadiranmu di depan Sakawuni,” kata perempuan itu dalam hati.
Sebelum lelaki itu kembali meninggalkannya setelah menyerahkan Ayu Wandira padanya, masih terngiang jelas bagaimana kereta kuda yang membawa Sakawuni, Nini Ragarunting, Panji Ketawang, dan Ayu Wandira memasuki halaman kediamannya. Suami perempuan itu datang lebih dulu dibandingkan mereka—tiba di pondokannya pada malam hari. Kedatangannya memastikan keadaan perempuan itu karena menurut laporan dari Ra Tanca—tabib istana Majapahit atau adik angkat perempuan itu—istrinya hendak dibunuh oleh orang-orang Majapahit akibat tak mau menerima penghargaan dari Prabu Kertarajasa Jayawardhana, sebab telah menyembuhkan Sang Baginda.
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, perempuan itu sama sekali tidak mengharapkan kehadiran mereka. Pada saat suaminya menyongsong kedatangan mereka, ia berdiri di depan pintu, dengan gejolak di dadanya. Perempuan itu menganggap, kehadiran mereka telah mengganggu prosesi melepas rindu kepada suaminya. Namun, perempuan itu tidak ingin api cemburu kian terang di wajahnya yang kuning langsat, apalagi sampai diketahui Nini Ragarunting, orang yang telah berjasa besar padanya.
Perempuan itu terpaksa menyapa Sakawuni, lalu memeluknya penuh kehampaan. Suaminya menggendong Ayu Wandira. Perempuan itu beralih ke sisi kiri suaminya. Sakawuni masih bertahan di tempat, tangan kanannya memegang perutnya yang membuncit. Melihat apa yang dilakukan Sakawuni, perempuan itu menunduk lalu mengalihkan pandang ke anak kecil yang berada dalam penguasaan suaminya.
“Ayu, ini biyungmu,” kata suami perempuan itu. Kalimat yang diucapkan suaminya terasa lembut di telinga perempuan itu. Sakawuni tersenyum ke arah Ayu Wandira.
“Biyung Ayu seorang pendekar?” ucap Ayu Wandira dengan nada bicara mengundang kegemasan. Suami perempuan itu mengangguk-angguk.
“Benar, kamu mau melihat biyungmu terbang, Ayu?” sahut Nini Ragarunting yang sedang menurunkan barang bawaan, lalu terkekeh.
“Benar begitu?” tanya Ayu Wandira, pertanyaan itu ditujukan kepada perempuan itu. Tentu saja perempuan itu mengiyakan dengan manggut-manggut. Suami perempuan itu memindahkan Ayu Wandira dari gendongannya. Perempuan itu menerima Ayu Wandira dengan perasaan yang tidak bisa diwakilkan dengan kata-kata.
Perempuan itu memutuskan untuk tetap bertahan di kediamannya, ketimbang mengikuti rombongan suaminya yang kembali ke Majapahit. Perempuan itu tidak ingin kebahagiaan yang sedang menyelimutinya pudar gegara kehadiran Sakawuni. Walau Sakawuni sudah bilang dengan baik-baik padanya; ia tidak akan cemburu apabila perempuan itu ikut kembali ke Majapahit, perempuan itu tetap teguh pada pendiriannya.
Bertunas sisi buruknya dalam hati, ia ingin mengenyahkan Sakawuni dari sisi suaminya. Ia mengajak Sakawuni ke sebuah tempat, tanpa sepengetahuan siapa pun, dan berkata berterus terang kalau ia sangat tidak suka dengan kehadirannya di hidup suaminya. Kemudian ia bertarung habis-habisan melawan pendekar lengan seribu itu. Perempuan itu sadar, kalau Sakawuni bukan pendekar sembarangan. Namun ia punya keyakinan, kalau ia bisa mengalahkannya. Perempuan itu tidak mau melenyapkan Sakawuni dengan cara licik, sebagaimana Dwipangga—kakak suaminya—yang memperdaya dirinya dengan memberikan pelet, hingga kemudian menghasilkan Ayu Wandira.
“Oh, Dewata mengapa hidupku dipenuhi penderitaan? Sekalinya aku mendapat kebahagiaan, Kau selalu turunkan pula masalah di dalamnya. Mengapa Kau hadirkan Sakawuni di dalam hidupku?”
Perempuan itu pendekar berhati lembut. Ia suka menolong sesama, apalagi setelah ia memutuskan menjadi seorang tabib dan mengganti namanya menjadi Nyai Paricara. Hari-harinya ia isi dengan aktivitas yang berguna untuk orang lain, seakan tidak luput satu hari pun. Terkadang saking sibuknya, ia pernah ambruk pingsan di ruang kerjanya yang dipenuhi mangkok-mangkok dan bahan obat-obatan dari hutan.
“Tapi apakah aku mau mengingkari janjiku sendiri? Aku sudah berjanji tidak akan berurusan dengan dunia persilatan, kecuali dalam keadaan sangat mendesak.”
Sosok Sakawuni hadir di hadapannya. Ia melepaskan Ayu Wandira dari pelukannya. Ia ingin berdiri dan memukul wajah Sakawuni. Ada yang meletup-letup dari dalam dadanya. Kemudian wajah itu berubah menjadi Kamandanu. Ia tersenyum kepada perempuan itu dan seolah mengatakan, tidak pantas kau membenci Sakawuni. Perempuan itu mengibaskan wajahnya.
“Ada apa, Biyung?”
“Tidak apa-apa. Sudah sore, Ayu, sebaiknya kamu segera mandi. Nanti setelah itu kamu membantu ibu untuk membuat ramuan.”
Memang jika dipikir-pikir ada benarnya, setiap orang berhak mencintai seseorang, seperti dirinya yang mencintai suaminya. Perempuan itu tidak punya hak sama sekali menyalahkan Sakawuni. Perempuan itu juga tidak punya hak menyalahkan suaminya yang mengira dirinya telah tewas. Suaminya berhak memilih. Timbul penyesalan di hatinya, telah membayangkan hal-hal keji.
Seharusnya ia tidak menyalahkan siapa pun. Justru seharusnya ia berterima kasih pada Sakawuni, telah menjaga suaminya. Seharusnya ia berterima kasih kepada Dewata masih ada orang yang mau menikahinya, di tengah keadaannya yang kotor, dinodai oleh kakak suaminya sendiri.
Perempuan itu membayangkan, jika tidak ada suaminya. Aibnya tidak mungkin tersamarkan. Tidak ada orang yang sudi dekat dengannya. Mungkin ia tidak menjadi seorang tabib. Mungkin ia sudah mati ditiang gantungan bersama janin yang dikandungnya karena dianggap mata-mata oleh Kerajaan Kediri yang akhirnya runtuh itu—ia selamat berkat suaminya yang tidak lain Kamandanu. Ia kemudian menyesal. Benar-benar menyesal. Ia memanggil-manggil anaknya yang sudah tidak ada di sisinya. Ia ingin kembali memeluk Ayu Wandira.
*Cerpen ini diambil dari serial FTV Tutur Tinular (1997), skenario karya S. Tidjab.

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2021. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018).
Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.
