Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Waspada! Ini 5 Penyakit yang Rentan Muncul Saat Musim Hujan dan Cara Mencegahnya

Alfin Hidayat
×

Waspada! Ini 5 Penyakit yang Rentan Muncul Saat Musim Hujan dan Cara Mencegahnya

Sebarkan artikel ini
penyakit musim hujan
Ilustrasi

Kenali lima jenis penyakit yang mengintai saat musim hujan tiba agar Anda dan keluarga bisa melakukan langkah pencegahan sejak dini.

BARISAN.CO – Musim hujan bukan hanya membawa perubahan cuaca, tetapi juga meningkatkan risiko sejumlah penyakit. Genangan air, lingkungan yang lembap, hingga banjir dapat menjadi faktor yang memicu penyebaran penyakit. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.

Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027, meski waktunya berbeda di setiap daerah.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat perlu mengenali sejumlah penyakit yang kerap dikaitkan dengan musim hujan. Berikut lima penyakit yang perlu diwaspadai.

1. Demam Berdarah Dengue (DBD)

DBD merupakan salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian saat musim hujan. Penyakit ini disebabkan virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Genangan air di sekitar rumah dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Jika tidak dikendalikan, populasi nyamuk berpotensi meningkat dan memperbesar risiko penularan DBD.

Epidemiolog FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. dr. Citra Indriani, M.P.H., mengingatkan adanya potensi peningkatan kasus DBD saat musim hujan.

Ia menjelaskan bahwa meningkatnya tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dapat mendorong penularan penyakit tersebut.

“Ada potensi peningkatan kasus DBD saat musim hujan. Sebab, saat musim hujan terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti sehingga penularannya juga semakin tinggi,” jelas Citra.

Untuk mencegah DBD, masyarakat perlu menerapkan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air. Upaya tersebut perlu dilengkapi dengan langkah pencegahan gigitan nyamuk.

2. Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit akibat infeksi bakteri Leptospira yang umumnya ditularkan melalui urine hewan terinfeksi, terutama tikus. Bakteri tersebut dapat mencemari air atau tanah, kemudian masuk ke tubuh manusia melalui luka pada kulit maupun selaput lendir.

Risiko penularan meningkat ketika seseorang bersentuhan dengan air banjir, lumpur, atau genangan yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri.

Gejalanya dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan mata kemerahan. Pada kondisi berat, leptospirosis dapat menyebabkan gangguan ginjal, hati, hingga komplikasi yang mengancam jiwa.

Untuk mengurangi risiko penularan, hindari kontak langsung dengan air banjir atau genangan yang diduga tercemar. Gunakan alas kaki dan pelindung saat harus beraktivitas di area tersebut. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala setelah terpapar air banjir.

3. Diare

Diare juga menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai saat musim hujan, terutama ketika terjadi banjir. Air bersih yang tercemar kotoran atau limbah dapat menjadi sumber penyebaran mikroorganisme penyebab infeksi saluran pencernaan.

Konsumsi makanan yang tidak higienis dan kebiasaan tidak mencuci tangan juga dapat meningkatkan risiko diare.

Pencegahannya dapat dilakukan dengan memastikan air minum dan makanan dalam kondisi bersih, mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet, serta menghindari konsumsi makanan yang terkontaminasi air banjir.

Jika mengalami diare, penting untuk menjaga kecukupan cairan tubuh. Segera cari pertolongan medis apabila muncul tanda dehidrasi, diare berat, atau kondisi tidak kunjung membaik.

4. Influenza dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Perubahan cuaca dan aktivitas masyarakat di dalam ruangan dapat turut memengaruhi penyebaran infeksi saluran pernapasan. Influenza dan ISPA termasuk gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai.

Influenza disebabkan virus yang menyerang saluran pernapasan. Penularannya dapat terjadi melalui percikan saluran pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Gejalanya antara lain demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan tubuh terasa lemas.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga daya tahan tubuh, serta menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada di lingkungan berisiko.

5. Penyakit Kulit

Lingkungan yang lembap, pakaian basah, serta kontak dengan air kotor dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan kulit. Beberapa masalah yang dapat muncul antara lain gatal-gatal, iritasi, infeksi jamur, dan infeksi kulit akibat bakteri.

Kondisi tersebut dapat dicegah dengan menjaga kulit tetap bersih dan kering. Segera ganti pakaian yang basah setelah kehujanan, gunakan alas kaki ketika beraktivitas di lingkungan becek, dan hindari kontak langsung dengan air banjir.

Jika muncul ruam, gatal, luka, atau tanda infeksi yang tidak membaik, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

Jaga Kebersihan dan Kenali Gejala Sejak Dini

Meningkatnya risiko penyakit saat musim hujan perlu diantisipasi melalui kebiasaan hidup bersih dan sehat. Masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan rumah, membersihkan saluran air, menghindari genangan, serta memastikan makanan dan air yang dikonsumsi tetap higienis.

Selain itu, istirahat cukup, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan aktivitas fisik secara teratur juga penting untuk menjaga kesehatan tubuh.

Jangan mengabaikan gejala penyakit, terutama demam tinggi, diare berkepanjangan, nyeri otot hebat, atau gangguan pernapasan. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu seseorang memperoleh penanganan yang tepat dan mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius. []