Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Evaluasi Ekonomi Indonesia 2021: Kontribusi UMKM Hingga Sektor Energi

Redaksi
×

Evaluasi Ekonomi Indonesia 2021: Kontribusi UMKM Hingga Sektor Energi

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Ekonom INDEF, Eisha Magfiruha Rachbini dalam evaluasi ekonomi Indonesia 2021 mengatakan peran dan kontribusi UMKM mendominasi struktur unit usaha dimana 99,9% struktur usaha di Indonesia dan berkontribusi terhadap 60,51% GDP serta menyerap 96,9% total lapangan pekerjaan di Indonesia.

“Dilihat dari struktur usaha UMKM terbesar berada di sektor Pertanian (50%), lalu Perdagangan (30%) dan logistik/komunikasi dan industri hanya sekitar 6-7 % saja. Jika dilihat dari sektor usaha masih didominasi oleh sektor Perdagangan (63,5%) namun dari sektor usaha menengah UMKM masih sangat kecil yakni hanya 0,9%,” sambungnya dalam Webinar dengan tema Evaluasi Ekonomi Indonesia 2021 dari Ekonom Milenial INDEF,  Rabu (8/12/2021)

Eisha menambahkan adapun kontribusi usaha mikro dan menengah terhadap GDP masih didominasi oleh sektor perdagangan (47,8%) dan manufacturing (26,8%). sementara sektor jasa lainnya sebesar 20,6%, sementara kontribusi penyerapan terhadap sektor tenaga kerja dari usaha mikro dan menengah masih didominasi oleh sektor perdagangan (54,4%).

Namun meskipun peran sektor usaha mikro dan menengah demikian besar terhadap struktur usaha, GDP maupun penyerapan tenaga kerja, menurut Eisha  UMKM di Indonesia masih banyak sekali mengalami hambatan.

Survei ADB menyebutkan UMKM Indonesia 75% mengalami hambatan di sektor keuangan terutama akses modal pada saat membuka dan menjalankan usahanya, serta dalam cicilan pembayaran.

Pada saat puncak pandemi Covid-19 sebanyak 53,7% usaha kecil menengah di Indonesia mengakui alami penurunan usaha sampai 50%, meski pada gelombang kedua yang mengalami penurunan usaha tinggal 41,5%.

Tetapi 67,77% sektor usaha mikro dan kecil pada puncak serangan mengaku mengalami penurunan usaha yang signifikan. Namun demikian menyadari banyaknya pembatasan usaha pada serangan gelombang 1 dan 2 Covid-19 sebagian UMKM mencoba menyiasati dengan masuk pada ekonomi digital.

Ke depan, Eisha berharap UMKM Indonesia memang harus lebih beradaptasi dengan pandemi, dengan lebih banyak menggunakan jasa ekonomi digital, juga harus naik kelas dan berpartisipasi dalam ekspor dan GVC (Global Value Change).

“UMKM yang menggunakan teknologi digital pada saat pandemi ternyata menerima pendapatan 1,14 kali lebih besar dibandingkan sebelum pandemi,’ terangnya.

Ihwal teknologi digital ini memang harus dimasuki oleh UMKM karena melihat potensi penduduk RI yang saat ini didominasi oleh usia produktif sebesar 191,08 juta penduduk. Sementara connection mobile digunakan oleh 125,6% penduduk dari 345,3 juta jiwa. Sementara data pada Maret 2021 pengguna internet di Indonesia mencapai 212,35 juta jiwa (76,8%).

Imaduddin Abdullah menyoroti tinjauan Covid-19 dan dampaknya terhadap ekonomi dan sektor energi di Indonesia.

“Sektor energi juga mengalami pengaruh signifikan dari pandemi, sama seperti sektor-sektor lain dari pertumbuhan ekonomi suatu negara masa Covid-19. Begitu pula tinjauan stimulus fiskal terhadap sektor energi yang dialami sektor kelistrikan yang masih mampu bertahan dibanding sektor energi lainnya,” tuturnya.

Meskipun angka kasus terpapar telah dapat ditekan dan tingkat vaksinasi di dunia yang telah cukup tinggi di berbagai negara, menurut Imaduddin sektor transportasi global sebagai sektor penting dari pergerakan ekonomi karena penggunaan energi bahan bakar masih terpukul.

“Ditandai dengan sektor penerbangan dunia yang pertumbuhannya masih masih jauh di bawah level sebelum pandemi. Demikian pula tingkat kemacetan yang menurun di berbagai negara. Akibatnya, permintaan terhadap energi di seluruh dunia menjadi terpukul, kecuali di China,” terangnya.

Pemintaan terhadap minyak turun jauh di USA (-11%), Eropa (-13%), OECD (-12,5%), demikian pula permintaan terhadap Batubara di USA ( -19,1%), Eropa (-15,8%) OECD (-15,2%). Juga terhadap energi Gas yang turun di USA (-2,3%), Eropa (-3,1%) dan OECD (-2%).

Penurunan permintaan sektor energi disebutkan paling rendah di masa pandemi sejak perang dunia ke 2. Hal itu juga berdampak pada harga komoditas energi dunia yang mengalami penurunan paling rendah semasa pandemi.

Uniknya setelah melewati masa buruk pandemi, indeks harga komoditas energi dunia pada 2021 melesat jauh ke angka 120 ketimbang sebelum pandemi yang hanya sekitar 80.  

Imaduddin  berharap ke depan, sektor energi masih mengalami tantangan besar terutama dari mutasi virus covid-19 ataupun dari keberadaan vaksinasi yang timpang di berbagai negara.

“Kemudian juga tantangan dari target energy nasional terutama pada bauran energi baru dan terbarukan (EBT) dari 10,5 % (2015) menjadi 23% pada 2025. Tak ketinggalan juga tantangan dari stimulus fiskal yang diberikan pemerintah Indonesia yang cukup besar terhadap sektor lain, tetapi hanya sedikit terhadap sektor energi khususnya EBT,” tegasnya.

Sementara itu, Riza Annisa Pujarama menyampaikan mobilisasi penerimaan dapat berjalan dengan pembenahan sistem perpajakan.

Menurut Riza  berlakunya Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) seperti naiknya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) akan turut meningkatkan rasio perpajakan.

Tax ratio Indonesia rendah dan terus mengalami penurunan. Berisiko atau tidaknya lonjakan utang tetap mempunyai risiko. Hal itu mengingat kemampuan pajak kita rendah,” pungkasnya. (Luk)