Ia ingin mengatakan hal itu kepada Kunang di dalam kurungan, tapi terdengar lagi tembang sintren Kunang yang mengurung diri. Seperti suara nestapa dan kesedihan orang terkurung dan terancam suara-suara kematian. Turun-turunlah sintren, sintrennya bidadari, menemu bunga warna-warni, o sintren turunlah. Pelan-pelan kurungan terkuak, dan muncullah Kunang sudah berias dandan layak ronggeng. Menari Kunang dalam tarian gemulai, diiringi tembangnya yang meluluh jauh.
O membayang serasa tak jauh, mayat-mayat korban wabah terbungkus plastik di pinggir jalan. Lalu tarian sintren, adakah gerak dalam sunyi. Sunyi dalam kesedihan, nestapa menunggu giliran. Sampai di mana wabah menjarah nyawa tak pandang sesiapa. Juga peti mayat terbuat dari kardus, menunggu diambil atau dikuburkan. Orang-orang di mana-mana bermasker, menjaga diri, menjaga jarak antara.
Bahkan bukan hanya orang, kota pun disemprot cairan anti virus. Jalan raya, kampung, pasar, perkantoran, rumah ibadah. Akan tetapi jumlah yang sakit dan yang mati terus meningkat. Di negara-negara maju korban lebih banyak, kemudian di negara-negara berkembang. Angin terpana pandang dalam tarian Kunang bagai virus ada tiada, menyepi-nyepi jiwa terlara.
BENARKAH virus itu begitu kecil, bahkan tak kasat mata, batin Angin. Virus Covid namanya. Betapa dalam khayalnya, begitu besar, lebih besar dari dunia, karena kekuasaannya begitu mencekam jagad. Apakah ia semesta yang bangkit maya tapi nyata pandeminya. Seperti yang dirasakannya, inikah cinta, bagian dari maya sang rindu begitu nyata dalam tarian sintren. Kunang yang maya sebagai perempuan entah berentah, tapi serasa nyata dalam rasa.
“Ada apa Angin..,” tanya nyanyi Kunang berhenti menari, gemulai menghampiri Angin.
“Terbalik,” tukas Angin selalu, menyanyikan lagu puisi Umbu Landu Paranggi. Bernyanyi ia, “apa ada angin di Jakarta…” Berdua mereka bernyanyi, “seperti diembus desa melati, apa cintaku bisa lagi cari, akar bukit Wonosari, yang diam di dasar jiwaku, kenangkanlah jua yang celaka, orang usiran kota raya…”
“Kamu mau pulang ke desaku, Angin,” tanya Kunang bersimpuh ke dekat Angin. Senyumnya mengembang melihat Angin mengangguk, lalu membisik, “tapi kita tak boleh mudik.” Dalam jarak sepencium mereka bertatapan bagai saling berita. Lalu desah nyanyi mereka, merampungkan lagu puisi, “pulanglah ke desa, membangun esok hari, kembali ke huma berhati.”
Angin menghela serangkum napas Kunang, “sekarang aku tahu, seperti katamu sintren bisa menjelma bidadari dengan satu syarat masih perawan.”
Tawa Kunang mendecah, “padahal itu tak mungkin untukku.”
“Mungkin.”
“Kok..?”
Bisik angin, “hatimu perawan.”



